Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sampai Jumpa Lagi, Sea World!

Fira melihat dua bus wisata besar sudah parkir di pinggir jalan besar seberang panti asuhan.

Dia memasukkan mobilnya ke dalam panti asuhan dan segera setelah turun dari mobil langsung disambut teriakan-teriakan yang memanggil namanya.

Anak yang sudah remaja memanggilnya dengan sebutan “Kak” dan anak-anak yang lebih kecil memanggilnya dengan “Tante”.

Fira menyambangi anak-anak itu, menerima salim dari mereka, lalu menyapa Bu Zubaidah yang baru saja menaruh tikar ke dekat yang disandarkan ke tiang.

“Tikar untuk apa, Bu?” tanya Fira.

“Buat lesehan kalo pegel jalan-jalan, Neng,” jawab Bu Zubaidah yang lalu bergegas mengambil tikar kedua.

“Kita tidak perlu tikar, Bu, semua sudah diurus Keumala. Kalau ada yang capek, ingin istirahat, makan, dan salat sudah ada tempatnya,” tukas Fira

“Lagipula kalau bawa tikar akan merepotkan harus bawa kesana-kemari. Semua sudah diurus. Ibu tinggal menikmati rekreasinya saja.”

“Yang bener, Neng?!” Bu Zubaidah ragu.

Fira mengangguk cepat. Dia membantu Bu Zubaidah mengembalikan tikar ke dalam rumah.

Waktu menunjukkan pukul delapan. Keumala meminta anak-anak panti asuhan untuk berbaris untuk bersiap berangkat. Para anak buah Keumala berdiri di samping barisan guna mendampingi mereka naik ke bus.

Pada mulanya Fira ingin event organizer (EO) milik Keumala membawa banyak orang untuk mengawasi dan menjaga anak-anak, tapi Ali meyakinkan Fira bahwa orang tua dan dua adik perempuannya sudah biasa menjaga anak-anak itu. 

“Lagipula, ada Cing Tika dan Cang Ervan juga, sudah cukup,” timpal Ali saat itu.

Tapi Fira bersikeras bahwa Keumala harus membawa banyak kru supaya Pak Yusuf sekeluarga bisa ikut menikmati rekreasi.

Alhasil sebagai jalan tengah, Keumala, si pemilik EO, membawa lima anak buahnya dari sepuluh orang yang diminta Fira, untuk mengawasi delapan puluh anak-anak panti.

Event organizer yang dikelola Keumala sebenarnya masih setengah profesional karena manajemennya masih diurus Keumala seorang diri. Anak buah Keumala yang adalah teman-teman kuliahnya juga masih diupah secara lepasan.

Keumala adalah pemenang dari acara mencetak enterpreneur yang digagas kementerian pariwisata dimana Fira jadi salah satu jurinya. Fira adalah klien ketiga Keumala.

Fira memperhatikan anak-anak kecil naik lebih dulu ke bus pertama dan menyusul anak-anak yang lebih tua naik ke bus kedua.

“Kak Fira mau bawa mobil atau ikut bus?” tanya Keumala.

“Saya ikut di bus dua,” jawabnya.

Semua sudah masuk bus dan bergeraklah bus itu dari arah Jalan Kapten Tendean ke arah Jalan Gatot Subroto untuk kemudian masuk ke jalan tol dalam kota.

Satu jam kemudian, bus sampai di Sea World yang ada di kompleks Taman Impian Jaya Ancol.

Meski ribut dan sangat berisik, tapi anak-anak panti itu tertib masuk tanpa berebut satu sama lain.

Dua anak kecil berusia 5 dan 6 tahun menangis saat memasuki terowongan akuarium karena mengira mereka akan dimakan ikan.

Bang Ali menggendong mereka sambil memegang kaca dan meyakinkan kalau mereka ada di dalam akuarium raksasa. Bang Ali melambaikan tangan saat pari besar melintas diatas kepala mereka. Dua anak itu lalu tertawa.

Fira melihat kejadian itu dan seketika senyum di bibirnya mengembang. Kagum pada kesabaran Ali mengatasi anak-anak kecil yang ketakutan. Nampak dimatanya Ali sangat menyukai anak kecil.

Pak Yusuf membantu Bu Zubaidah berdiri di conveyor belt supaya tidak lelah berjalan. Bu Zubaidah kerap bergidik saat beberapa hiu mendekat ke arah mereka. Beberapa saat kemudian Bu Zubaidah memberanikan diri memegang kaca akuarium. Bu Zubaidah segera meminta Pak Yusuf mengambil fotonya yang sedang tersenyum lebar menghadap ke arah kura-kura yang melintas diatas kepala mereka.

