Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Naifnya Gatot Nurmantyo, Takut Covid di Istana, Deklarasi dan Demo Berani

 

Naifnya Gatot Nurmantyo, Takut Covid di Istana, Deklarasi Berani

 

Miris membaca perihal alasan ketidakdatangan Gatot Nurmantyo ke istana untuk menerima penghargaan. Alasan yang sama sekali tidak masuk akal, jika dengan dalih covid. Apa yang selama ini ia gembar-gemborkan tidak seperti yang ia lakukan. Maaf dengan  segala hormat, standart ganda, alias munafik. Mana satunya kata dan perbuatan.

Apakah istana sedemikian jorok dan buruknya  di dalam menaati protokol kesehatan? Jika ia, mana bukti dan contoh kasus yang terjadi di istana. Apalagi iya, betapa buruknya negeri ini dalam menangani pandemi. WHO goblog dong meminta Menteri Kesehatan Terawan membagikan pengalaman yang dinilai sukses.

Konsistensi Sepenggal Hati

Menolak hadir namun menerima penghargaan itu, mau menunjukkan bahwa dia konsisten, bahwa pemerintah gagal dalam menangani pandemi ini, apakah demikian adanya, faktualnya? Layak dilihat lebih dalam.

Bagaimana  ia bisa berkeliling Indonesia, tanpa takut pandemi, malah ditolak di mana-mana. Di mana ketakutan soal covid dan kegagalan  pemerintah jika demikian? Pemerintah dan negara baik-baik saja, hanya pola pikirnya yang ngacao dan kacau.

Di Surabaya  ia hadir dan ditolak, padahal di sana kawasan yang cukup parah, toh bukan karena ide, gagasan, dan kinerjanya yang mengubah Surabaya menjadi lebih baik. Penolakan deklarasi di Surabaya justru memperlihatkan masyarakat lebih peduli dari pada pentolan KAMI ini.

Demo UU Cipta Kerja, Gatot juga menyatakan dukungannya. Padahal jelas-jelas di tengah masa pandemi. Memangnya covid baru kemarin sehingga enggan datang  ke istana. Aneh dan maaf naif jika demikian.

Ziarah ke Taman Makam Pahlawan. Jelas ia bukan lagi pejabat, tanpa izin mana bisa masuk. Toh ia bersikukuh hingga ribut dan akhirnya ditolak. Sama dengan deklarasi. Jelas protokolnya istana atau  tempat umum seperti TMP?

Kisah yang identik mengenai kedatangan ke Bareskrim Polri. Anak buahnya ditangkap polisi dan pimpinan-pimpinannya memaksa untuk bertemu. Ujungnya ditolak juga. Aman mana Bareskrim atau Istana?

Konsistensinya wagu karena tidak jelas, justru bersikukuh pada hal yang tidak semestinya. Sama halnya dengan komunisme, di mana negara-negara di dunia sudah selesai dengan paham ini, malah mau ia hidup-hidupkan. Anehnya hanya dekat-dekat akhir September setiap tahunnya.

Persoalan UU Cipta Kerja juga akhirnya memuji, usai anak buahnya ditangkap polisi. Lha bagaimana mau konsisten, ternyata ada yang ditangkap lanngsung balik kanan.

Sikap konsisten itu baik, bagus, dan harus sebagai seorang pemimpin. Namun konsisten yang mana dulu, ini penting. Bagaimana bisa konsisten pada hal-hal yang tidak mendasar, pada sisi yang fundamental malah seenaknya sendiri.

Pandemi dan keselamatan publik tentu harus memilih keselamatan massal. Mau percaya teori apapun soal covid, yang jelas jangan memaksakan kehendak dan membahayakan publik. Prinsip lebih mendasar, sebelum menampilkan sisi konsistensi.

Blunder Telak Politis

Gatot yang hendak mencalonkan diri menjadi presiden dengan perilaku ini malah makin jauh dari pemilih. Maunya mempermalukan presiden, namun malah ia mempermalukan diri sendiri. Sama juga dengan main air terpecik muka sendiri. Apa manfaatnya dengan bersikap demikian?

Kenakan-kanakan. Presiden itu hanya menjalankan amanat UU, lha menolak hadir ke istana, tetapi ngider ke mana-mana itu apa namanya? Ini kan hanya masalah pilihan bodoh saja. Datang seperti duo F juga tidak masalah. Point positif malah bisa diraih.

Konsistensi dodol. Bagaimana bisa menjadikan covid alasan, padahal perilaku hariannya jauh dari keprihatinan dan aktifitas dari rumah saja. Salah dalam bersikap konsisten.

Arogan, banyak warga yang menilai Gatot arogan, belum jadi pemimpin saja seperti itu, bagaimana jika menjadi pemimpin? Lho, belum-belum saja sudah ada potensi antipati.

Gatot jauh lebih bijak saat ini adalah membangun citra baik dengan tidak banyak ulah bergaya oposan. Keberadaan oposan yang tidak bermartabat malah merugikan citra dirinya. Berebut ceruk yang sangat sempit.

Lebih tepat lagi membangun jaringan dan memiliki partai politik sebagai kendaraan. Masih cukup waktu untuk tiga tahun ke depan. Kurangi aksi tidak bermanfaat yang hanya menghambur-hamburkan dana dan energi semata.

Melawan dan menjadi oposan Jokowi itu rugi, mengapa? Pemilihan mendatang Jokowi sudah tidak bisa bersaing dalam pilpres lagi. Berbeda dengan sikap Prabowo dan Gerindra pada periode 2014-2019. Alasannya jelas, mereduksi Jokowi, lah sekarang untuk apa?

Pendukung Jokowi jelas dominan, sudah  hampir bisa dipastikan enggan melirik Gatot Nurmantyo dengan perilakunya demikian. Lhah akhirnya malah berebut dengan irisan yang sangat sempit pada sisi oposan itu?

Memasuki celah sempit bersama oposan akan menambah susah bergerak malah. Sama juga kolam sempi namun banyak ikannya.  Berlomba-lomba berebut pada posisi yang kecil.  Pilihan sudah diambil, konsisten salah terus ya sudah mau apa. Jelas ke mana muaranya.

Perlu mencari konsultan politik yang lebih cerdas dan luas wawasannya. Strateginya sangat telanjang dan mudah dipatahkan.

Salam Kasih

Susy Haryawan

4 komentar untuk "Naifnya Gatot Nurmantyo, Takut Covid di Istana, Deklarasi dan Demo Berani"

Berlangganan via Email