Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semesta Bekerja Secara Rahasia

Foto: static.sederet.com

Seorang wanita tua, yang dipanggil Daeng Sanging, dulunya mempunyai tujuh orang anak. Tiga laki-laki dan empat perempuan. Semuanya masih kecil-kecil karena rentang di antaranya hanya dua tahun. Jadilah rumah itu ramai oleh suara anak-anak. Riuh berisik dan menyenangkan.

Daeng Sanging adalah wanita kuat yang gemar bekerja dan sangat penyayang kepada suaminya. Di desa seperti itu, jangan dibayangkan pekerjaan kantoran atau semacamnya yang enak-enak. Melainkan pekerjaan membelah kayu dari pohon-pohon besar, atau mengumpulkan pasir di sungai untuk dijual.

Suami Daeng Sanging juga seorang pekerja keras. Ia tak terlalu banyak bicara, tetapi sangat sayang kepada anak-anaknya.

Tahun demi tahun berlalu. Tepatnya sudah puluhan tahun lamanya. Anak-anak mereka beranjak dewasa dan menikah satu demi satu. Sebagian dari mereka ada yang merantau ke luar pulau, ada pula yang menetap di dalam kota, dan Rumbaya satu-satunya anak yang masih serumah dengan orang tuanya, meski sudah enam belas tahun berumah tangga.

Tak ada yang salah. Semua anak Daeng Sanging sangat sayang pada kedua orang tuanya. Kapan saja mereka ada waktu, pasti mengunjungi orang tuanya, dengan ataupun tanpa membawa oleh-oleh. Yang penting bisa memupus kerinduan ibu dan ayah yang sudah melahirkan dan merawat mereka sedari kecil. 

Seperti halnya si anak bungsu yang baru saja memberi cucu ke17. Terkadang baru dua hari yang lalu berkunjung, sudah menampakkan hidungnya lagi bersama istri dan anaknya yang masih berusia hitungan bulan.

Atau Eci, anak perempuan yang baru dua tahun  menikah dan belum dikaruniai momongan, seminggu sekali rutin datang bersama suaminya dengan sejumlah belanjaan dari pasar. Eci pula lah yang menyerahkan sebagian hidupnya untuk merawat Daeng Sanging yang mulai menua dan sakit-sakitan saat itu. Syukurlah wanita tua itu sudah pula sehat sentosa sekarang.

Oya, seorang anak tertua Daeng Sanging yang merantau sepuluh tahun lamanya, yang biasanya hanya sesekali pulang kampung selama dua minggu, suatu waktu justru pulang membawa istri dan ketiga anaknya, selama dua tahun lamanya sebelum kembali lagi ke perantauan. Setidaknya tangis wanita tua itu sejenak berganti rasa bahagia, bisa bertemu kembali dengan anak yang dia bangga-banggakan. Bonus bisa bertemu ketiga cucu yang selama ini hanya terdengar suaranya di ujung telepon.

Selintas kehidupan mereka tampak biasa dan sama saja dengan keluarga-keluarga lain yang beranak-pinak, tumbuh berkembang dan saling menyayangi.

Seperti saat Suria, anak kedua mereka terpuruk dalam permasalahan rumah tangga serta himpitan ekonomi, orang tua dan saudara-saudaranya bahu-membahu memberikan bantuan. Sampai pada kelahiran putrinya yang ketiga, Suria bangkit dan meraih nasib baiknya kembali. Untuk kemudian membantu apapun yang dibutuhkan orang tua dan saudara-saudaranya saat itu.

Benar-benar tak ada yang istimewa.

Sampai pada suatu hari, tersiarlah kabar bahwa Daeng Sanging kembali jatuh sakit. Dan bisa dibayangkan kepanikan dalam keluarga besar ini.

Mereka tau, penyakit diabetes mempunyai reputasi tidak baik untuk penderitanya. Ditambah penyakit jantung serta stroke  yang melumpuhkan anggota gerak ibu mereka beberapa tahun terakhir.

Sebagai tanda bakti, anak-anak Daeng Sanging berlomba-lomba merawat ibu mereka selama di rumah sakit. Tak satupun di antara mereka yang ingin kehilangan surganya. Sedang anak tertua yang saat itu tidak bisa pulang, mengirimkan sejumlah uang sekedar pembeli obat.