Setelah puas melihat-lihat di akuarium, rombongan dibagi dua. Anak-anak yang kecil melihat ke kolam-kolam mini. Sebagian dari mereka memegang bintang laut, sebagian lagi ada di kolam penyu, dan sisanya melihat kolam kepiting. 

istockphoto.com

Anak-anak remaja dipersilahkan melihat ke area tempat akuarium pesut, piranha, dan ikan-ikan hias berada. Sesekali mereka diminta tertawa karena kru EO akan memfoto mereka.

Makan siang disajikan pukul dua belas di kafetaria dengan menu sayuran, tuna goreng, dan puding. Beberapa remaja menolak makan dengan alasan tidak lapar. Lagi-lagi Ali membujuk mereka lalu lahaplah mereka menyantap hidangan itu.

Tak terasa pukul lima sore datang dan tiba waktunya mereka pulang. Keumala dan anak buahnya menghitung mereka satu-persatu sebelum bus keluar meninggalkan area Ancol.

Saat perjalanan anak-anak tidak lagi diminta menyanyi seperti saat berangkat. Mereka hanya dibagikan bingkisan berisi kaos dan alat tulis lalu dibiarkan beraktivitas sendiri di dalam bus.

Fira masih ada di panti asuhan saat Keumala dan anak buahnya pulang. Dia berbincang sebentar dengan Pak Yusuf, Bu Zubaidah, Cang Ervan serta Cing Tika. Semua anak sudah masuk ke kamar mereka.

Tak lama kemudian Fira pamit pulang.

“Terima kasih, Fira. Semoga semua yang kamu lakukan untuk panti asuhan ini jadi amal ibadahmu. Mohon maaf kalau kami selalu membuatmu repot. Jangan kapok main kesini, ya,” kata Ali saat mengantar Fira ke mobil.

“Bang Ali formal banget, sih, hehee!” Fira sebenarnya agak grogi karena baru kali ini bicara hanya berdua dengan Bang Ali.

“Saya sama sekali tidak merasa repot. Malah makin happy sejak kenal dengan anak-anak disini,” tambah Fira.

“Kamu belum punya pacar?” tanya Ali yang dirasa Fira sangat pribadi.

Fira menggeleng, “Abang kok tahu?”

“Karena kalau sudah punya pacar mungkin kamu tidak akan mau repot-repot mengajak anak-anak ke Sea World dan memberi mereka hadiah macam-macam.”

“Kan, semua diurus Keumala jadi Fira sama sekali tidak repot,” jawab Fira bertambah grogi hatinya.

Ali tidak menjawab dan hanya tertawa.

“Kalaupun punya pacar pasti bukan yang seperti saya ini, ya,” ujar Yusuf.

Fira tertawa lepas, “Siapa yang jadi jodoh kita kelak, manalah kita tahu, Bang,” Fira merasa jawabannya aneh sekaligus merasa sudah saatnya pamit.

“Saya pamit dulu ya, Bang. Sudah malam,”

Ali mengangguk, “Hati-hati ya, Fira.”

Ali membukakan pintu mobil untuk Fira dan menutupnya saat Fira sudah didalam.

Fira membunyikan klakson pelan tanda pamit seraya melajukan mobilnya keluar pagar panti. Mobil sedannya membelah malam dengan pelan.

Bang Ali memang baik. Siapa perempuan tidak suka pada lelaki tekun, saleh, dan penyayang anak. Fira juga suka padanya. Sekedar suka saja, tidak ingin lebih dari suka.



Cang: Paman (bahasa Betawi)
Cing: Tante (bahasa Betawi)

11 komentar untuk "Sampai Jumpa Lagi, Sea World!"

  1. Nebeng ah ke Sea World, mbak Yana 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk lah, Pak, rame2 se-SKB 🤭🤭

      Hapus
  2. Waduuuh, di akhir ceritanya itu yang bikin gimana bacanya, hehehe... selamat malam mbak Yana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bacanya kyk makan bakso apa gado2, Mas, hahah!

      Hapus
  3. Ajari aku dong Bu😭😭

    BalasHapus
  4. Nice and good article , please also visit my blog
    7 Income Ideas
    Android Smartphone Friendly Price

    Thank's for sharing mr.

    BalasHapus

Berlangganan via Email