Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

”Lactose Intolerance”

              

                                                              Sumber : https://unsplash.com/@foxandotter

Gemericik hujan membasahi senja itu. Andai saja lbubaran sekolah tadi aku langsung pulang tanpa mampir ke perpustakaan, pasti aku sudah sampai di rumah saat ini. 


“Cuma hujan air aja kok takut sih, Yan!” tetiba ada yang menepuk bahuku.


Kutoleh wajah ke belakang. Billy Sebastian! Ya ampun, cowok keren berkulit putih yang terpopuler di sekolah itu menegurku! Hatiku berdegup kencang, tapi mulutku terkunci.


Sebetulnya sudah lama aku merasakan sesuatu yang ‘lain’ tentang Billy. Tapi kupikir tak mungkin ia merasakan hal yang sama. Setiap hari Billy selalu dikelilingi cewek-cewek cantik. Sedang aku? Cuma seorang cewek kutu buku.


“Hujan-hujan gini tuh enaknya ngopi! Apalagi kalau ditambah susu, nih buat kamu, barusan aku beli di kantin!” Kata Billy sambil menyodorkan segelas kopi susu. 


Mulutku masih terkunci, tidak percaya akan apa yang sedang kualami. Aku tidak suka kopi. Apalagi susu! Itu merupakan musuh bagi pengidap lactose intolerance. Susu membuat perutku sakit, pusing kepala dan susah bernafas. 


Tapi aku tidak ingin Billy tahu kelemahanku. Ini interaksi perdanaku dengannya. Aku tak ingin ia menjauh hanya karena aku cewek penyakitan. 


Kuraih gelas kopi susu yang disodorkan Billy. Sambil berdoa dalam hati agar tidak terjadi apa-apa, kuteguk sedikit kopi susu itu. Billy memandangku dengan senyumnya yang khas. Kopi susu ini terasa seperti minuman ter-yummy yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.


Sebelum melangkah ke halaman sekolah, kukeluarkan payung dari dalam tasku, sementara Billy menarik ‘hoody’ jaket untuk menutupi kepalanya.


“Ih, don’t be silly, sini payungan berdua!” Entah jin mana yang datang dan membuka kunci mulutku. 


Billy tertawa kecil, mendekatkan badannya ke bawah payung. Tanpa ragu ia melingkarkan tangannya kanannya di bahuku, sementara tangan kirinya memegangi gagang payung. Suasana dingin senja itu terasa hangat. Aku masih tak percaya.


“Eh, Hujannya udah berhenti, kita duduk-duduk dulu yuk!” ajak Billy sambil menunjuk ke sebuah warung tenda. Aku mengangguk perlahan. Tak mungkin aku menolak ajakannya.


Warung tenda terlihat sepi, hanya ada dua pasang sejoli sedang menunggu pesanannya. Billy memilih tempat duduk di ujung kursi panjang, agak jauh dari dua sejoli tersebut.


“Kamu sepertinya gak doyan kopi susu, ya? Terus kamu sukanya apa dong?” Tanya Billy sambil menghusap tetesan air yang jatuh di atas rambutku.


Mulutku kembali terkunci, pertanyaan sederhananya seperti rumus fisika yang tak pernah kumengerti. Hari ini bagiku masih terasa seperti mimpi. Billy yang berperawakan tinggi, berkulit putih, ganteng dan digandrungi cewek-cewek di sekolah itu kini berada disampingku.


“Ok deh Yan, kalau aku duluan yang ngasih tahu kamu apa yang aku suka, kamu mau gag janji untuk kasih tahu aku apa yang kamu suka? tanya Billy lagi,


“Iya, deh” jawabku perlahan.


“Yang aku suka itu ...hmmm ... kamu! 


Tiba-tiba perutku terasa sakit, mataku berkunang-kunang. Aku tak bisa bernafas. Tanganku terasa sangat lemah dan tak sanggup lagi memegang gelas kopi susu. Sayup-sayup kudengar suara “Prang...!”

Kkk

6 komentar untuk "”Lactose Intolerance”"

  1. Kumat deh penyakitnya. Atau pingsan karena bahagia?

    BalasHapus
  2. Sepertinya pingsan bukan karena kopi susu ya🙄😂😂

    BalasHapus
  3. Saya juga gak begitu suka Kalau kopi campur susu loh, Bu Widz.

    Kisah menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah ABG.. Terima kasih pak Kate. 🙏🙏

      Hapus