Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

“Weirdo”


                                                Credit : Sharon McCutcheon/unsplash.com

Aku berjalan sendirian melewati lorong yang kosong itu. Hanya kesunyian yang menemaniku. Kelas demi kelas kulalui, aku memang tak punya urusan di sini. Pernah aku menjadi mahasiswa di kampus ini, tapi tidak lama. Itu saja!

Hidup memang bukan apa-apa, apalagi soal cinta! Jangankan kekasih, ada yang mau menegurku saja sudah syukur! Sekalipun ada, mereka selalu melakukannya dengan nada mengejek. 

Tak punya teman dan depresi. Hidupku memang penuh warna. Hanya saja variasi warna gelap yang menghiasi.

Kedua orang tuaku mati terbunuh karena tabrak lari ketika aku masih kecil. Aku menghabiskan dua tahun pertama hidupku mencintai keduanya, tahun-tahun berikutnya hanya bisa merindukan dan mengharapkan mereka.

Bukan hanya sampai disitu. Tidak ada seorangpun yang bersedia mengadopsiku. Baru beberapa minggu lalu ada yang sudi mengadopsi. Tapi aku tidak yakin berapa lama mereka akan betah menjadi orang tuaku.

Banyak yang bilang aku ‘weirdo’. Atau mungkin karena mereka terlalu ketakutan. Lagian,siapa pula yang mau mengadopsi anak mahasiswa yang depresi? Aku sudah tahu jawaban itu. Tidak ada!

Aku selalu menunggu. Menunggu saat yang tepat. Entah kapan, tapi aku mempunyai firasat sebentar lagi momentum itu akan datang. Lebih cepat dari yang aku harapkan, dari yang siapapun harapkan.

Ah, sepertinya ini efek samping dari perasaan yang teraduk-aduk, antara kehilangan kedua orang tua yang benar-benar mencintaiku dan gadis yang kucintai tapi mem-bullyku, juga efek samping dari ... depresi.

Usiaku dua puluh tahun. Selama delapan belas tahun aku hidup tanpa cinta dan selama itu pula hidupku digelayuti oleh ketakutan akan sesuatu yang kudamba. Cinta. Ketakutan akan kehilangannya. 

Sesaat kudengar suara orang berbisik-bisik di ujung lorong. Dari kelas dimana seharusnya aku ada di dalamnya. Kubuka sedikit pintu kelas itu. Mengintip, penasaran ingin tahu sedang apa mereka.

Tidak terlihat dosen di sana. Semuanya sibuk bicara. Seperti biasa, tak ada yang memperhatikanku.

Tiba-tiba tanpa sepengetahuanku seseorang menarik gagang pintu dari dalam. Pintu menyeruak lebar. Aku terpental masuk ke dalam kelas.

Sontak semua pembicaraan terhenti digantikan oleh riuh tawa menggelegar seisi kelas. Larik-larik ejekan itu seperti ombak yang bergulung-gulung menelanku ke dalam lautan. 

“Si Weirdo udah masuk lagi!” Sayup kudengar teriakan itu dari kerumunan. 

Bagai bom waktu yang mulai berdetak, aku cuma punya beberapa detik. Tidak banyak. Suhu tubuhku meninggi dan badanku bergetar. 

Aku tak dapat mendengar apa-apa lagi kecuali detak jantungku yang berdegup kencang. Tanganku memastikan kalau tasku masih tergantung di sana. Di bahuku. Sementara pandanganku hanya tertuju pada lantai tempat dimana aku tersungkur.

Lima.

Gegap gempita ejekan-ejekan itu terdengar dari kejauhan. Detak jantungku semakin keras. Semua tidak terasa nyata. Seperti mimpi.

Empat.

kumasukkan tangan kanan ke dalam tas. Apa yang kucari ada di sana. Telapakku menggenggamnya dengan kencang, sementara badanku mencoba untuk berdiri. Hitungan waktu seakan membentuk sorakan di benakku.

Tiga.

Aku merasa kerdil, terhuyung-huyung. Gadis di depanku adalah orang yang membuka pintu itu, untuk mempermalukanku. Sosok yang selama ini aku cintai dan aju rindukan itu, membenciku. Ia selalu ada di sana. Merasa dirinya paling ‘ter’. Penampilan, kecerdasan, popularitas. Semuanya! Dialah gadis yang memulai “bully” ini.

Dua.

Kuberanikan diri menjauhi pandangan dari lantai menuju ke atas. Matanya dan mataku saling bertemu. Cinta dan benci. Gadis itu mulai berbicara. Kalimat yang sama seperti yang sudah-sudah. “Ngapain lo disini, weirdo?” Aku tersenyum kepadanya untuk pertama kalinya. Tak berkata-kata.

Satu.

Kubuka genggaman tanganku di dalam tas. Kuurungkan niatku semula dan dengan cepat kucari lagi barang lainnya di sana, kukeluarkan dan langsung kuarahkan bagian tajam ke arahnya. “Nggak ngapa-ngapain!” Jawabku. Tetiba kulihat sorot ketakutan di matanya. Sama seperti ketakutan yang aku jalani selama delapan belas tahun terakhir ini. Tapi saat ini aku merasa yang paling ‘ter’

Kuhunus belati itu di lehernya. Seolah dalam slow motion kejadian ini terjadi terasa lama, meski sebenarnya hanya dalam hitungan detik.

Warna merah kental mengalir dari lehernya. Ejekan dan tawa itu tak lagi kudengar. Tak ada seorangpun yang bergerak. Benda tajam itu kini kuarahkan kepadaku. 

Untuk terakhir kalinya kuarahkan pandangan ke orang-orang sekelilingku, aku berharap mereka melihat inilah hasil dari “bully” itu, disaat yang bersamaan aku ingin membuktikan bahwa aku mencintainya dan rela mati bersamanya. 

Kugenggam erat gagang belati itu dan kuhunuskan ujungnya kuat-kuat ke dadaku. Tapi sepertinya nyaliku tidak cukup kuat untuk itu. 

“Kreeeek!”

Aku terbangun! Dernyitan pintu telah membuyarkan tidurku. Sayup-sayup kudengar suara yang tak awam lagi di telingaku.

“Sekarang saatnya minum obat, weirdo!” 


Widz Stoops, November, 28  2020 - USA 











7 komentar untuk "“Weirdo”"

  1. Barusan baca di sebelah, kan tayang di skb dg judul berbeda.

    Masih penasaran, apa nama gangguan psikologi tokoh 'weirdo' ini yaa, mbak Widz?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi mba Ayra, ‘weirdo’ itu berasal dari kata weird bahasa inggris yang artinya aneh. Orang yang bertingkah laku aneh diberi julukan ejekan ‘weirdo’. Tokoh di sini mengalami depresi mental karena background dy yg trauma ditinggal mati orang tuanya, karena kecelakaan tabrak lari saat ia umur 2 tahun.

      Hapus
  2. Makin keren aja nih👍 yuk ☕☕😁

    BalasHapus