Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yang Menari di Secangkir Kopi

pixabay.com
Ilustrasi: pixabay.com


Kepulan asap kopi hitam menguarkan aroma yang sangat khas. Menggoda Duvieta untuk segera menyeruput kopinya. 

Secangkir kopi hangat buatan Sahae, suami tercinta memang belum ada tandingannya. Ia yakin bahwa Sahae mengucapkan jampi tertentu saat mengaduk kopi hingga terasa sungguh lezat. Duvieta percaya hal itu sebab tak ada yang istimewa dengan kopi hitam bergambar kapal laut yang laku keras di pasaran.

Berkali-kali Duvieta mencoba membuat kopi selezat buatan Sahae, selalu saja gagal. Kadang terlampau manis atau malah pahit sekali. Akhirnya ia harus menyerah dan mengakui Sahae memang juara dalam meracik kopi sederhana terasa semewah buatan hotel berbintang atau Kafe Roemah Coffee yang terkenal.

Ingatan Duvieta melayang saat pertama kali Sahae mengajaknya pergi ke Roemah Coffee. Pertemuan ketiga kali saat baru jadian.

“Kau belum pernah ke sini? tanya Sahae penasaran. Tatapan mata setajam Burung Bald Eagle membuat perasaan Duvieta tak karuan. Untung saja seulas senyum simpul hadir di bibir tipis Sahae. Membuatnya nyaman dan percaya diri. Waktu itu ia hanya menggelengkan kepala. 

“Kau coba kopi hitam di sini. Terbaik!” seru Sahae sembari mengacungkan jempol memuji kafe favoritnya. 

Perasaan Duvieta melambung saat Sahae juga memuji lesung pipit dan bola matanya yang indah. Sahae menginginkan untuk menatap mata Duvieta sesering mungkin. Ia berjanji akan datang bersama kedua orangtuanya untuk melamar.

Itu pertama dan terakhir kali Duvieta berkunjung ke Kafe Roemah Coffee, setelah tahu Sahae bisa meracik kopi lebih lezat tak ada keinginannya untuk kembali ke sana. Selain jaraknya jauh, kantong mereka bisa terkuras lebih cepat bila sering-sering ngopi di tempat itu.

Dua hari ini Sahae pergi ke luar kota. Duvieta terpaksa membuat kopi sendiri. Satu setengah sendok gula dan satu sendok kopi hitam diseduh air mendidih. Sempurna.

“Duhai kopiku, kuaduk dirimu dengan kasih sayang. Lezatlah rasamu kini,” gumam Duvieta. Ia berharap doanya menjadi nyata.

Perlahan Duvieta menyeruput kopi panas hasil racikannya bersama doa agar terasa nikmat. Ajaib, pada tegukan pertama rasa lezatnya sama persis dengan buatan Sahae. Diminumnya kopi sedikit demi sedikit hingga malam tiba masih tersisa setengah cangkir. Biasanya dalam satu hari sudah minum cangkir ketiga.

Entah mengapa rasanya sayang untuk menghabiskannya. Kopi dalam cangkir putih pualam bergambar bunga Mawar ungu masih tersisa hingga fajar merekah.

Saat Duvieta hendak meminum sisa kopi, tiga ekor semut hitam mengapung. Untung saja ia sempat memeriksa dengan ujung mata yang masih menahan kantuk. 

Satu semut hitam sebesar biji wijen bergerak-gerak. Masih hidup. Semut itu memang terlihat paling kuat bertahan dalam kopi dingin buatannya siang tadi. Ia seakan sedang menari-nari agar tak tenggelam.

“Hai, kau diam saja? Tidakkah kau iba? Ayo tolong angkat aku sekarang. Aku hampir kehabisan nafas,” ujar semut kecil itu sembari menggapai pinggiran cangkir.

Duvieta kaget bukan kepalang, ia tak percaya sang semut bicara padanya. Dengan satu gerakan cepat menyodorkan telunjuknya dan mengangkat makhluk mungil itu segera.

