Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Juki Berkaraoke

Disclaimer: mengandung kevulgaran, tidak untuk dibaca guru dan usia dibawah 18 tahun.

-----------------------------

Jumat pukul delapan malam.

Mobil yang Juki tumpangi masuk ke Jalan Mangga Besar. Juki sudah merasakan hawa berbeda dari jalanan ibu kota sejak mereka meninggalkan Medan Merdeka Barat memasuki arah Harmoni. Hawa yang lebih meriah dan penuh canda.

Mobil kemudian berbelok ke arah jalan yang lebih kecil yang menuju ke Glodok. Disana Juki melihat papan reklame bertuliskan: Happy Karaoke and Lounge, dan mereka masuk kesitu.

Juki berdebar sekaligus girang. Tadi Anton bilang tempat itu, “Gak ada duanya!” dan Juki lantas membayangkan tempat yang lebih mewah dari Inul Vizta.

Siang tadi bosnya minta Juki menemani Anton menjamu rekanan perusahaan, yang bosnya bilang orang Malaysia, untuk bernyanyi di karaoke.

Juki dan Anton masuk ke lobby kecil. Dua orang Malaysia yang berkulit coklat dan jangkung duduk di sofa sementara yang agak botak dan pendek berdiri menangkupkan tangan.

Setelah mengisi daftar tamu, Anton meninggalkan kartu debetnya di resepsionis.

Juki heran, “Apa kamu gak takut duitnya didebet banyak sama mereka?”

Anton tertawa, “Mereka bisa dipercaya.”

Ruangan karaoke yang ditempati Juki tidak besar namun dilengkapi kamar mandi dengan toilet dan shower, malahan ada kamar tidurnya juga. 

Ilustrasi: Pixabay/Pexels

Juki akan menanyakan kepada Anton untuk apa ada kamar tidur, tapi Anton keburu menyodorkan minuman yang dibawa dua pelayan ke hidung Juki.

“Kamu ini saja yang ringan ya, radler lemon,” kata Anton.

Juki belum pernah melihat, apalagi minum, radler lemon, jadi dia mencium aromanya lebih dulu sebelum meneguknya.

“Segar meski agak asam,” kata Juki pada Anton yang terkekeh.

Ketiga orang Malaysia meneguk air dari botol yang tidak dikenal Juki.

Lima menit kemudian tiga gadis cantik berbaju ketat datang. Gadis berbaju ungu berbelahan dada rendah menyalakan televisi dan mencari lagu, sementara dua gadis berbaju merah dan kuning langsung duduk di antara Juki dan Anton. 

Juki menahan napas. Selain karena selangkangan mulus si baju kuning menempel di atas pahanya, dia juga mengenal si baju kuning.

“Halo, Juki!” sapa si baju kuning mendesah mesra dan manja di telinga Juki.

“Sherly?! Kok kamu disini juga?”

“Aku kerja disini,” jawab si baju kuning Sherly.

“Sejak kapan kamu kerja disini?” Juki penasaran.

Sherly tidak menjawab dan malah mengelus dada Juki yang membuat Juki berdesir antara risih dan terkesima.

“Kalian kenal?” tanya Anton setelah menenggak gelas berisi campuran rum dan cola.

Juki menyahut, “Sherly mantan pacarku.”

Anton tertawa, “Masa?! Kok bisa mantanmu cantik begini,” katanya.

Juki terbelalak karena Anton tiba-tiba mencium bibir Sherly dan keduanya lalu berpagutan.

“Anton! Apa-apaan!"

“Hei, Juki, kita disini buat senang-senang, jangan serius begitu,” timpal Sherly sambil mengelus dada Juki. Sherly menyodorkan botol radler lemon ke bibir Juki dan merayunya untuk minum lagi.

“Yeahh! Kita dansa!” suara si baju merah yang nyaring melengking memecah pikiran Juki dari kejadian Anton dan Sherly tadi. Musik trance milik Armin Van Buuren memecah telinga Juki.

Juki merasa wajahnya panas saat melihat ketiga orang Malaysia berseru-seru, “Buka… buka… buka!” kepada baju merah dan ungu. Keduanya benar-benar membuka baju mereka!

Juki merasa wajahnya tambah panas melihat empat gunung bulat menggandul menari dan meliuk diantara ketiga orang Malaysia rekan bosnya itu.

Sherly menyodorkan lagi botol radler lemon kepada Juki yang lalu diteguk Juki banyak-banyak.

Anton meminta Sherly mengganti lampu dengan yang lebih temaram. Meski dalam cahaya temaram Juki dapat melihat bahwa si baju merah dan ungu sudah tanpa sehelai benang. Ketiga orang Malaysia tertawa-tawa dan bergantian mengusap dada dan paha mereka.

Juki nyaris pingsan. Mungkin sebenarnya dia sudah pingsan. Yang terasa hanyalah hangat dan lembab dari mulut Sherly yang melahap alat keperjakaannya dengan rakus.

Sebelum Juki melayang dia sempat melihat seorang gadis berbikini datang dan memeluk Anton. Ketiga orang Malaysia dilihatnya sedang bersandar di sofa dengan si baju merah dan ungu bergantian menduduki mereka sambil berteriak-teriak dan melenguh keras.

Sabtu siang.

Juki tercenung mengingat karaoke tergila yang pernah dialaminya seumur hidup. Tambah gila karena ada Sherly. Sherly yang manis dan cantik yang selalu dia rindukan.

Mestinya Sabtu malam ini dia akan mengajak Sherly makan malam untuk kembali menjalin kasih, tapi kehidupan Sherly kini tidak lagi sama seperti saat mereka masih menjadi kekasih.

Ahh, sayang sekali, Sherly. Meski kau nakal kau tetaplah mantan terindahku. 

Lalu Juki menarik selimutnya kembali. Lelap.

21 komentar untuk "Juki Berkaraoke"

  1. Ah, sayang sekali si baju kuning. hihihi. Hai, Bu :-)

    BalasHapus
  2. Selalu mendapatkan pengetahuan baru setiap membaca cerpen-cerpennya☺️

    Keren, keren dan keren! ☺️👍😂

    BalasHapus
  3. Mbak Yana, cerpennya penuh makna. Selalu membawa pesan berarti.

    BalasHapus
  4. Oalah..Sherly... Sherly yang sempat men-servis Juki.
    Wkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayanlah si Juki. Deg2an tapi puas 😂🙈

      Hapus
  5. Disclaimernya inspiratif dan menggelitik.😁

    Jadi malah baca sampai tamat.

    Sebuah cerpen mengangkat tema kehidupan metropolitan... Cukup sulit membuat tulisan yang santai tapi menggigit seperti ini.

    NB. Yang baca saat ini bertindak sebagai ibu rumah tangga ya... 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg nulis jg ibu rumah tangga, Teh, hahaha!

      Hapus
  6. Wahhhh para om2 d SKB punya ide ke tikungan sana 😁

    BalasHapus
  7. Wah... makin semangat di tikungan deh..

    BalasHapus
  8. Pemilihan kata yg tepat sopan namun vulgar tuk sebagian org.. saya menikmati tulisannya seolah olah saya menjadi Joki nya Juki.. hahahahahaha...

    BalasHapus
  9. Terima kasih Serly sudah mempertemukan saya dengan Mbak Yana di SKB.
    Eh terbalik ya hehehe.
    Hormat saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Komandan! Kalau mau titip salam buat Sherly boleh kok, ahahah!

      Hapus