Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Revolusi Akhlak Nirakal

 

Revolusi Akhlak  Tanpa Akal

Miris menyaksikan seputaran kedatangan dan kisah Rizieq Shihab. Bagaimana kebohongan dan argumentasi ngaco dikedepankan dan banyak yang menganggap itu sebagai sebuah kebenaran. Berteriak-teriak revolusi akhlak, namun apakah sudah lebih baik apa yang dikatakan akhlak mereka dari pada publik? Beberapa hal ini, tampaknya memberikan gambaran bagaimana akhlak atau moral mereka ini.

Pertama, niradab, ketika mau mengatakan biadab terlalu kasar dan sarkastik. Lihat saja aturan universal, publik mereka porak porandakan. Jalan tol dipakai untuk jalan kaki, parkir, dan jika ditegur sangat mungkin akan melakukan pengeroyokan, atau tindakan anarkhis lanjutan.  Bagaimana mau merevolusi ketika perilakunya saja lebih buruk dari pada umumnya?

Kedua, aturan universal lain yang ditabrak adalah, berdiri di tempat yang tidak semestinya. Lihat saja berapa banyak photo berseliweran di lini massa media sosial, mereka menghancurkan taman yang indah, dan tentu juga  perlu beaya lagi. Padahal orang waras tidak akan menginjak tanaman, rumput yang indah dan tertata rapi.

Ketiga, aturan lain yang dilanggar, berkerumun di bandara, berapa banyak kerugian Angkasa Pura, maskapai penderbangan, dan itu ada di gerbang negara, ibukota negara, akan berbeda jika di puncak gunung sana. Merusak iya, mana merevolusi, degradasi iya, bukannya naik level.

Keempat, merusak, ciri khas anak-anak, bukan pribadi dewasa. Lagi dan lagi, mereka merusak apa saja yang sekiranya baik. Ini sih sudah keterlaluan. Membangun itu tidak gampang dan tidak murah. Kebiasaan yang berulang kali terjadi. Lagi-lagi ini ciri orang tidak memiliki adab. Kembalicek sendiri bagaimana kerusakan bandara, bangku untuk duduk dipakai berjalan dan berlari??

Kelima, berpolemik soal istilah yang ujung-ujungnya rasionalisasi. Bagaimana tidak, ayat kita suci saja mereka tafsirkan seenak udelnya, apalagi istilah teknis, hukum, keimigrasian. Deportasi, pengusiran karena sudah tinggal lebih dari izin kunjungan, diklaim sebagai surat izin keluar. Lha memang ada izin keluar? Kalau masuk iya, tetapi mau keluar ya silakan. Izin berarti ada masalah di sana.

Keenam. Mau menuntut siapa saja yang mengatakan ia overstay, semua juga tahu, izin tinggal apalagi visa ibadah berab waktunya. Mengapa begitu ngotot dan merasa benar. Jelas-jelas salh kog, ada dokumen yang jelas terbaca dengan gamblang. Begitu kog mau memperbaiki keadaan.

Ketujuh, ada hadiah pesawat dari raja Kerajan Saudi Arabia. Lha faktanya naik pesawat kelas ekonomi. Ke mana pesawat hadiahnya? Antara halu atau oon tidak lagi jelas. Bagaimana orang-orang demikian hidup dan mau memperbaiki keadaan? Padahal mereka sendiri saja kacau tidak karuan.

Kedelapan.  Membawa anak-anak di tengah aksi seperti itu. Benar ini bukan acara  politik dan demo, namun keberadaan mereka apalagi di tengah pandemi, bisa sangat rentan untuk menjadi korban. Pembelajaran di depan mata, bagaimana merusak, melanggar hukum orang normal, dan seterusnya itu benar bagi mereka. Miris, anak-anak diajarkan dengan contoh secara langsung.

Kesembilan, di tengah pandemi, namun melakukan kegiatan yang jauh dari kata manfaat. Jauh lebih baik dan lebih berfaedah melakukan aktivitas produktif lainnya. Entah jika  itu adalah profesi, atau pekerjaannya hanya menerima bayaran untuk aksi-aksi yang tidak jelas. Jika demikian, susah mau omong apa.

Kesepuluh, mana revolusi akhlaknya, ketika aksi mereka membuat macet jalan, merusak taman, mematika tanaman yang indah, merusak fasilitas umum, dan menyengsarakan orang yang mau bekerja dan beraktivitas.

Memperbaiki keadaan itu tidak perlu merugikan pihak lain. Contoh, mau membantu tetangga yang kelaparan namun maling punya saudaranya. Membantunya baik, namun nyolongnya salah. Mintalah pada saudara itu dan katakan mau digunakan untuk membantu tetangga yang kelaparan. Itu baru benar.

Moral atau akhlak itu motivasi baik dan benar, cara yang dipakai baik dan benar, dan pada akhirnya hasilnya juga diharapkan akan baik dan benar. Jika prosesnya saja ngaco, apalagi motivasinya yang ngasal, mana bisa berharap pada hasil akhir yang baik dan benar.

Akhlak baik itu bukan klaim namun pengakuan dan penghagaan dari pihak lain kepada yang dianggap baik dan benar. Sederhana kog akhlak yang baik itu, satu, adanya satu kesatuan antara kata dan perbuatan. Bagaimana mengaku orang baik ketika munafikun, tukang memutarbalikan fakta, atau mereduksi berita demi kepentingan sendiri.

Dua, sikap bertanggung jawab. Lagi-lagi ini hal yang sederhana. Berani berbuat ya siap akan tanggung jawab atas risiko yang terjadi. Tidak lari atau mencari kambing hitam dan malah menuding pihak lain sebagai pelaku kejahatannya.

Tiga, adil, orang susah adil, ketika ia sendiri selalu merasa menjadi korban ketidakadilan. Ada yang salah, keliru, dan itu bisa kelainan ketika selalu merasa mendapatkan ketidakadilan. Sesederhana itu.

Empat, taat aturan, tetapi bukan berarti legalis, menaati aturan demi penghormatan kepada kebebasan sesamanya yang tidak boleh dilanggar. Prinsip yang sederhana bukan?

Apa yang tersebut di atas, jika dilakukan dengan semestinya, harapan akhlak menjadi baik dengan sendirinya terjadi. Tidak perlu ribut dan ribet. Mulai dari diri sendiri.

 

Salam Kasih

Susy Haryawan

 

 

7 komentar untuk "Revolusi Akhlak Nirakal"