Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Semangat Secangkir Milky Latte

 

Foto: dokpri

Seperti biasa, sepagi ini aku sudah mengaduk-aduk milky latte, sekedar untuk menyamankan tenggorokan. Denting suara sendok beradu perlahan dengan dinding cangkir kaca. Aku berharap ketiga anakku tak terganggu dan lalu terbangun. Aku butuh waktu pribadi untuk berkelana di atas layar ponsel. Sebelum bel masuk dapur berdentang tentunya.

Dulu semasa kecil, peraturan pertama dari ibuku adalah tidak boleh menekan tombol on pada televisi, melainkan harus menikmati hijaunya dedaunan di halaman. Menikmati segarnya embun di atas daun pisang. Satu lembar, dua lembar rasanya tak cukup untuk kuusapkan di kedua pipiku. Aku sangat menikmatinya.

Kini ibu sudah tiada. Aku pun sudah tak perlu mengikut komando ibu lagi. Selain karena aku justru menjadi komandan bagi ketiga anakku, daun-daun pisang yang dibasahi embun pagi pun, sekarang sulit ditemukan di sekitar sini. Kami tinggal di dataran luas berpasir, yang tidak mungkin bisa menghidupi pohon-pohon kebun, termasuk pisang. Apalagi aku sedang gandrung dengan aksara a sampai z. Sedang nikmat-nikmatnya menuangkan imajinasi.

Aku memang agak berubah akhir-akhir ini. Sengaja kuakui pula di depan anak pertama dan keduaku. Bahwa ibu mereka saat ini sedang berusaha membantu orang lain. Persis seperti secangkir milky latte yang membantu menghangatkan perut yang keroncongan saat bangun tidur. Membantu sejuta kosakata meluncur dengan mudah.

Apakah aku bahagia? Jawabannya in syaa Allahiya.

Niat semacam ini sudah lama membatu. Hanya bedanya, dulu berangkat dari kecintaan pada dunia pustaka, tetapi kali ini lebih karena empati dan ingin menemani.

Ingat saat aku berada pada titik terendah dan membutuhkan banyak sekali masukan serta pencerahan dari orang-orang yang berpengalaman? Lagi pula, kegiatan seperti ini mungkin hanya tumben. Akan berbeda seratus delapan puluh derajat saat anak-anak sudah aktif sekolah lagi. Kemungkinannya seperti itu.

Aku menyeruput milky latte yang sudah berangsur hangat. Hmm...nikmat sekali.

Ketiga anakku tampak masih pulas. Suara hujan di atap rumah terdengar semakin riuh. Aku merapatkan selimut si bungsu. Berharap tidurnya tak terganggu oleh cuaca dingin.

Mungkin karena sudah merasa tua, aku tak terlalu menerapkan disiplin. Soal bangun pagi bertatap-tatapan dengan sinar dari layar ponsel, apalagi aktifitas makan yang katanya butuh tiga kali dalam sehari.

Beberapa minggu yang lalu aku bahkan sempat drop alias tepar akibat seringnya telat makan. Mau tak mau kemudian kuikuti saran suami untuk mengobatinya dengan ekstrak kunyit dan sedikit madu. Alhamdulillah kondisiku membaik di hari ketiga, dan dua minggu kemudian aku merasa sudah pantas mengkonsumsi buah dengan vitamin C tinggi, kesukaanku. Dan masih banyak lagi daftar indisipliner yang apabila dibuat runut, akan mendapatkan check list tentunya.

Aku melirik penunjuk waktu di dinding. Sudah tiga puluh menit lebih. 

Itu artinya aku harus memenuhi panggilan dari arah dapur. Maklum jabatan sebagai emak teramat mulia untuk dikesampingkan. Setidaknya menurutku.

Aku segera menutup semua aplilasi terpakai, lalu bangkit menyimpan ponsel dalam keadaan terhubung charger.

Tak lupa aku menghabiskan milky latte  yang tersisa. Hmm...

Semangatt... waktunya melayani keluarga dengan bahan dan bumbu dapur yang ada. Untuk kemudian menyulapnya menjadi menu-menu sederhana kesukaan.

❤ u my family

Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

4 komentar untuk "Semangat Secangkir Milky Latte"

  1. Seorang Ibu yang sungguh luar biasa... Menghargai bahkan setiap titik dalam kehidupan. Embun pagi, udara segar dan serangkaian aturan mencintai sekeliling serta diri sendiri, betapa kaya jiwa sang ibu.

    Pasti Mbak Ayra akan sangat merindukannya.

    Tulisan inspiratif...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merindukan, dan juga merasa bersalah bu Desi...

      Terima kasih sudah membaca🙏

      Hapus