Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Antara SKB dan KPB


Dokpri SKB


Beberapa waktu lalu, ada teman yang bertanya kepada saya, kurang lebih isinya seperti ini, “Apakah SKB itu saingannya KPB?”

Saya langsung tertawa ngakak sampai guling-guling, padahal lagi ngopi pakai gula aren kiriman dari Bang Ozzy.

Setelah sakit perut sedikit reda akibat tertawa tiba-tiba, barulah saya coba jelaskan semampunya, apa itu SKB dan KPB.

Setelah mendengarkan penjelasan singkat dan asal-asalan itu, akhirnya teman yang tadi bertanya cuma bisa garuk-garuk kepala sambil cengar-cengir sendiri di depan saya.

Oalah, ternyata selama ini beberapa teman yang sesekali suka nongol di SKB, setelah titip artikel untuk dibaca-baca oleh para penghuni Warung Kopi langsung pamit pergi tanpa basa-basi itu, ternyata masih belum begitu memahami apa itu SKB dan apa itu KPB. Pantas saja dia menganggap bahwa SKB ini adalah saingan KPB.

Hemm, ternyata itu salah satunya, yang membuat mereka selama ini terlihat begitu ragu-ragu untuk menyeduh kopi di dalam warung kopi bersama ini.

 

SKB dan KPB itu apa, sih?

Dari namanya jelas sudah berbeda. Bagaimana dengan tujuan awal dari pendirian dua komunitas ini?

SKB itu singkatan dari Secangkir Kopi Bersama. Walaupun awal mulanya SKB itu dibuat untuk menjadi tempat belajar dan menyimpan artikel-artikel yang sudah pernah tayang di Kompasiana, agar suatu saat jika akun yang ada di Kompasiana itu bermasalah atau tidak bisa diakses lagi, maka masih bisa diakses di blog ini.

Namun, seiring waktu yang berjalan, akhirnya SKB ini bukan hanya menjadi wadah bagi para penulis yang berasal dari Kompasiana saja, tetapi juga menjadi wadah bagi para penulis lain yang biasa menulis di Kaskus, Indosiana dan lain sebagainya.

Rata-rata para penulis yang tergabung di blog gabungan SKB ini adalah para blogger yang sudah mempunyai blog sendiri.  Jadi, mungkin lebih tepat jika SKB itu sebenarnya adalah komunitas para blogger yang ingin saling berbagi kebaikan antara satu dengan yang lainnya.

Sedangkan KPB adalah Komunitas Penulis Berbalas, kadangkala disebut Kompasianer Penulis Berbalas (KPB) itu adalah murni sebagai wadah bagi para penulis di Kompasiana. 

 

Baik SKB maupun KPB sama-sama memilik WAG untuk mempererat tali komunikasi sesama anggota komunitas, walau mungkin  aturan WAG-nya berbeda.

Sebagai contoh, jika di WAG SKB kita akan menjumpai banyak link artikel dari tulisan-tulisan anggota komunitas yang telah mereka tayangkan di media lain, selain dari artikel yang mereka tulis di blog gabungan secangkirkopibersama.com.

Berbeda dengan KPB. Teman-teman yang biasa menitipkan artikel yang mereka tulis di media lain itu, tidak akan  membagikan atau menitipkan lagi linknya di WAG KPB, selain hanya artikel-artikel yang mereka tulis di Kompasiana. Mungkin itu hanya salah satu contoh kecil yang membedakan antara SKB dengan KPB.

Selain dari segi aturan di WAG, jumlah dan anggotanya juga berbeda. Jika para penulis yang ada dan tergabung di dalam WAG SKB, rata-rata adalah penulis yang tergabung di WAG KPB, karena sama-sama Kompasianer.

Namun, tidak semua anggota WAG SKB itu adalah juga anggota WAG KPB. Kenapa demikian? Sebab tidak ada aturan di WAG SKB bahwa anggota yang tergabung di dalamnya adalah harus dari penulis di media tertentu saja. Semua bebas bergabung di WAG SKB asalkan dia adalah seorang blogger pada khususnya.

