Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lalu, Buat Apa Kugadaikan Semuanya Untukmu?




 Tak ada hati yang ingin diingkari. Tak ada raga yang ingin setiap saat dihujani luka. Apalagi, setiap gerak selalu diiringi dengan percaya. 


Pada hembusan nafas, harum bau curiga selalu ditepis sebelum ada bukti yang kuat diterima. Adalah kita yang tak mudah terima segala cerita tanpa menatap dengan mata rama. Adalah kita yang tak ingin segala duga sangka menjadi duri menyayat jiwa.


Akulah penikmat senja. Ibarat tubuh, aku selalu berharap kasih sayang dan kehangatan. Andaikan luka, aku menanti obat penawar demi menyembuhkan semua yang diderita. Dan, aku akan benci, jika senja terlalu cepat pergi. 


Aku mau lebih lama menatap. Aku mau ikut tenggelam bersama cahaya yang dipeleh oleh batas air laut dan langit. Sayangnya, aku ikut bersedih kalau senja tak lagi kupandang. Dan, dia pergi tanpa memberi pamit.


Nona, menunggu esok adalah sebuah pekerjaan yang membosankan. Aku berdoa dengan teduh, biar esok kembali bisa menatap senja. Kemudian kubisikan padanya 


"Wahai senja yang menyimpan kisah. Jadilah objek terbaik yang tak membuat aku bosan menatap. Berilah cahayamu hingga tetap bermukim di hatiku. Aku tak ingin kau memilih pergi tanpa kembali. Aku tetap setia pada lautan rasa. Aku tak akan berpindah dari bibir pantai."


Sebuah pertalian yang apik selalu dijaga dengan baik. Dua nafas yang menderu sering mengucap rindu. Hingga kita terus berharap temu melepas belenggu. 


Nona, Adakah kau tetap menjadi cahaya tanpa berbagi rasa? Apakah kau serius membawa aku terbang jauh hinggap dan menetap di negeri impian? Yakinkan diriku, jangan kau beri keraguan. Tamparlah aku dengan kehangatan cintamu tanpa kau menduakan harap.  Aku mau bersamamu tanpa ada yang menghalangi.


Kau dan senja selalu kukagumi. Selimut kedamaianmu sering membuat raga merasa hangat. Sampai, berpikir untuk meninggalkanmu pun tak pernah hadir dalam alam sadarku. 


Suara-suara bahagia suka memanggil. Dan, aku ikut arus gelombang ajakanmu. Sebab, menolak ajakanmu adalah menghukum diri sendiri. Tak menggubris tanyamu akan menyiksa hati. Dan, kau tahu aku tak mau larut sejauh itu.


Jika, kau adalah puisi yang sulit ditebak. Maka, aku memilih jadi prosa yang mudah dimengerti. Hidup tak perlu harus kita rumitkan. Takdir Tuhan dan kehendak semesta jangan kita mengeluh sampai terus bersedih. Dan, pastinya kau dan aku tak mau menjalani deru rindu dengan hitam putih. 


Aku memang suka hitam tanpa mendendamm, tapi tolong jangan kau tenggelamkan hatiku. Kemudian mengusirku dari hidupku karena sudah ada orang yang bersandar di bahumu.


Bahu yang selama ini menjadi tempat aku bersandar, kini mulai rapuh. Sebuah kata pergi yang paling kita kutuk, mulai mendekat ke arah hati. Iya, semua mulai kurasa dengan sadar. Lantaran sikap dan kebiasaan yang kau tampakan tak seperti biasanya. Dan, sudah pantas, aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan. 


Bukankah kau mengajarkan aku untuk kita saling jujur? Apakah kau lupa, kalau kita harus tetap terbuka?


 Bukankah kau dan aku mau menuju sebuah pelaminan? Apakah cinta dan rasamu yang selama ini kau berikan hanya sebuah kepalsuan?


Suatu waktu yang tepat, aku beranikan diri membuka salah satu aplikasi di gawaimu. Dan, kau berjanji dengan lelaki lain. Bukankah selama ini muara selingkuhmu sering kali kumaafkan? Kenapa kau beranikan diri lagi untuk mengulangi perbuatan yang sudah pasti membuat hatiku hancur?


3 April 2019, tepat pukul 16.00 kau menampakan sebuah sandiwara yang begitu menakjubkan. Kau jadikan aku penonton yang memberi kesaksian dari dramamu. Kau "Coreng muka kekuargaku dengan arang hitam. Kau membuat aku malu sampai membatalkan pertunangan." 


Buat apa bertahan kalau kau tak mau berjalan serius di satu pelukan? Buat apa kugadaikan semuanya untukmu, kalau aku kau jadikan sampah setiap pembuangan kata-kata manis mengikatmu?"


Kediri, 05 November 2020

Buah karya: Abdul Azis Le Putra Marsyah

13 komentar untuk "Lalu, Buat Apa Kugadaikan Semuanya Untukmu?"

  1. Balasan
    1. Hehehe.. makasih Pak Katedra. Salam santun saya

      Hapus
  2. Wah keren banget ini puisinya kak Azis, mantul

    BalasHapus
  3. Saya merasa, si 'aku' dalam karya ini, begitu tersayat, begitu terluka, tetapi juga begitu cinta.

    "Dua nafas yang menderu sering mengucap rindu. Hingga kita terus berharap temu melepas belenggu.

    Suara-suara bahagia suka memanggil. Dan, aku ikut arus gelombang ajakanmu. Sebab, menolak ajakanmu adalah menghukum diri sendiri. Tak menggubris tanyamu akan menyiksa hati. Dan, kau tahu aku tak mau larut sejauh itu."

    Tapi akhirnya dia bisa mengambil keputusan.

    BalasHapus
  4. Puisi yang panjang dan menggoda imajinasi Mbak Ayra untuk menuanhkan ulasannya di kolom komentar... Turut menikmati ya Mas Azis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya apresiasi pada penulisnya.
      Menguatkan orang-orang yang mungkin mempunyai kesamaan cerita.

      Hapus
  5. Kau gadaikan semua? Termasuk cinta? He..he.. mantap mas Azis puisina ..

    BalasHapus

Berlangganan via Email