Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Secangkir Kopi yang Tak Pernah Ada

Foto: cdn.pixabay.com

Secangkir kopi mungkin sebuah simbol bagi penikmatnya. Bagaimana hidup ini mempunyai dua elemen rasa: pahit dan manis. 

Lalu mungkin juga sebuah penyemangat. Dengan hadirnya secangkir kopi, pekerjaan akan berjalan dan mengalir. 

Mungkin juga sebuah mitos yang bercokol di kepala. Manakala engkau menginginkannya namun tak kesampaian, engkau akan celaka.

Aku sama sekali tak suka kopi, seperti yang selalu kau minum. Kopi hitam yang diseduh panas-panas, lalu uapnya mengepul mengikuti adukan sendok di dasar cangkir. 

Aku juga tak perduli tentang kualitas kopi terbaik, dan racikan Barista dalam cangkir-cangkir mewah.

Apakah karena aku mencintaimu, aku akan mengenal dan mencintai kopi juga?

Bagaimana kalau aku tak mau?

Apakah engkau akan mengambil seluruh cintamu, lalu membawanya pergi??

Sudah dua puluh lima hari, aku mencari jawaban pertanyaan ini.

Aku tetap tak menemukan jawabannya, dan tak kuasa memilih engkau dan kopi, atau tidak sama sekali.

"Bodohnya...itu hanya sebuah kopi...kenapa dengan kopi??" seru Nana.

"Kalau tak bisa menahan bau kopi, berarti dia untuk gadis lain..." timpal Albe.

"Kalau aku jadi kau, aku akan belajar mencintai kopi, dan suatu hari menikmatinya bersama-sama.." saran Meike.

Sudah hari ke dua puluh delapan. Aku belum juga mengatakan iya. 

Aku masih digelayuti rasa bimbang. Apakah aku tidak benar-benar jatuh cinta padamu? Hanya karena senyummu saja?

Ah, tidak. Aku tau aku mencintaimu. 

Tapi secangkir kopi yang diseduh panas-panas itu berbeda.

Baunya akan menyesakkan rongga dadaku, dan ruangan akan penuh dengan bau kopi. Aku akan kesulitan bernafas.

Bagaimana aku akan menjadi istrimu?

Pada hari ke tiga puluh, aku memberimu kata iya, yang kau dan keluargamu tunggu.

Aku mematut di depan cermin. Menatap kebaya ungu muda nan mewah. Seronce melati di gelung rambut hitamku, mengharumkan seluruh isi kamar. 

Aku akan jadi istrimu, menyukai apa yang kau sukai, dan membenci apa yang kau benci. Itu adalah janji.

"Cindy...!!!" mama memekik, setelah pintu dilemparkan. Mataku melotot, urat wajahku tak kalah tegang dari mama.

"Sayang...."

Aku semakin bingung. Mengapa mama memeluk tiba-tiba dan menangis. Ada apa?

"Kita ke rumah sakit, nak Rio kecelakaan, mobilnya menabrak kontainer..."

"Ayo nak...!!" mama menarikku.

Entah berapa lama aku tergugu, sementara yang lainnya terisak dan menangis.

Apa artinya aku tak akan jadi istrimu? Kita batal menikah?

Pipiku menghangat, dua bulir melewatinya, menetes di atas kebaya ungu muda.

Kini, secangkir kopi itu tak akan pernah ada. Aku tak harus meraciknya, karena kau juga tak akan pernah meminumnya.

Selamat jalan, mas Rio...


*selesai


Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

Posting Komentar untuk "Secangkir Kopi yang Tak Pernah Ada"

Berlangganan via Email