Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penulis Kacangan (Bagian Empat-Tamat)

pixabay.com

Sebelumnya

Pelukan penuh kehangatan sebelum berpisah membuat dada mereka dipenuhi rasa bahagia yang membuncah. Biarlah pandemi bercokol, Bawegi yakin Tuhan masih melindungi mereka yang berjalan dalam relnya. Saling menolong dan membukakan pintu kebahagiaan semoga menolak kesengsaraan.

Berkat Muntho penulis kacangan yang membawa rasa penasaran Bawegi. Hubungan dua sahabat semakin erat.

Dalam dua hari, Hazlan yang belum paham benar apa tujuan Kang Bawegi mencari tahu soal penulis cerpen yang bernama Muncha benar-benar bertindak seperti seorang detektif.

Hazlan bahkan mengontak pemimpin redaksi Pelita Pagi untuk mendapatkan informasi hingga akhirnya ia dipersilakan untuk langsung menemui Kalina Sawatara yang bertanggung jawab dalam soal pemilihan cerpen.

Cukup mudah baginya untuk masuk dan menemui kantor redaksi yang kini terasa kian lengang. Berbekal nama Bawegi Daim semua orang seakan tersihir untuk berlomba-lomba memenangkan hati Hazlan.

Hazlan hafal betul, bila ada cerpen buatan Kang Bawegi di sebuah surat kabar atau majalah menjadi sebuah prestise bagi mereka. Bawegi begitu dicintai penggemar fanatiknya hingga kadang media cetak yang berhasil membawa namanya akan melejit oplah penjualannya.

Setelah melalui protokol kesehatan yang cukup ketat akhirnya Hazlan bisa bertemu dengan sang editor.

“Bu Kalina, perkenalkan saya Hazlan,” sapa Hazlan sembari mengatupkan kedua tangannya di dada tanda sopan santun. 

Ruangan luas dengan ventilasi yang terbuka lebar membuat udara dalam kantor terasa segar. Tidak ada AC yang menyala namun, ruangan ini terasa adem.

“Oh iya, tadi Pak Rustamand sudah menjelaskan maksud kedatangan Bapak ke sini,” jawab Kalina santun sambil mempersilakan Hazlan untuk duduk di sofa berwarna broken white yang nyaman.

Kalina melepaskan maskernya, ia pun mempersilakan Hazlan membuka maskernya agar pembicaraan mereka jauh lebih nyaman. 

Saat Kalina melepaskan masker, seraut wajah mirip Sarinah mendadak terbayang di benaknya. Hanya saja Kalina jauh lebih anggun dan nampak cerdas.

“Kenapa Pak Hazlan? Ada yang salah?” tegur Kalina kikuk.

“Ehm, tidak apa-apa, hanya wajah Anda mengingatkan saya pada seseorang,” timpal Hazlan tak kalah kikuk.

“Ah, Kak Sarinah? Begitu maksud Pak Hazlan?”

“Oh, Bu Kalina kenal? Anda mirip sekali,” tukas Hazlan.

“Kami memang kakak beradik, Sarinah kakak nomor dua. Kami tiga bersaudara,” jawab Kalina diiringi senyuman simpul.

“Tadi Pak Hazlan kemari karena membawa nama Kang Bawegi jadi Pak Rustamand langsung meminta saya yang menerima Bapak,” terang Kalina.

“Kang Bawegi yang membuat saya bisa bekerja di sini,” ujar Kalina berterus terang. 

Hazlan mengangguk-angguk tanda paham. Tapi yang mengherankan mengapa Kang Bawegi tidak bertanya langsung pada Kalina. Mudah saja kan kalau ia menelpon dan meminta keterangan soal Muncha.

“Saya sudah lama tak jumpa dengan Kang Bawegi, Kak Sarinah mewanti-wanti agar saya jangan merepotkan suaminya dengan alasan apapun. Makanya kami jarang saling kontak”.

“Pak Hazlan sendiri sudah berapa lama mengenal Kang Bawegi?” tanya Kalina penasaran.