 

Jadi sekarang sudah pahamkan? Bahwa SKB itu bukan saingannya KPB?

Secangkir Kopi Bersama atau yang biasa di singkat dengan nama SKB ini adalah platform blog yang awal mulanya didirikan oleh Warkasa1919 dengan mengajak Widz Stoops dan Apriani Dinni yang diberi nama Secangkir Kopi yang beralamat di http://secangkirkopi1919.blogspot.com/.

Seiring berjalannya waktu, Widz Stoops dan Apriani Dinni menyarankan, agar blog Secangkir Kopi itu dijadikan sebagai media belajar bersama. Maka selanjutnya diajaklah para penulis lainnya yang biasa menulis di Kompasiana untuk bergabung di blog ini.

Saat itulah, fungsi blog Secangkir Kopi merambah sebagai tempat atau media untuk saling belajar dan mengoreksi artikel yang diposting di sana, sebelum nantinya diunggah ke Kompasiana atau ke media lainnya.

Setelah berjalan kurang lebih dua bulan dan melihat minat dari teman-teman yang bergabung di Secangkir Kopi ini cukup besar, akhirnya Widz Stoops menyarankan kepada Warkasa1919 agar blog Secangkir Kopi ini digarap lebih serius, salah satunya dengan cara membeli domain.

Akan tetapi, sehubungan tidak tersedianya alamat domain untuk Secangkir Kopi, maka setelah melakukan diskusi yang cukup alot antara Warkasa1919, Widz Stoops dan Apriani Dinni untuk menentukan nama dan alamat baru blog yang akan digarap lebih serius maka akhirnya disepakati nama Secangkir Kopi Bersama.

Maka pada tanggal 9 Maret 2020, lahirlah blog Secangkir Kopi Bersama yang beralamat di  https://www.secangkirkopibersama.com/

Selanjutnya, Secangkir Kopi Bersama resmi dijadikan blog gabungan untuk mewadahi para penulis yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri, yang bertujuan memberikan kekayaan pemahaman  melalui tulisan-tulisannya dan tidak harus terikat sebagai penulis di Kompasiana.

Jadi, saya harap teman-teman tahu, jika SKB semakin ramai dan besar itu bukan berarti saingan dengan KPB. Sehingga tidak lagi merasa sungkan untuk meracik dan menyeduh kopi bersama dengan teman-teman lainnya di SKB.

Saya percaya, kita sama-sama sepakat bahwa dua wadah ini adalah tempat kita untuk saling menyapa, belajar dan tumbuh kembang bersama tanpa memandang latar belakang yang berbeda.

 

Salam,

17 komentar untuk "Antara SKB dan KPB"

  1. Ooo, begitu, to?😁😁

    BalasHapus
  2. Ooo, begitu, to?😁😁

    BalasHapus
  3. Ternyata banyak yang salah faham yaaaa, dengan adanya artikel ini membuka pikiran teman2 tentang SKB 😀😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga setelah ini tidak ada lagi yang salah paham hehehe..

      Hapus
  4. 😀😃😀👍

    BalasHapus
  5. Waduh, aku jg utang gula aren dong Pak🤭🤭🤭

    BalasHapus
  6. Ya SKB lebih luas, tidak terpaku melulu kepada Kompasiana. Dan itu keren sekali, membuat penulisnya ingin menulis tanpa berharap nilai, label, predikat, atau pangkat.

    Pokoknya menulis karena ingin menulis.
    Top Pak/Bu Secangkirkopibersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...Iya Om.. Semoga SKB bisa mewadahi semua penulis tanpa melihat latar belakangnya.

      Hapus
    2. Oh ya apa KPB punya blog juga, mas Warkasa?

      Hapus
    3. Waah, kalau itu saya gak tau juga Om😂🙏

      Hapus
    4. KPB Blognya ya di Kompasiana pak Kate... 😁

      Hapus
  7. Penjelasan yg komprehensif. Terima kasih 🙏✌️

    BalasHapus
  8. Sip deh aku suka, meliarkan imajinasi ku di SKB, yuhuiiii

    BalasHapus