“Terima kasih,” ujar sang semut lembut. Ia tak beranjak dari jari Duvieta.  

Duvieta masih tak percaya binatang yang selama ini selalu membuatnya gelisah itu bicara. Apa karena doanya agar kopi terasa lezat sampai-sampai semut-semut itu berebut meminum dan rela mati di dalamnya.

Seakan tahu keheranan Duvieta sang semut berkata, “Memang benar teman-temanku telah tergoda kopi buatanmu. Aku mencegah mereka dan berusaha menolong. Hanya saja tubuhku terlalu ringkih.”

“Kami bisa mendengar bisikan doamu, Tuhan berkenan memberi pemahaman atas doamu tadi siang,” sahut semut kecil dengan nada penuh kesungguhan.

“Aku pun berdoa agar Tuhan membuatmu bisa mendengar,” lanjut semut kecil yang masih berdiam di ujung jari Duvieta.

“Ta… tapi, apakah ini sebuah halusinasi?” tanya Duvieta terbata.

“Hehehe… coba cubit saja pipimu sedikit, kalau sakit itu artinya kau tak bermimpi atau berhalusinasi,” timpal semut sambil menggerak-gerakkan antena kecilnya.

Duvieta mencubit pipinya dan mengaduh. Benar, terasa sakit. Artinya ia masih waras dan kejadian ini sebuah anugerah dari Sang Pencipta semesta.

“Sebenarnya aku telah lama memerhatikan kamu, kau sering membasmi teman-temanku tanpa ampun,” imbuh sang semut penuh kesedihan.

Duvieta terhenyak, ia tak bermaksud untuk membasmi seluruh serangga yang berkeliaran di kebun dan halaman rumahnya.  Bila kebetulan ada rombangan semut sedang melintas dan terlihat olehnya, rasa gemas menjalar, kakinya lantas menginjak sekumpulan semut dan membuat mereka bubar.

Sekali Duvieta pernah membakar habis sarang semut yang terletak tak jauh dari pohon Mangga kesayangannya. Ia jadi ingat pernah bermimpi buruk setelah itu. 

Dalam mimpi ia didatangi ratu semut yang protes keras karena anak-anaknya mati terbakar. Kata-kata terakhir sang ratu bahwa dirinya kelak akan mendengar setiap jeritan semut yang berada di dekatnya.

“Patut kau ketahui, pernah satu waktu kau membiarkan aku pergi hingga selamat dari kematian. Saat itu kakimu hendak menginjakku tetapi, kau membatalkannya,” terang semut kecil membuat ingat Duvieta.

Lain Duvieta lain Sahae. Sahae Penyayang binatang. Ia sering melarang Duvieta ketika hendak membakar semut-semut yang ada di kebun. Tapi saat itu Duvieta benar-benar kalap. Seekor semut merayap ke betis dan menggigitnya sampai terlihat bentolan merah. Pedih dan gatal.

Sahae sering menasehati Duvieta agar sadar bahwa semua binatang adalah makhluk Tuhan. Serangga kecil pun punya takdirnya sendiri untuk hidup. 

Sahae bahkan menerangkan makhluk komunal seperti semut memiliki manfaat sebagai pengusir hama alami, buah tertentu seperti biji Kakao. 

Spesies semut di seluruh dunia mencapai duabelas ribu jenis, baru dikenali sekira 7.600 macam saja. Semut hitam yang sering di temukan di rumah dan di kebun ternyata berbeda spesies.

Sahae juga bahkan hafal nama latin tujuh jenis semut yang paling sering ditemui. Dolichoderus thoracicus Smith, spesies semut hitam yang sering ditemukan Duvieta bergerombol di beberapa tempat. 

Devieta hafal betul jika Sahae sudah mendaraskan puluhan kalimat nasehat, Sahae lantas memeluknya erat dan mendaratkan kecupan hangat. Begitu romantis.

