Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulis Menenangkan Jiwa

Olya kobruseva, pexels


Itu yang saya rasakan dari awal menjadi Kepala Sekolah sampai sekarang. Ketika pekerjaan menumpuk dan ada masalah pribadi, saya harus profesional menyelesaikan pekerjaan yang ada di sekolah meski hati sedang tidak karuan.

Saya harus menempatkan diri pada guru-guru, ada kalanya saya sebagai teman, kakak dan ibu bagi mereka dan ketika rapat saya adalah pimpinan mereka yang harus mereka dengar apa yang saya bicarakan. 

Adakalanya saya harus menjadi pendengar yang baik buat mereka, menyelesaikan masalah mereka baik pribadi atau kedinasan, memberi support ketika mereka merasa terpuruk. Meski pada saat bersamaan saya butuh support dan ada masalah pribadi yang besar. 

Menulis adalah terapi bagi saya untuk keluar dari rutinitas sekolah. Makanya saya memilih menulis yang mudah dan mengasyikan salah satunya membuat puisi atau cerpen. Saya ikuti kemana angin membawa saya untuk menulis. 

Saya jarang menulis artikel yang serius, karena apa? Karena saya ingin menenangkan pikiran, cukup sudah pekerjaan yang menguras pikiran saya, jangan dibebani saya harus menulis artikel yang serius. 

Cara orang menulis itu berbeda-beda, saya tidak bisa seperti si A atau si B inilah saya dengan dunianya. 

Saya teringat pesan pak Idris Apandi ketua Komunitas Literasi Jawa Barat, beliau sering berkata, "menulislah dengan merdeka." Kalimat ini memacu saya untuk kembali menulis setelah lama vakum. 

Mungkin teman-teman yang lain mengisi waktu diluar pekerjaan dengan olahraga, makan-makan, kumpul dengan teman-teman, jalan-jalan, memasak, berjualan atau kegiatan lain yang belum saya sebutkan satu persatu. Saya dan mungkin beberapa teman mengisi waktu dengan menulis. 

Menulis bisa menjadi candu buat saya, terbukti saya mencoba tidak menulis yang terasa emosi saya tidak stabil dan kepala terasa pusing, karena tulisan seolah-olah memenuhi otak saya. 

Jadi, biarkan tulisan saya mengalir seperti air sungai, karena saya ingin membuat lautan aksara. Akan saya tumpulkan lagi ujung pena bila pena saya masih terasa runcing. Salam 


Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

2 komentar untuk "Menulis Menenangkan Jiwa"

Berlangganan via Email