Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Empat Kepala Kepolisian Korban Arogansi

 

Empat Kepala Kepolisan Korban Arogansi Sepihak

Maunya membuat judul bombastis, empat kepala kepolisan menjadi korban lontre, tetapi saya sendiri tidak pernah menggunakan istilah sangat buruk itu, maka berkali ulang saya timbang-timbang. Ujaran itu pun bukan yang utama, ada nada klik bait dan sensasional kosong pula.

Penanganan di bandara dan juga acara keagamaan kemarin itu tidak gampang. Sangat-sangat sulit, karena salah langkah ambyar semua keadaan terburuk terjadi. Skenario yang  serba salah bagi aparat, represif banyak korban, “mendiamkan” jabatan taruhannya. Ya risiko memang demikian. Karena keadaan yang memang pelik.

Apa yang terjadi di lapangan itu adalah display, tayangan semata, yang kasat mata, dan itu dilakoni para pemain garda terdepan yang tidak tahu apa-apa.  Jelas pertimbangan rasional perlu berpikir sangat masak dan mendalam.

Pun dipahami, bagaimana aksi lanjutan, jika ada pencegahan, pelarangan, dan apalagi jika sampai pembubaran acara. Narasi mengerikan bisa ke mana-mana, dan itu yang dimaui para  penggerak pemain ini. Jangan salahkan penegak hukum atau pemerintah. Mereka diam, itu kan sudut pandang “penonton” yang hanya melihat sedikit sekali sisi yang  menjadi acuan penegak hukum dan pemerintah.

Pilihan pelik itu tetap saja akan sama bagi keempat kepala kepolisian ini. Membiarkan adanya pelanggaran protokol kesehatan seperti  kemarin, diganti. Pun kalau misal tidak memberikan izin, toh acara itu tetap berlangsung. Sama juga akhirnya karena tidak akan bisa menindak, mutasi juga.

Pilihan lain, tidak memberikan izin dan melarang adanya kegiatan itu, memangnya bisa, ketika ada pejabat lain yang seolah memberikan lampu hijau dan bahkan sangat mungkin hadir pula di sana. Ujung-ujungnya adalah sama, mutasi. Paling bedanya adalah kemungkinan di masa depan karirnya seperti apa.

Arogansi

Si pion ini memang memiliki begitu banyak pengikut setia, dan banyak pihak yang menggunakan jasa yang memang sudah terbukti sukses pada masa lampau. Sebenarnya, si pion ini juga tidak paham-pahm amat kog dengan apa yang terjadi. Yang penting ia punya orang untuk berbuat kacau, menekan publik dan pemerintah dengan aksi-aksi yang intelijen sudah paham.

Kekuatan dalam kumpulan massa dan agitasi yang selalu begitu-begitu saja itu yang menarik para “pemesan” dengan beragam kepentingan. Ada mafia, ada politikus yang mau mempertahanka harta, ada pula politikus haus kuasa yang mau tetap berkuasa, ada pula petualang yang selama ini menjadi penguasa ini dan itu.

Hambatan hanya satu pemerintahan yang kuat dan solid. Di tangan Jokowi yang memimpin pemerintahan ini memang menyulitkan banyak pihak. Narasi dan suara yang dibangun dalam setiap aksi kelompok ini selalu Jokowi turun. Pemilu tidak berani ikut, tetapi ngisruh terus.

Sikap menang sendiri karena demikian banyak pemakai jasa yang mau “melindungi”, maka bisa apa saja. Arogan makin menjadi dan membenarkan segala cara demi memenuhi hasrat para pemesan jasanya.

Kekerasan, kebrutalan, dan intimidasi dengan kamuflase agama, mengorbankan begitu banyak pihak, kali ini empat polisi dengan keluarga besar, serta sangat mungkin masa depan mereka. Lha anak buah yang begitu taklid buta menganggap kebenaran apapun yang disampaikan? Bagaimana pertanggungjawaban moral dan hidup mereka?

Mengelabui orang, baik level pemesan, ataupun para pengikutnya, itu masih belum seberapa. Maaf, dan dimaafkan selesai. Lha agama yang dinodai, agama dijadikan kendaraan, dan agamamenjadi tungganggan hasrat tamak dan mencari makan semata?

Mana agama, ketika setiap acara kog isinya politik. Mencaci maki  pemerintah, agama lain, atau isu-isu hidup bersama. Di mana agamisnya coba? Agama itu akan menyatukan, bukan memisahkan, mendamaikan bukan malah membantai pihak lain/

Kekerasan dan kerusakan. Kekerasan dalam konteks  verbal dan kalimat yang dilontarkan, termasuk juga terkadang fisik, menggebug, mengintimidasi, melukai, seolah kebiasaan. Mana ada sih agama mengajarkan kekerasan? Aneh saja.

Kerusakan, lihat saja berapa kali aksi dan ujungnya apa. Rusak, bakar, lempar, dan itu bukan satu atau dua kali, namun hampir selalu. Demo damai seolah tidak bisa mereka lakukan.  Manusia beradab itu membangun, bukan malah merusak dan menghancurkan.

Nyampah, konon kebersihan itu bagian dari iman. Lihat bagaimana usai aksi atau kegiatan, berserakan sampah, waktu lalu malah mereka kencing di balik pohon. Mengerikan tampilan yang mereka berikan.  Mana adab, agama yang membawa kebaikan jika demikian. Ingat ini  bukan agamanya yang ngaco, tetapi cara beragama yang ugal-ugalan.

Sangat biasa menuding, mengambinghitamkan pihak lain, melemparkan kesalahan pada orang, demi keamanan sendiri.  Apa iya model demikian tokoh agama? Sikap bertanggung jawab itu sudah sewajarnya ada dalam diri orang yang memiliki spiritualitas mendalam.

Korban fisik, luka, atau nyawa memang belum ada. Kerusuhan bisa diantisipasi, namun covid? Siapa yang bisa menjamin tidak apa-apa? Telah mengorbankan empat kepala polisi, masihkah akan merasa benar dan baik-baik saja?

Tentu tidak mendoakan menyebarnya covid, namun sangat mungkin terjadi, karena capek, letih, dan kondisi berdesak-desakan itu sangat rentan terkontaminasi.

Salam  Kasih

Susy Haryawan

4 komentar untuk "Empat Kepala Kepolisian Korban Arogansi"

Berlangganan via Email