Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Venezia, Kota Gondola Nan Romantis

Gondola- Venezia. Sumber: dok.pribadi

Venezia di Italia bak magnet yang selalu sukses menarik apapun merapat ke arahnya. Popularitasnya bahkan membuatnya digelari Sang Ratu dari Adriatik, laut yang memisahkan Semenanjung Italia dengan Semenanjung Balkan.

 

Jalan menuju Venezia pun sungguh unik dan menarik. Kota di atas air yang sangat termasyhur di dunia ini bisa dicapai lewat udara, darat dan laut. Dengan pesawat, kereta api, bus, hingga cruise ship (kapal pesiar). 

 

Tidak kalah menariknya, transportasi di pulau Venezia hanya berupa vaporetto (taxi air), speed boat atau gondola. Jalan-jalan utamanya memang berupa kanal-kanal, bukan jalan seperti kita temukan di sebuah kota umumnya.

 

Bandara internasional Marco Polo adalah pintu gerbang utama untuk semua penerbangan ke Venezia. Sedangkan jika naik kereta api dari Milan atau kota lain, bisa sampai di stasiun Santa Lucia, Venezia. Bagaimana kalau naik bus atau kendaraan lainnya? Untuk jenis kendaraan ini bisa hingga Piazzale Roma, lalu langsung ke dermaga Tronchetto untuk selanjutnya dengan vaporetto menuju San Marco, pusat kota (pulau) Venezia.

 

Dan yang tidak kalah populer nya, ikut paket cruise-ship atau kapal pesiar yang banyak berlayar di kawasan Laut Mediteranean dan selalu singgah di Venezia. Kota ini adalah salah satu ‘port of call’ paling terkenal dari rute kapal-kapal pesiar yang berseliweran di perairan Mediteranean. Sebut saja, nama-nama kapal pesiar terkenal, seperti Royal Caribbean, Celebrity, Costa, Norwegian, dll. Semuanya, hampir pasti punya rute yang ada Venezia-nya.

 

Dari kapal pesiar berukuran sedang hingga kapal pesiar dengan kapasitas ribuan penumpang itu. Begitu juga kapal layar mewah (yacht) milik para milyarder yang banyak berlabuh di sepanjang pantai Rivierra -Prancis, juga kerap singgah di kota asal sang pengelana Marco Polo ini.

 

Di musim panas, kesibukan di perairan Venezia meningkat tajam. Kota ini hanya lebih sepi sepanjang musim dingin yang menggigit. Dan tentu saja, di musim corona ini saja, Venezia sementara menyepi. Jauh dari hiruk-pikuk wisatawan yang biasanya memadati hampir setiap sudut San Marco dan sekitarnya.

 

Kapal-kapal pesiar besar yang membuang jangkar di Venezia umumnya hanya semalam-dua malam di sini. Sepanjang hari para penumpang bisa turun mengikuti ‘off-shore excursion’ yang diatur agen perjalanan lokal atau menikmati kota dengan gaya sendiri.

 

Ini kota pejalan kaki. Dan di kota di atas air ini, berjalan kaki adalah kenikmatan tersendiri. Berjalan santai melewati ratusan jembatan yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya. Dan selanjutnya berujung di Piazza San Marco, di mana hampir semua atraksi utama berada.

 

Venezia atau Venice dibangun di atas 120 pulau-pulau kecil dan dihubungkan satu dengan yang lain oleh sekitar 400 jembatan. Fantastis sekaligus romantis! Dan salah satu aktivitas yang seolah wajib dilakukan wisatawan asing adalah naik gondola. Belum sah rasanya, anda mengaku sudah ke Venezia, kalau belum naik gondola!

 

Naik gondola di Venezia. Sumber: dok.pribadi

Gondola, yang sudah ada di Venezia sejak abad ke 11, adalah alat transportasi utama di Venezia, seperti ‘taksi’ yang mengantar penumpangnya menelusuri kanal-kanal di kota yang disebut-sebut paling romantis di dunia ini. 

 

Jadi ingat lagi, ketika pertama kali ke kota ini bersama mantan pacar, naik gondola ditemani tukang gondola yang pintar bernyanyi. Memang benar, atmosfir romantis begitu kental membungkus semua pasangan yang pernah menyusuri kanal-kanal di atas gondola.

 

Sudah puluhan film dibuat di Venezia dengan gondola. Seakan ingin meyakinkan semua penonton bahwa film itu memang benar dibuat di Venezia! Venezia yang di Italia, bukan Venetian Hotel di Las Vegas atau yang di Macau.