Satu hal yang sangat disukai Sahae terhadap istrinya bahwa Duvieta bersedia menjadi seorang ibu rumah tangga yang membesarkan kedua anak mereka dengan baik. 

Duvieta meskipun seorang sarjana lulusan terbaik di universitas negeri ternama, punya banyak talenta. Bahkan ia pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat nasional, memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang bersedia mengerjakan tetek bengek urusan rumah tanpa ditolong pembantu.

Sahae menghargai segenap pengorbanan karir istrinya yang kini sangat jarang bisa ia temui pada wanita-wanita mandiri zaman now. Duvieta terharu, Sahae paham apa yang sudah dikorbankan olehnya demi suami terkasih.

Seakan setuju dengan apa yang dipikirkan Duvieta, semut kecil kembali merayap mendekati cangkir putih pualam. Ia menunjuk tiga sahabatnya yang terapung dalam kopi.

“Lihatlah Duvieta, kami makhluk lemah. Hidup mati hanyalah memenuhi takdir-Nya. Kadang kami menjadi ujian bagi manusia,” ujar semut kecil mulai bergerak lincah. Tubuhnya kini telah kering dan terasa ringan.

“Apa tak ada perasaan menyesal ditakdirkan untuk menjadi semut yang lemah? Bukankah lebih hebat untuk menjadi seekor Harimau misalnya,” tanya Duvieta terpukau.

Ia memang juara kelas, juara nasional dan banyak sekali pengakuan yang didapatkan olehnya. Namun, semut kecil hitam ini masih jauh lebih bijaksana dari dirinya.

“Justru manusia yang seharusnya sering menyesal. Karena ada tuntutan setelah kematian,” sergah semut.

“Jadi menurutmu lebih mudah rasanya menjadi hewan daripada menjadi manusia?”

“Benar,” ujar semut kecil yakin.

“Apalagi saat kematian tiba, seperti para sahabatku itu, mereka kelak akan dibangkitkan lalu dijadikan rata dengan tanah. Tak ada yang harus dipertanggungjawabkan.”

Duvieta mulai cemas apa yang menjadi bekalnya kelak. Dosanya untuk satu urusan dengan makhluk Tuhannya saja masih bingung membayarnya dengan apa.

“Tak usah khawatir, caramu mengorbankan karir itu sudah jadi pahala yang berlipat. Semoga Allah mengampuni,” doa semut kecil tulus. Manibula yang mirip capit kepiting itu bergerak-gerak seirama antena. 

Tangis Duvieta pecah, makhluk renik yang dianggap mengganggu hidupnya ternyata sangat peduli pada dirinya. Ia berjanji bila Sahae pulang nanti ia akan coba menjadi penyayang binatang. 

Duvieta bertekad akan tularkan sifat penyayang Sahae pada Sahdu Nebula dan Duvhae Nebula, anak kembar mereka yang baru berusia tiga tahun.

Ah, baru dua hari saja ditinggal Sahae rindunya telah menggunung. Setumpuk doa penuh cinta Duvieta panjatkan semenjana. 

8 November 2020


Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

8 komentar untuk "Yang Menari di Secangkir Kopi"

  1. Wooow...keren. Terbuai membaca alur dan konfliknya

    BalasHapus
  2. Sebuah pembelajaran yang sangat menarik dalam suguhan pagi. Bagaimana kita menata hidup laksana secangkir kopi dengan pahit manis srbagaimana racikannya..tapi harus tetap dinikmati dalam nikmat tanpa kepura-puraan.

    BalasHapus
  3. Pembelajaran buat kita jangan merenehkan hal sekecil apapun atsu siapapun
    Ternyata hal bijak bisa datang darisesiatul yang kita anggap sebagai duri

    BalasHapus
  4. Selalu keren☺️πŸ‘ ada banyak cara untuk menikmati secangkir kopi dan secangkir kopi selalu memberi inspirasi☺️ mari ☕☕

    BalasHapus
  5. Mantap mba DesπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus

Berlangganan via Email