Header Atas - Panjang

Teruntuk Nona Berjuluk Ainul Hidayah

 


                    Dokpri Ainul Hidayah


Pukul 01:15 WIB tengah malam. maaf nona, namamu telah menjadi bahan perbincanganku dengan Tuhan. Perihal bayanganmu yang beberapa akhir ini selalu menghantui. 


Dan mulai malam itu juga, terciptalah untaian aksaraku tentangmu. Kau ingin membacanya? 


Seperti ini.


//

Ainul Hidayah, kini sakramen khayal membasuh aku dengan penuh seri. Membangkit semburan hasrat yang tersekat dalam angan sehingga membongkar tirai hati untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu dengan penuh rasa kagum.


Ainul, barangkali engkau adalah wanita yang kemarin bersenggama di hati ini kala malam tiba,

Sehingga puing-puing kenangan kembali bergelora dalam darah yang mengalir dan mengguyur tubuh hingga tak terukur. Aku sekarang melihat dengan lihai, tubuhmu.


Sebab eloknya itu adalah aset terseksi milikmu. Perihal puisi indah yang tak pernah habis dicipta, juga dirimu perihal syair paling anggun. Sehingga tak ada perhatian lain selain mata menikmati erangan irama rentetan yang penuh pesona


Ainul tersayang….

Seusai pertemuan pertama saat merah fajar menggambar langit. Nafsuku berkabut menguasai jiwa, bahkan rinai cinta kini datang menghujam dengan penuh sejuk. Lalu mengalir dan membendung memenuhi akalku.


Disini, aku menjulur lidah menapaki tepian waktu Mencoba mengungkapkan segala rasa. Dan aku ingin memilikimu secara utuh, sembari menunggu saat yang tepat.


//

Ainul Hidayah, andai saja khayal akan asmara setara perbuatan. Barangkali kita adalah pasangan terserasi sepanjang sejarah manusia. Sebab pesona cinta yang berdiam dan bergetar debar dalam kalbu selalu berkecamuk riang.


Dan bila engkau terima aku menjadi belahan jiwamu. Aku akan menyusun strategi, biar malam-malam kita nanti selalu dibarengi kisah kasih bernuansa romansa. Dan bila kita melalui hari-hari, Aku akan selalu membelai rambutmu yang ombak itu. Dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mencumbumu sampai mabuk agar menghapus seribu resahmu.

_______________

Seperti itu Nona, sekali lagi aku memohon maaf. Jika diam-diam aku mempunyai rasa tentangmu. 


Aku tak sedang merayumu. Tapi ini ungkapan hatiku. Jika kau merasa risih, maaf aku akan mundur secara perlahan.


Terimakasih.


Kediri, 18 Oktober 2020

Buah karya: Abdul Azis Le Putra Marsyah.

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Dan... seandainya Ainun membacanya

    BalasHapus
  2. Wooowwww tumben nama yg lain 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung Anggraeni lagi ke luar kota 🀣

      Hapus
  3. Waduuuh

    Semoga Anggraini gak membaca iniπŸ™„πŸ˜‚πŸ™

    BalasHapus