 

Hasil karya orang Venezia ini begitu terkenal di dunia, sehingga gondola sudah dianggap sebagai simbol kota Venezia itu sendiri. Dengan bentuk yang agak asimetris, gondola terlihat sangat unik. Kedua ujung, depan dan belakang, agak sedikit melengkung ke atas. Bentuknya ini juga sekaligus memperhitungkan bobot dari si tukang gondola-nya.

 

Panjang sebuah gondola sekitar 11 meter, lebar sedikit kurang dari 1.6 meter dan berat 350 kg. Dibutuhkan 280 potongan kayu oak yang telah dipotong dengan presisi tinggi untuk membuat sebuah gondola. Proses pembuatan sebuah gondola bisa sekitar dua bulan.

 

Badan perahu gondola dicat warna hitam, sedangkan sebagian kabin kadang diberi sedikit aksen warna merah, begitu juga dengan tempat duduk penumpang. Sedangkan, di bagian depan terdapat sebuah dekorasi dari besi yang disebut “ferro”. Bentuk ferro yang seperti sisir dengan 6 sirip itu konon baru digunakan 200 tahun lalu. Ke-6 sirip itu sendiri mewakili 6 sestieri atau distrik di kota Venezia. 

 

Gondola di San Marco-Venezia. Sumber: dok.pribadi
Gondola di San Marco-Venezia. Sumber: dok.pribadi

Bagaimana, Apakah anda sudah mulai bisa membayangkan bentuk sebuah gondola? Ternyata dengan bentuk unik ini, gondola cukup mudah dikendalikan hanya oleh satu orang tukang gondola dengan satu tongkat dayung panjang. Aha, mungkin mudah bagi dia, bukan bagi kita-kita. Haha.

 

Tukang gondola alias gondolier yang berpengalaman mampu menyetir gondolanya melewati kanal-kanal sempit. Begitu gesit menyusuri kanal dengan tikungan tajam sekalipun. Kalau kena macet di kanal sempit atau pas ketemu gondola lainnya, suasananya pun mirip kemacetan di perempatan jalan di Jakarta. Bedanya, kemacetan di kanal-kanal Venezia tidak diiringi suara klakson mobil, tapi justru ditemani suara nyanyian bak Andrea Bocelli.

 

Jumlah tukang gondola (gondoliers) saat ini sekitar 400. Tukang gondola berlisensi lho. Profesi ini diwariskan turun-temurun, dari bapak ke anak. Di masa lalu, mereka menggunakan baju-baju yang mewah, tapi sekarang cukup dengan celana hitam dan kemeja putih atau ‘polo-shirt’ berwarna hitam atau merah bergaris.

 

Warna hitam atau merah biasanya mewakili perusahaan pengelola gondola yang berbeda. O ya, jangan berharap semua tukang gondola pintar bernyanyi. Sebagian di antaranya bahkan diajak berbicara pun hanya senyum saja.

 

Kalau mau ditemani seorang penyanyi, Anda harus menyewa gondola plus musisi-nya. Musisi ini yang biasanya bisa memainkan alat musik akordion sambil bernyanyi. Dan salah satu lagu yang populer dinyanyikan biasanya O Sole Mio, meskipun lagu tersebut sebetulnya berasal dari Napoli.

 

Che bella cosa na jurnata ’e sole

N’aria serena doppo na tempesta

Pe’ ll’aria fresca pare già na festa

Che bella cosa na jurnata ’e sole.

 

Banyak di antara para gondolier masih berusia muda dan tampan. Mirip-mirip mantan pesepakbola top Italia, Francesco Totti. Maka tak heran, ketika penulis sendiri lebih suka memotret gondolanya, banyak penumpang wanita, khususnya gadis-gadis remaja, justru minta difoto dengan tukang gondolanya!

 

Barangkali, sambil membayangkan ketemu Casanova. Itu lho, si advonturir Italiano kelahiran Venezia yang punya reputasi legendaris dengan kaum wanita. :)

 

Jakarta, 26 Oktober 2020

Oleh: Tonny Syiariel

 

Catatan: Foto-foto adalah koleksi pribadi

 

8 komentar untuk "Venezia, Kota Gondola Nan Romantis"

  1. Terima kasih untuk artikelnya Mas. Bermanfaat☺️👍

    BalasHapus
  2. Ternyata mas Tonny tidak hanya traveller tapi juga photographer. Potona keren-keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Widz.
      Fotografi sdh hobi lama dan dulu hanya share di IG. Tdk pernah nulis artikel di blog. Hehe
      Salam

      Hapus

Berlangganan via Email