Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mereka yang Telah “Menempuh Hidup Baru”


                                              Sumber : Google Map

Bagi mereka yang tinggal di Jakarta, khususnya bagian timur atau lebih tepatnya di daerah Ciracas, nama jalan Pengantin Ali (penduduk lokal menyebutnya Nganten Ali) pasti sudah tidak asing lagi.

Mungkin banyak yang belum mengetahui mengapa jalan tersebut diberi nama Pengantin Ali. Menurut cerita yang tersebar turun-temurun, ini diawali sekitar tahun 1940-an.

Tersebutlah sepasang sejoli bernama Ali dan Emah. Mereka merayakan pernikahannya pada hari itu. Kebiasaan adat setempat, pasangan yang menikah di arak dengan menggunakan tandu ke jalan-jalan.

Ketika arak-arakan melintasi jalan yang licin selepas hujan, tandu yang menyusung pengantin oleng, menyebabkan pengantin wanita terlempar kedalam kali Cipinang. 

Melihat kejadian itu, Ali sang pengantin pria tanpa berpikir panjang langsung terjun kedalam kali yang mengalir deras, berusaha menyelamatkan Emah. 

Sayang takdir berkata lain, sepasang sejoli itu hanyut terbawa arus air. Warga setempat berusaha mencari mereka, tapi tidak berhasil. 

Tidak berapa lama kemudian, ditemukan dua buah batu di tempat hilangnya sepasang pengantin itu dan penduduk lokal meyakini bahwa kedua batu tersebut adalah jelmaan dari pasangan Ali dan Emah.

Kejadian tragis ini begitu melekat di hati para penduduk asli di sana. Mereka percaya dan bahkan melarang calon pengantin melewati jalan pengantin Ali atau  menggelar resepsi pernikahan di daerah itu karena khawatir akan membawa ketidakberuntungan.

Delapan puluh tujuh tahun sebelumnya sekitar tahun 1853-an, cerita tragis calon pengantin terjadi di Negeri Paman Sam, meski berbeda versi.

Tersebutlah seorang kaya bernama James W Smith, yang sangat mencintai putri bungsunya bernama Alena Beatrice. Sebagai wujud cintanya, sang Ayah berjanji akan menghadiahkan putrinya sebidang tanah yang ia sebut “Memento” apabila putrinya menemukan tambatan hatinya.

Alena adalah gadis cantik yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluarga. Ayahnya ingin yang terbaik untuk Alena. Banyak laki-laki yang tertarik dan mencari perhatiannya. Seperti anak kesayangan lainnya, Alena menginginkan laki-laki seperti figur ayahnya yang selalu memanjakannya.

Karena para pemuda tahu bahwa ayahnya akan menghadiahkan Memento seluas 4’5 acres, hal ini justru membuat mereka mundur teratur. Peluang Alena menemukan pria pujaan hatinya semakin kecil.

Tapi semua itu tidak membuat Alena menghentikan mimpi-mimpinya. Ia sering membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan sangat mendetail kepada siapa saja.

Alena tahu baju pengantin macam apa yang akan dikenakannya, warna bajunya, berapa jumlah kancingnya, pada bagian mana renda-renda dan bunga-bunganya akan dijahit dibajunya hingga perhiasan yang akan dipakainya.

Alena yang sudah mengetahui bahwa Memento akan menjadi miliknya saat ia menkah, seringkali menghabiskan waktunya berjalan mengelilingi Memento, merencanakan di mana pernikahannya akan digelar, bahkan membayangkan di sebelah mana rumahnya nanti akan dibangun.

Ibu Alena, Margaret, kerap bercerita kepada orang-orang disekitar, keinginan Alena dalam hidup hanya satu yaitu menikah. Memiliki suami dan keluarga adalah sesuatu yang diimpi-impikannya.

Sayang takdir berbicara lain, Alena terserang wabah penyakit cacar. Era itu, ilmu kesehatan belum dapat menemukan obat penyembuhnya. Alena sadar kalau ia tidak mungkin sembuh. 

Meski sakit melanda tubuhnya, di atas tempat tidur Alena tidak menyerah akan mimpinya bertemu dengan pujaan hati, menikah dan memiliki keluarga. 

Tanggal 15 April 1877, Alena yang saat itu berumur sembilan belas tahun menghembuskan nafas yang terakhir. Wabah cacar telah merebut mimpinya untuk menjadi pengantin. 

Keluarga Alena mengubur jenazahnya di Memento, menjadikannya sebagai orang pertama yang dikubur di sana.

Ayah Alena begitu sangat terpukul, tak seorangpun diijinkan mengunjungi makam Elena kecuali dirinya. Ia mendatangi Elena setiap hari, hingga ajal menjemputnya pada tanggal 18 Agustus 1898. 

James W. Smith dimakamkan bersebelahan dengan Alena. Keluarga kemudian menjadikannya sebagai “The Smith Family Burial Ground” atau Makam Keluarga Smith.

Orang-orang lokal di sana yang punya nyali untuk melewati Memento tepat di tanggal kematian Elena menyebutkan melihat sosok wanita cantik bergaun pengantin. 

Orang-orang asli di sana memegang kepercayaan bagi mreka yang ingin menikah untuk tidak membicarakan tentang hal-hal berhubungan dengan pernikahan saat melewati Memento, karena Alena dapat merebut semua rencana pernikahan itu.

Believe it or not.

Catatan : 
Jalan Pengantin Ali terbentang kurang lebih dua kilometer yang menghubungkan jalan Centex dengan jalan Ciracas Raya, Jakarta Timur - Indonesia

Memento kini menjadi Pinewood Cemetery di Daytona, Florida - USA.

Widz Stoops, PC-USA. 11.14.2020


7 komentar untuk "Mereka yang Telah “Menempuh Hidup Baru”"

  1. Waah... Untung tayangnya malam, klo agak pasti seseorang yang begitu menyukai cerita-cerita seperti ini bakal gak bisa tidur setelah baca ini🙄😂😂🙏

    BalasHapus
  2. Baru tau ceritanya, dulu sering lewat daerah situ

    BalasHapus
    Balasan
    1. True story tuh mbak. Rumah ibuku daerah situ.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Klo malam takut pengen jadi penganten lagi ya OmBud.

      Hapus

Berlangganan via Email