Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aku Rindu


Ilustrasi oleh Pixel2013@Pixabay.com 

Aku masih belum bisa menghilangkan rasa itu seluruhnya. Meskipun sekian purnama telah berlalu, dan kita dalam beku. 
Aku memang berniat menjauh darimu, agar tak mengganggu kehidupanmu. Meskipun aku harus berusaha keras, untuk bisa melepas dan melupakan sosok itu.

Tahukah kau? Aku tak mampu, bayangan itu begitu pekat dan seolah nyata. Aku pun bisa merasakan, kau tak ingin kutinggalkan dan berharap ada di sampingmu selalu. 

Bibirmu memang memang membisu, tetapi dari pancaran matamu, kau tengah terbakar cemburu.

Kau tarik tanganku dan berusaha untuk membawaku kembali. Kau tunjukkan sikap dan hasad, agar aku memahami, kau pun rindu padaku. 

Bukankah begitu? 

Kasih, andaikan mungkin kita kembali mesra seperti dulu. Tak ada penghalang bagi kita mencurahkan rasa, mungkin aku akan bahagia selamanya. 

Mungkinkah waktu akan berpihak? Mengurai semua pertikaian dan menyatukan kita kembali dalam bingkai asmara? 

Mungkinkah Dia rida, menyatukan hati kita sebagai tanda kuasa, atas benih cinta yang Ia tanamkan. 

Dia yang menebar, Dia pula yang menghendaki. 

Akankah kita hanya menjalani ujian kesetiaan tanpa pernah menikmati hasil penantian? 

Pasti ada hikmah di balik ini semua. Aku pun yakin kau menunggu saatnya tiba. 

Berusaha setia meski menderita. Tetap mencinta walau terluka. 

Kasih, aku rindu padamu. 


Bumi Gedangan, 1 November 2020 

Any Sukamto

10 komentar untuk "Aku Rindu"

  1. Balasan
    1. Iya, sedalam Samudera Hindia๐Ÿ˜๐Ÿ˜

      Hapus
  2. Kasih aku rindu padamu, sip mba keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜lama gak nulis jadinya kaku๐Ÿ˜„

      Hapus
  3. Berusaha setia, meski menderita. Itu tandanya cinta.

    Hmm...

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Selalu, untuk selamanya๐Ÿ˜๐Ÿ˜

      Hapus
  5. Merindu dan sendu nih kayaknya๐Ÿ™„๐Ÿ˜‚๐Ÿ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, beberapa purnama tak ada sapa๐Ÿ˜๐Ÿ˜

      Hapus

Berlangganan via Email