Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tempo, Azab itu Tidak Lama

 

Tempo, Azab itu Tidak Lama

Menarik, pagi-pagi rekan di grup percakapan membagikan surat terbuka karyawan Tempo yang akan di-PHK. Alasan yang tidak jelas, dan masih menunggu dari pihak manajemen. Si karyawan merasa tidak ada alasan yang cukup untuk mem-PHK dia. Tanpa ada tindakan sebelumnya yang cukup fatal, 19 tahun.

Ia juga mengemukakan, bagaimana klaim Tempo dalam banyak kesempatan yang berpijak pada keadaan ideal. Ternyata malah menjadi pelaku “ketidakadilan”, apalagi ketika melakukan tawaran pesangon 1.5 kali gaji. Padahal belum sebulan mereka berteriak kencang karena adanya pengurangan dari 32 kali gaji ke 25 kali gaji, dan tambahan lainnya. Fokus bukan pada ini, tema ini bisa diolah pada kesempatan lain.

Belum terlalu lama, Tempo dengan demikian jemawa menarasikan dan menggambarkan Presiden Jokowi dengan gambar kartun Pinokio, hidungnya panjang sebagai gambaran pembohong. Atas nama kebebasan pres.

Jokowi sebagai pribadi atau presiden tidak bereaksi. Tanggapan yang seharusnya. Sikap yang baik bagi pembelajaran bersama. Namun tidak salah pula, bila para pendukung Jokowi melakukan hukuman publik melalui rating atau penilaian buruk dalam applikasi Tempo. Terjun bebas menembus angka satu (1).

Mungkin bagi mereka rating itu sekadar angka, dan masih bisa mendapatkan dana dari pihak lain. Mengulangi dengan  tema yang sama. Pun menggambarkan Burung Garuda sebagai lambang negara yang tercabik-cabik. Ini sih sudah keterlaluan. Dewan pers juga tidak bertindak.

Menarasikan kalau istana memelihara buzzer, padahal kemudian mereka sendiri seolah mengaku dengan terus terang meskipun tidak langsung, mereka menjadi agen propaganda Freeport. Hayo, siapa yang buzzer jika demikian. Buzzerrp untuk mendeskreditkan istana.

Riuh rendah UU Cipta Kerja, lagi-lagi Tempo menggerakan framing atau narasi yang sangat kasar. Bagaimana tidak, ada ajakan untuk membangkang. Pembangkangan sipil, meskipun tidak jelas siapa yang dimaksudkan, ajakan untuk siapa. Toh upaya tindak makar itu sudah ada. Memang masih terlalu sumir, dini, dan ngaco jika dipidanakan.

Masalah adalah, ketika mereka merasa paling hebat, mirip dengan si karyawan menyebut,  pengak hukum saja kalah dan dikuliti habis-habisan oleh Tempo, namun mereka menabrak hukum, demi yang  katanya demokrasi. Mereka masuk ranah kudeta, jika ini negara represif, ingat, mereka pun sering menuding ke mana-mana dengan kata ini. Lha mereka ugal-ugalan saja selamat kog bisa menuding demikian keji.

Membela  buruh atas nama UU Citpa Kerja yang dinilai menindas buruh. Seolah ini adalah tindakan heroik, membela yang lemah, mencitrakan pemerintah sebagai penindas, pembela pengusaha, dan demi investasi mengorbankan rakyat sendiri. Lha memangnya Tempo bukan majikan atau pengusaha pada satu sisi?

Ternyata azab itu tidak lama, meminjam judul sinetron dan kata-kata orang ketika mendengar berita buruk. Bagaimana digdayanya Tempo, Presiden RI yang banyak mendapatkan pujian di mana-mana, Tempo sekalipun tidak pernah. Eh malah mau menjadi pelaku perbudakan di era modern ini. Bagaimana UU lama,   bukan UU Cipta Kerja, apalkah Tempo malah tidak lebih parah  payah untuk menyiapkan pesangon 32 x 19. Eh mamunya malah hanya 1.5 kalinya.

Ironisnya, lagi-lagi julidnya netizen bagaimana mereka malah membeayai buzzer untuk membagikan tayangan, status, atau ciutan mereka di media sosial. Miris, bagaimana soal uang dan idealisme yang diangkat kadang bisa bertolak belakang.

Pembelajaran bersama, bagaimana  orang atau lembaga itu tidak perlu ekstrem, merasa diri paling dan menafikan pihak lain. Selalu ada kebaikan dari apapun juga. Nah ketika sudah merasa yang paling, akhirnya menilai dan menglaim diri sebagai hakim atas nasib, keadaan, dan bahkan menilai motivasi pihak lain. Ini masalah, baik untuk manusia atau lembaga.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akan gawal juga. Mengapa demikian? Karena si  tupai keasyikan dan kehilangan fokus. Binatang kecil ini termasuk suka bermain dan menampilkan diri dengan kelincahannya. Nah ketika terlena jatuhlah ia.

Sama dengan monyet yang jatuh oleh angin sepoi-sepoi dari pada angin puting beliung. Angin kecil membuatnya tertidur dan terlena, abai akan pegangan dan keamanan dirinya. Berbeda ketika angin kencang, ia mencari perlindungan dan menautkan diri agar tidak jatuh.

Siapa menyangka dengan keberadaan Tempo yang demikian digdaya itu, jatuh pada titik terendah dan malah menjadi pelaku apa yang selama ini mereka lawan, serukan untuk ditinggalkan. Abai akan pelaku yang membesarkan mereka, dan pada sisi lain menebarkan suara-suara kenabian yang seolah angin surga.

Rating satu mereka masih bergaya dan menghina siapa saja yang mereka pandang tidak sejalan. Tentu ini bukan membela Jokowi dan pemerintah, lha mengapa mereka diam seribu bahasa atas perilaku ugal-ugalan Pemrov DKI dengan segala kengacoannya?

Obyektif, netralitas, dan lepas kepentingan itu utopis, namun tentunya diupayakan demikian, mendekati yang obyektif, netral, dan mampu menipiskan kepentingan sendiri dan kelompok. Semua porak poranda. Jangan nanti malah menuding pemerintah juga.

Salam kasih

Susy Haryawan

 

10 komentar untuk "Tempo, Azab itu Tidak Lama"

  1. Jadi karyawannya didzolimi ya.

    BalasHapus
  2. Hadir! Ikut menyimak Om☺️🙏

    BalasHapus
  3. Tempo memang sudah kehilangan independensinya sejak lama. Ada kabar burung bahwa Tempo melakukan banyak cara spy iklan mereka ttp ngebul dng mengorbankan cover both sides & independensi berita.

    Tdk heran kalau ada wartawannya dizalimi juga.

    Salam, Om Susy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh
      Investigasi jga gak yakin cenderung bocoran
      Banyak akun bodong share postingan mrk
      Salam hangat Mbak

      Hapus
  4. Maling teriak maling dong ya. Ntar kalo ada massa demo lagi boleh dicoba destinasi baru, kantor redaksi Tempo, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huik hik tapi hebat media gede pada diem apa khawatir karma

      Hapus

Berlangganan via Email