Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aseksual: Mencintai Tanpa Hubungan Seks. Normal atau Kelainan?

 

Ilustrasi Aseksual (sumber: liputan6.com)

Menurutmu apa sih bedanya antara cinta dan seks? Sebagai kaum “normal” tentu hal ini penting. Sepasang insan beda kelamin berikhitar untuk menjadi suami istri. Tentu memiliki anak adalah tujuan selanjutnya. Di sinilah seks itu penting.

Akan tetapi tidak jarang juga, seks menjadi penyebab utama dari ketertarikan pria dan wanita. “Buset, seksi banget sih dia, gua pengen banget kawinin dia.”

Bagi manusia yang berakhlak, seks tidak hanya sekedar proses reproduksi, namun juga menjadi ajang rekreasi. Manusia yang menyadari kelebihannya ini (atau kelemahan) akhirnya memutuskan bahwa perkawinan adalah hal suci yang harus dicatat di catatan sipil.

Akan tetapi, pernahkah kamu mengenal seseorang yang menikah bukan karena seks? Paling tidak seks itu tidak penting-penting amat dalam sebuah hubungan? Hmmm, tidak banget kali ya.

Nah, ternyata di bumi ini, ada juga manusia seperti itu.

Dalam istilah kedokteran, Aseksual Namanya. Ia bukanlah penyakit mental ataupun disebabkan oleh kondisi medis yang membuat mereka kehilangan gairah dalam bercinta. Ini hanyalah sebuah makna preferensi seksual.

Penyandang Aseksual biasa disebut dengan “Ace.” Di seluruh dunia, tercatat sekitar 1 hingga 3% manusia yang memilih jalan hidup ini.

Mereka adalah manusia yang memilih hidup dengan menempatkan kebutuhan seks bukan pada prioritas utama. Mereka tidak memiliki ketertarikan seksual baik kepada lawan jenis, maupun jenis kelamin yang sama.

Namun, bukan berarti Ace adalah orang yang dingin dan tidak romantis. Mereka juga bisa jatuh cinta. Bahkan mereka juga manusia normal yang bisa terangsang. Fungsi biologis mereka juga normal-normal saja dan masih bisa bersenggama.

Aseksual adalah orientasi seksual. Tidak ada bedanya dengan homoseksual, biseksual, dan heteroseksual yang dianggap “normal.” Mungkin ada yang memperdebatkan bahwa homoseksual dan biseksual adalah penyakit mental. Namun, masalah preferensi tidak berhubungan dengan standar kesehatan sama sekali. 

Seseorang yang berpenyakit mental cenderung melakukan tindakan-tindakan yang bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Nah, sepanjang tidak ada aksi yang menjurus ke potensi kekerasan seksual terhadap orang lain atau diri sendiri sebagaimana penderita depresi, maka preferensi mereka tentunya masih dianggap normal.

Aseksualitas ada pada spektrum beragam yang menyangkut keinginan dan ketertarikan terhadap hubungan. Setiap individu akan menunjukkan gairah dengan cara yang sangat variatif. Mereka membentuk hubungan intim secara emosional tanpa melihat jenis kelaminnya, bahkan mungkin juga dengan benda personal lainnya.

Hubungan intim bagi Ace adalah persahabatan yang akrab, mencintai dengan tulis, menyanyangi dengan penuh kasih. Semuanya dilakukan dengan menempatkan hubungan seksual pada kolom-kolom terakhir. Kalaupun persenggamaan terjadi, itu juga hanya untuk membangun hubungan emosional dan bukan berdasarkan nafsu syahwat sebagaimana manusia non-ace lainnya.

Bagi seorang Ace, kebahagiaan pasangan adalah segalanya di atas kebahagiaan diri sendiri.  Dalam beberapa kasus, mereka bahkan rela pasangannya berhubungan badan dengan orang lain.

Jangan samakan ace dengan seorang yang memilih untuk hidup selibat, karena hidup selibat adalah memutuskan untuk tidak melakukan kontak seksual secara sadar atas nama agama.

Lantas apa yang menyebabkan timbulnya sindrom ini?

Lebih banyak muncul tanpa alasan, meskipun ada sebagian dari Ace yang mengakui adanya kecemasan kontak seksual akibat tekanan sosial atau trauma masa lalu.

Sekali lagi menjadi Ace adalah pilihan dan bukan penyakit. Jika mereka menganggap bahwa seks bukanlah segalanya dan mencintai seseorang dengan tulus, maka seharusnya hal ini dapat dianggap sebagai cinta sejati. Setuju?

 

SalamAngka

Rudy Gunawan, B.A., CPS®

Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI

 

3 komentar untuk "Aseksual: Mencintai Tanpa Hubungan Seks. Normal atau Kelainan?"

  1. Nyimak artikel mr. Angka 😁

    BalasHapus
  2. Ragu-ragu sih, kalau di tanya setuju apa nggak dengan pendapat iniπŸ™„πŸ˜‚πŸ™☕

    BalasHapus
  3. Banyak sekali pasangan yang seperti ini. Sexless Marriage.

    BalasHapus