Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Inspirasi Berbicara dengan Lawan Bicara | Ajakan Untuk Menghargai Lawan Bicara

Ajakan Untuk Menghargai Lawan Bicara

Inspirasi secangkirkopibersama.com Salah satu buku Best Seller yang saya yakin tidak asing lagi, bagi kalian yang suka baca buku. Karya Oh Su Hyang. 

Pada artikel kali ini kita akan membahas bukunya yang berjudul, “Berbicara Itu Ada Seninya.”

Berbicara hal yang sederhana, namun ketika saya beranjak dewasa saya mulai memikirkan hal ini, ternyata berbicara tidak sesederhana seperti yang saya pikirkan. Lanjut!

Pada bagian Prolog buku saya sudah dibawa kagum pada karya ini, saya serasa sedang mengobrol dengan sih penulis ketika membaca tulisannya. Lalu kita akan diajak ke bagian pertama buku, Bab 1, yang menjadi fokus saya halama 3-7. Mari kita mulai.

Hal penting yang penulis sampaikan ketika ia menjelaskan tentang bagaimana berbicara, ternyata keahlian berbicara butuh disiplin untuk melatihnya setiap waktu.


1. Pembicaraan yang membuat lawan bicara lari

Pada bagian ini berfokus pada cara komunikasi yang terlihat baik di satu pihak namun tidak baik di lain pihak. 

Hal ini sangatlah penting bagi kita, jika Anda menyadari bahwa diri Anda adalah mahluk sosial maka Anda akan selalu menghargai setiap kesempatan untuk dapat mengobrol dengan orang lain.

Ada rahasia yang sangatlah sering kita abaikan ketika mengobrol dengan lawan bicara, jika kita dengan gablang meremehkan hal ini dan lebih mementingkan diri sendiri. Sudah dapat saya pastikan lawan bicara Anda akan pergi.

Mungkin sacara tidak langung Anda dan bahkan saya sering mengalami hal ini, tidak ada hal yang terlalu rugi. Namun seperti yang saya jelaskan di awal tadi kita adalah mahluk sosial. 

Ketika kebutuhan sosial kita tidak terpenuhi hal itu cukup berbahaya.

Akan selalu ada kosong dalam diri, rasa tidak berguna tiba-tiba menghampiri. Dan jika Anda seseorang yang mempunyai sedikit jiwa kepekaan yang tinggi Anda akan bertanya-tanya dalam hati, “apa yang salah dengan saya?”

Dalam diri kemanusiaan kita akan hadir, di mana kita merasa tidak bermatabat. Karena orang yang menjauh dari kita, karena lawan bicara yang lari dari kita, mari bersama kita melanjutkan ke poin dua untuk menyimak mengapa? Kita bisa saja dijauhi lawan bicara kita.


2. Semua pembicaraan tentang aku

Kita masuk dalam poin penting, ada seorang pria yang cukup sekses dalam bidang pekerjaan dan umur yang cukup matang untuk menikah, ia bekerja di bidang penelitan di perusahaan IT. Dan selalu sulit baginya untuk dapat hidup dalam lingkup sosial, karena pekerjaan yang menjadi tuntutan.

Dengan umur yang sudah siap untuk membangun bahtera rumah tangga, ia mempunyai kerinduan untuk menikah. Sehingga tidak jarang ia mengikuti kencan buta, namun sangatlah miris ia selalu gagal.

Sampai akhirnya ia berbicara dengan Su Hyang sih penulis buku yang sedang kita bahas sekarang. Setelah bercerita cukup panjang, sih penulis berkata, “jika saja kita sekarang sedang berkencan aku akan pergi sama seperti yang dilakukan para wanita yang telah meninggalkanmu .”

Su Hyang menemukan kekurangan dari seseorang sukses yang belum mempunyai keluarga tersebut. Ia adalah seseorang dengan berbagai prestasi, ia juga merasa bahwa dirinya selalu lebih baik jika dibandingkan dengan orang sekitarnya.

Penulis mengambil kesimpulan bahwa sih pria telah merugi karena ia berbicara segala hal tentang dirinya kepada para wanita yang ia kencani. 

Ia memamerkan segala jenis pencapaian yang ia dapatkan. Ia adalah seseorang yang bangga dengan diri sendiri.

Ia adalah lawan bicara yang membosankan bukan hanya itu ia menjengkelkan, ia selalu memberikan kesan pertama yang tidak baik dengan lawan jenisnya (dengan cara memamerkan hal-hal tentangnya). 

Padahal seorang wanita sangatlah menghargai kesan pertama untuk menentukan hubungan tersebut dilanjutkan atau tidak.

Baca Juga Kawan : 

Untuk Anda dan saya secara praktisnya lakukanlah!!!

Akhirnya kembali kepada diri Anda dan saya. Apakah kita salama ini terlalu sering memamerkan hal-hal tentang kita, sehingga kita tidak menghargai lawan bicara kita. 

Untuk apa kita ada? Bukankah untuk hidup bersama, memulai dari hal-hal kecil. Menghargai lawan bicara, dengan cara bukan membicarakan tentang “aku” cobalah cari topik yang di mana hal itu dapat di diskusikan bersama.

Sehingga mencairkan suasana, dan mampu melahirkan tawa yang terbahak-bahak bila perlu.

Dalam hal ini bukan hanya dengan lawan jenis pada waktu kencan, saya sedang berbicara tentang semua aspek kehidupan. Dimanapun dan kapanpun kita harus untuk mengobrol dan menghargai lawan bicara.

Jangan biarkan mereka tidak nyaman dengan gaya kita yang mementingkan diri sendiri demi sebuah aktualisasi diri.

Bukannya dipuji dan diterima malah dijauhi, hal ini sangatlah miris kawan. Sekian artikel kali ini semoga bermanfaat. 

Terimakasih kepada teman-teman yang telah menerima saya sang penulis amatir untuk berkontribusi sebagai penulis di secangkirkopibersama.com dan mengijinkan saya menanam link artikel blog pribadi saya.

Salam suka baca dan suka menulis dan sampai jumpa pada artikel-artikel selanjutnya di secangkir kopi bersama. Dahhhhhhhh. Hati yang gembira adalah obat tapi semangat yang patah mengacaukan pikiran dan mengeringkan tulang.

Agung Raditia
Agung Raditia Dalam Kekristenan Injil haruslah menjadi berita utama yang dikabarkan. Bukan motivasi kosong yang mengajak manusia semakin mencintai dunia ini lalu menyembah berhala, memuliakan benda fana. Dan bagaimana Injil menjadi gaya hidup dan mendorong kita untuk tidak menjadi pemalas tetapi semakin improve diri kita sehingga menjadi berkat bagi sesama, Injil tersampaikan, dan Allah saja dimuliakan.

3 komentar untuk "Inspirasi Berbicara dengan Lawan Bicara | Ajakan Untuk Menghargai Lawan Bicara"