“Saya mengenal Kang Baw sejak masih di kelas empat SD. Kang Baw kelas tiga SMA waktu itu. Kami bertetangga dekat sebelum Kang Baw pindah,” imbuh Hazlan menerawang. Ia mengenang kembali sosok Bawegi yang nampak nyentrik dan berambut gondrong sejak dulu. Rambut gondrong memang sedang tren dan belum dilarang waktu itu.

Kedekatan dengan Kang Bawegi berawal dari membantunya menerjemahkan buku yang dikarangnya ke dalam Bahasa Inggris setelah itu banyak tugas yang diminta Kang Bawegi yang membuat Hazlan sering bertatap muka. Namun, setelah Hazlan menikah ia mulai mengurangi intensitas pertemuan menjadi sebulan sekali.

Sebelum zuhur, informasi yang dibutuhkan Hazlan sudah lengkap ditambah bonus bahwa kakak Kalina, Sarinah sedang mengandung enam bulan. Hazlan tahu, informasi tentang kehamilan Sarinah bukan konsumsi publik. Kang Bawegi sengaja merahasiakan istrinya agar privasinya tidak terganggu.

Hazlan hafal betul, Kang Bawegi sadar bahwa Sarinah sangat lugu, untuk menghadapi berbagai gangguan media sepertinya tak akan siap. Usia mereka terpaut 24 tahun, Sarinah baru berumur 25 tahun. 

Tepat kepala lima nanti kelak Bawegi punya anak kedua. Bukan hal yang mudah menjaga keluarga tetap utuh di tengah gempuran media dan godaan penggemar fanatiknya. Hazlan rasa Kang Bawegi sengaja hidup terpisah dengan Sarinah karena alasan itu.

Setelah mengucapkan terima kasih Hazlan langsung menuju rumah Kang Bawegi. Informasi yang dinanti-nanti ini pasti mengejutkannya.

Hazlan langsung mengontak Bawegi lewat whatsapp chat.

[Salam]

[Kang sudah ada informasinya.] 

[Tunggu saya]

[Otw]

Dalam waktu kurang dari satu jam, Hazlan sudah sampai di depan gerbang rumah Kang Bawegi. Romiy, satpam bertubuh tinggi tegap berwajah mirip aktor Ari Sihashale membukakan pintu pagar. 

Hazlan meluncur masuk bersama kuda besi kesayangannya, moge matic seharga 67 juta rupiah hadiah dari Kang Bawegi atas suksesnya penjualan buku novel Gelanggang Kematian. Hazlan menjadi tim peneliti sekaligus penerjemah untuk novel Bawegi bersama dua orang rekan lainnya.

Bawegi yang dihubungi Hazlan sengaja menunggu di halaman sambil bersandar pada kursi rotan beralaskan bantalan empuk berwarna jingga. Begitu Romiy membukakan pintu pagar, ia bangkit dan bergegas  menyambut sahabatnya dengan mimik muka penasaran.

Diraih tangan Hazlan, mereka bersalaman dan berpelukan erat setelah Hazlan memarkirkan motornya di tempat biasa. 

Bi Sumin tanpa banyak komando buru-buru membuatkan dua cangkir kopi hitam yang kemudian diletakkan di meja kerja Bawegi bersama camilan empon-empon ketan yang masih panas. Perbincangan keduanya tampak serius, Bi Sumin tahu harus segera pergi dari ruangan setelah semuanya dihidangkan. Sepiring empon-empon lainnya dibawa ke kamar untuk dinikmati berdua Pak Sumin, belum boleh banyak-banyak agar tenggorokannya lekas pulih.

“Dugaan Kang Baw benar,” ujar Hazlan membuka pembicaraan lebih serius. Matanya menatap Bawegi dalam-dalam, ia salut atas ketajaman intuisi sahabatnya.

“Jadi Muncha adalah Muntho Charlo,” terang Hazlan memastikan. Ia menyeruput kopi panas yang lezat buatan Bi Sumin. 

