Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Valentino Rossi Kecelakaan


Valentino Rossi Kecelakaan

Tepat hari Rabu tanggal 18 November 2020. Kecelakaan terjadi di flyover Cileungsi. Valentino Rossi pulang malam sekitar jam sepuluh. Jalanan sepi tidak ada orang lewat.

Dia melewati lobang sehingga terjadi kecelakaan. Aku perkirakan  dia pasti kencang. Seperti biasa jiwa muda melekat di dadanya. Lari seratus bahkan aku di belakangnya dikirain batu. Seringkali bila dibonceng aku tutup mata dan berdoa agar selamat di perjalanan. Serasa terbang tuh naik motor, seperti kuda unicorn. Bayangkan bagaimana kecepatannya. Malah kadang aku sering cubit tuh perut. 

"Hati-hati Pa. Mama masih ingin hidup."

Nah itu kisahnya kenapa aku menjulukinya Valentino Rossi. 
Sesampainya di rumah dia sudah tertatih-tatih.
"Ma, aku kecelakaan," dengan suara lemah dan wajah meringis.
"Terus bagaimana, apa yang kena? Tadi ada yang menolongkah?"
"Jalanan sepi, aku berusaha sendiri, tangan kanan dan kaki kanan sakit dan lecet. Tapi anehnya motor tidak apa-apa hanya kaca spionnya saja longgar.

"Makanya, Mama sudah sering ingatkan jangan kencang-kencang bawa motornya, pasti Papa kencang makanya tidak bisa dihindari bila ada lobang."
"Kok dimarahi lagi Papa sudah kesakitan."
"Ya udah, mandi dulu, nanti habis mandi Mama bersihkan lukanya."

Aku membersihkan lukanya dengan obat seandanya, persediaan obat p3k di rumah sudah lama habis. Akhirnya aku hanya mengolesinya minyak Karo. Keesokan harinya, Valentino Rossi masih keras kepala. Tetap berangkat kerja dengan kondisi luka seperti itu. Pulang-pulang meringis luka-lukanya tambah sakit. Masih saja keras kepala tidak mau berobat ke dokter.
Sampai hari Minggu, aku sudah mengompres dengan air hangat ketika malamnya dia tidak bisa tidur. Lukanya belum kering tapi lumayan bengkaknya berkurang. 

Dengan daya upaya aku tetap membujuknya agar berobat ke dokter, untuk berobat aku masih ada uang. Daripada nanti tambah parah infeksi. Dengan menenangkan hatinya akhirnya bisa tuh aku bawa ke klinik. 
Sudah empat hari menahan sakit. Mulutku ngoceh terus sepanjang jalan kenangan.

"Lain kali jangan seperti ini Pa,"

"Mama doain aku jatuh lagi,"

"Bukan didoain tapi bila terjadi sakit atau apa lagi jangan bertahan di rumah, segera ke dokter. Kalau penyakit dibiarkan tidak diobati akan muncul penyakit yang lain."
"Ok,  Mama sayang."

Akhirnya sakitnya mulai berkurang, kekhawatiranku juga berkurang, sehat selalu ya belahan jiwaku. Tetaplah menjadi pria yang tangguh.
 


1 komentar untuk "Valentino Rossi Kecelakaan"

Berlangganan via Email