Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Poros Rizieq-JK-Anies Baswedan, dan Potensinya

 

Poros Rizieq-JK-Anies dan Potensinya

Sebuah majalah  telah menyajikan artikel akan adanya poros Rizieq-JK-Anies Baswedan. Membaca dengan kacamata saat ini tentu saja. Ketiganya saat ini sedang bopeng dengan kotoran karena kesalahan protap covid-19. Rizieq jelas sebagai pelaku utama, penyelenggara kegiatan dan kemudian pesta pernikahan.

Anies Baswedan adalah kepala daerah, penanggung jawab perizinan dan segala aturan mengenai penanggulangan covid. Rekor angka penularan lebih dari 1500 per hari jelas masalah serius. Upayanya jelas nol besar sebagaimana narasi selama ini ia lakukan dan jalankan. Ini masalah besar, bukan sepele. Gelombang kemarahan dan penolakan bukan tidak mungkin bisa membuatnya dalam kondisi tidak baik untuk menjadi apa saja.

JK, Caplin dan labeling ia pendana Rizieq sudah banyak dikuliti netizen. Susah payah ia membantah melalui jubirnya, toh pernyataannya jelas kebalikan dari nalar umum. Pujian pada Rizieq sekaligus kritik pada pemerintahan. Bantahan jubirnya mentah dan bahkan mental langsung. Susah melihat ia tidak terlibat di dalam kepulangan Rizieq dan agenda yang mungkin terjadi.

Masa jabatan pemerintah baru setahun lebih sebulan, artinya pemerintahan masih akan berlangsung hampir empat tahun, masih banyak hal bisa terjadi. Belum lagi dengan keadaan pandemi yang belum pasti ke mana arahnya. Segala kemungkinan bisa terjadi. Terlalu dini sebenarnya untuk membuat “deklarasi” politik mulai sekarang.

Antisipasi pihak lain, sebagaimana mau kawan atau lawan jelas juga sudah berhitung, ancang-ancang, dan mulai memetakan keadaan. Terlalu jauh jika sudah menyatakan bahwa mereka akan datang dengan satu paket ini. Beberapa hal laik dilihat;

Parpol pengusung sulit terpetakan sekian jauhnya. Hal yang tentu perlu ongkos untuk tetap memberikan daya agar si calon itu tetap pada posisi paling tenar. Hal yang tentu saja sangat mahal. Mengerikan jika demikian, sangat mungkin ketika berkuasa hanya fokus mengembalikan modal.

Dukungan parpol jelas lebih cenderung kepada kader, minimal simpatisan yang telah mereka kenal dan tentu saja menjadi pendulang suara dan jaminan keberlangsungan partai dalam segala artinya. Padahal ketiganya ini adalah petualang politik semua. Rizieq bahkan bukan pemain politik, meskipun praktisi dalam seluruh dinamika acaranya.

Posisi Anies Baswedan sebagai gubernur lagi babak belur. Penanganan covid dijadikan panggung perlawanan sengit kepada pemerintah pusat. Ini hanya kristalisasi pemilih dan pendukung  fanatisnya yang sudah jelas tidak akan pindah ke mana-mana. Malah membuat  makin anti pati dari pemilih lain, potensial dari pemilih mengambang pun sangat kecil.

Lihat perolehan suara Prabowo-Sandi di Jakarta sebenarnya jelas peta di sana seperti apa. Latar belakang politik identitas yang sempat menang, tidak lagi bisa dipakai. Lepas dari Ahoknya yang memang ngaco di mana-mana kala itu. Artinya,  konteksnya berbeda, namun cara yang mau digunakan sama.

Pembangunan yang mundur di Jakarta itu pemuas hasrat pribadi Anies bukan cara politis untuk menapaki jalan lebih tinggi. Dia seolah puas mempermalukan Jokowi-Ahok, tetapi dampak lebih gede, kerusakan itu tidak bisa menjadikannya suara bagi tahapan lain yang ia maui.

Pilkada 22, ada atau tidak, sama saja bagi Anies Baswedan. Ada menang, masih lumayan, ada kalah, habis, tidak ada dan ia tidak punya panggung, harganya sangat tinggi untuk membuatnya bertahan di posisi seperti saat ini. Media sosial itu tidak gratis, perlu operator yang sangat mahal.

Setali tiga uang dengan Rizieq Shihab, tenar sih iya, tetapi mau memilih menjadikannya pemimpin? Belum tentu. Irisan suara pendukung fanatis mereka sama. Artinya, tidak ada penambahan angka signifikan yang cukup untuk banyak hal.

Penolakan demi penolakan, kini seolah menjadi bola salju yang meliar. Ungkapan-ungkapan agitasinya telah menjadikannya malah kini musuh publik. Belum lagi pandemi yang membuatnya menjadi tertuduh yang luar biasa. Sikap penolakan pemeriksaan covid bukan menambah amunisi baik, malah makin menukik.

Penyisiran baliho mempertunjukkan keadaanya makin loyo. Ujaran dan deskredit pada TNI bukan menambah nilai baik bagi mereka, malah sebaliknya. Keadaan tidak ada yang baik untuk menjadi jaminan level nasional.

Permusuhan yang sengaja atau tidak pun telah membuat banyak pihak antipada Rizieq dan kawan-kawan. Genderang perang pada Nikita juga membuktikan hal demikian. Plus para pendukung yang cenderung ngaco dan menebarkan kejengkelan.

Posisi JK dengan isu Caplin ini juga tidak mudah dihilangkan. Lebih menguat biang rusuh tersemat. Hal yang merugikan dalam banyak segi untuk menjadi president maker. Upaya membantah penyandang dana Rizieq gagal dengan pernyataannya menyalahkan pemerintah dan membela Rizieq. Jelas artinya apa.

Terlalu jauh untuk menciptakan capre-cawapres dan cara-cara membangun branding. Malah bisa rontok di tengah jalan. Lihat beberapa hari ke depan, jika narasi mereka malah membuat blunder seperti selama ini, ya jelas ke mana masa depan mereka bertiga.

Salam Kasih

Susy Haryawan

 

1 komentar untuk "Poros Rizieq-JK-Anies Baswedan, dan Potensinya"