Fariina, istrinya belum mampu membuat kopi seenak buatan Bi Sumin padahal bahannya sama persis, kopi Arabika bertasting notes buttery. Kopi dengan citarasa dan aroma sangat lezat. Kang Baw memang penikmat kopi hitam seperti dirinya. Mereka berdua sanggup menghabiskan lebih dari lima cangkir sehari tanpa terganggu penyakit maag.

“Dapat informasi dari Kalina?” duga Bawegi.

“Benar Kang,” jawab Hazlan sembari mengangguk-anggukkan kepala.

“Selamat ya, ternyata Akang sebentar lagi akan jadi Bapak,” tukas Hazlan riang.

Bawegi tersenyum bahagia, setua ini dirinya dipercaya untuk memiliki seorang anak. Dalam batinnya ia berharap semoga anaknya seorang laki-laki saleh yang mau menjaga ibunya kelak, bila ia pergi lebih dulu.

“Tapi ada yang sedikit mengganjal dari asal-muasal cerpen buatan Muntho ini,” sergah Hazlan.

“Maksudmu?”

“Teori Akang tentang penulis kacangan yang sanggup berubah hebat dalam hitungan tahun agaknya tidak sepenuhnya benar,” imbuh Hazlan.

“Ternyata basic Muntho memang orang Sastra,”sambung Hazlan menjelaskan bahwa yang dialami Muntho bukan sebuah transformasi.

Bawegi tersenyum tipis. Rupanya cara Muntho bertanya banyak hal bagai orang baru belajar adalah kamuflase. Usianya memang masih muda namun, ambisinya sangat tinggi.

“Ia banyak berkeliling mendekati para penulis terkenal lainnya dengan cara yang hampir sama,” ujar Hazlan dengan wajah muram.

Pantas saja Kang Bawegi merasa tertarik dengan kepribadian Muntho, ada banyak keganjilan yang perlu diungkap. Caranya berinteraksi dengan penulis lain cukup membuat jengah. Kang Doka kolumnis di surat kabar Pikiran Pakar juga bercerita banyak soal Muntho tentang privasinya yang sempat terganggu. 

Tak ada yang benar-benar salah dengan Muntho, sebut saja kepribadiannya memang demikian unik. Bawegi harus legawa menerima bermacam-macam karakter dalam profesinya.

Kepenasaran Bawegi punah, biasanya ia akan menuangkan kisah ini menjadi sebuah cerpen. Ia akan beri judul Penulis Kacangan akan tetapi Bawegi sudah berniat untuk berhenti menulis. Ia manfaatkan sebaik-baiknya waktu selama pandemi untuk mengheningkan cipta bermesra dengan Sang Pencipta.

Langit tiada berubah menjadi kelam. Manusialah yang kekurangan matahari untuk melihatnya tetap biru. 
(Bawegi Daim quotes)



Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

6 komentar untuk "Penulis Kacangan (Bagian Empat-Tamat)"

  1. Selalu keren☺️👍

    Langit tiada berubah menjadi kelam. Manusialah yang kekurangan matahari untuk melihatnya tetap biru.
    (Bawegi Daim quotes)

    Aku suka banget dengan kata-kata ini☺️👍

    Ternyata lama tak menulis di K malah semakin membuat cerpen-cerpen mbak makin keren☺️👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Masih bisa nabung tulisan nih Pak War... Tapi sebelum menjadi Bawegi saya sudah mundur teratur... Semoga SKB nggak keberatan nampung tulisan yang lain ya...

      Terima kasih atas dukungannya Pak War...

      Hapus
  2. Legaa... karena sudah baca semuanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Bu Ayra syukurlah kalau lega saya pikir bakalan kecewa... Sip. Matur nuwun...

      Hapus
  3. Ide segar yang membuat pembaca penasaran..kapan ya bisa menulis seperti mmbak Desi..

    BalasHapus
  4. Waah.... Penyair kondang mampir? Sebuah kehormatan hehehe... Terima kasih banyak Pak Khalid 🙏😊

    BalasHapus

Berlangganan via Email