Kenangan-kenangan bersama sang ibu, berputar-putar di kepala mereka begitu rupa. Bagaimana ibu mereka telah menjelma menjadi sosok pahlawan dalam hidup anak-anaknya, terutama saat sang suami tak dapat mencari nafkah setelah mengalami patah kaki, dua tahun lamanya. 

Ibu mereka adalah juga sosok bidadari tanpa sayap. Seorang penyayang dan sabar meski jumlah mereka ada tujuh, dengan rentang waktu dua tahun saja. Istilah mereka menyebutnya susun piring. Daeng Sanging tetap bersikap lembut dan bijak dalam mendidik anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Baginya anak-anak adalah harta di masa depan, yang akan melafazkan doa-doa saat dirinya tiada. Setidaknya demikianlah doa wanita tua di sepertiga malam, waktu itu.

Sebulan lebih, Daeng Sanging dirawat di rumah sakit, dengan sedikit perkembangan saja. Akhirnya dokter menyarankan pasien dirawat jalan dengan jadwal kontrol seminggu dua kali.

Entah perasaan lega, karena ibu mereka sudah pulang lagi ke rumah, atau justru cemas karena di rumah tak mempunyai fasilitas apa-apa seperti selang infus, stetoskop dan sebagainya, kecuali anak-anak yang begitu menyayangi dan mencintai.

Rupanya, nasib baik sedang tak berpihak pada keluarga ini. Awan kelabu telah diperintahkan untuk hadir di tengah mereka dengan santun.

Sebulan menjalani rawat jalan, tubuh wanita tua Daeng Sanging tampak kian menyusut dan lemah. Ia mulai kehilangan selera makan dan lebih banyak tidur.

Tak banyak yang ia inginkan saat itu. Bibirnya seringkali memanggil anak tertua nun jauh di perantauan yang belum juga muncul. Tak mudah memang untuk pulang pada masa PSBB seperti sekarang, apalagi lintas pulau.

Pada malam itu, langit dipenuhi bintang-bintang. 

Dari atas kursi rodanya, wanita tua sempat menatap dari teras rumahnya, keindahan semesta untuk terakhir kalinya. Menantu laki-lakinya lalu mendorongnya pelan, masuk ke dalam rumah. 

"Sudah cukup, Mak...Jangan terlalu lama, kami takut mamak masuk angin..." bujuk sang menantu lembut di telinganya. Lalu membaringkan wanita tua dengan sebuah selimut lembut pula.

"Mamak istirahat..." bisiknya penuh takzim.

Keesokan pagi, Rumbaya sudah lama bergelut di dapur menyiapkan bahan jualannya seperti biasa. Dialah yang merawat sang ibu, saat saudara-saudaranya yang lain hanya bisa datang agak siang. Lalu sorenya pulang lagi ke rumah tangganya masing-masing.

Seperti biasa, Rumbaya kemudian muncul dari arah dapur, dengan semangkuk bubur hangat dan obat dokter untuk jadwal pagi. Wajahnya yang lelah, berusaha menyungging senyum terbaik di hadapan wanita yang sangat dicintainya. 

Tapi tidak. Senyum itu tak berlangsung lama, segera berganti jerit kepanikan dan histeris memecah.

Sang ibu telah pergi untuk selamanya, tanpa minta diantar anak-anaknya yang telah ia besarkan dengan sepenuh hati. Bahkan Daeng Sanging meninggalkan suami yang begitu dicintainya, tanpa tatapan terakhir yang meruntuhkan hati. 

Rumbaya menangis mengeluh dan menggerung. Baru saja subuh tadi ia melihat sang ibu ikut bangun, sebelum ia berlalu ke dapur.

Itukah kebersamaan mereka yang terakhir?


*Semoga engkau pulang dengan ridho, dan diridhoi, mamak.


Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

6 komentar untuk "Semesta Bekerja Secara Rahasia"

  1. Balasan
    1. Alhamdulillah... Terima kasih Pak War...😊🙏

      Hapus
  2. Trenyuh, kehilangan ibu. Tetapi kebersamaan keluarga itu patut diacungi jempol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Pak Budi. Semoga anak-anak akan selalu mengingat jasa-jasa orang tuanya...😊

      Hapus