Header Atas - Panjang

Tak Ada Waktu yang Tepat tuk Berpisah

 Di pagi yang gerimis, seorang lelaki dengan motor bututnya menembus dingin yang teramat, melewati jalan basah dipenuhi kebun liar di kanan kiri. Hanya sebentuk jaket kain hijau tua yang kusam, menghangatkan kulitnya yang gelap.

Aku tau perjalananmu cukup jauh, menghalau jalan-jalan kota pula. Dari sana engkau pasti menarik gas dan rem darurat bergantian.

Aku masih terpaku sesudah perpisahan sepuluh menit lalu. Engkau pamit lalu kita berpisah. 

Aku menatap luar jendela. Masih gerimis.

Beberapa pot Krokot dari bekas ember cat, turut basah sejak hari masih gelap. Sepagi ini ia sudah mekar sebelum engkau pergi. Seolah menunjukkan baktinya. Bunga yang kau bawa untukku, suatu hari sepulang engkau bekerja.


Foto: dokpri

Mengapa bunga yang harus engkau bawa, dan beberapa bungkus biskuit untuk anak kita di hari engkau menerima gaji? Serta beberapa keping cokelat dollar kesukaan si kecil?

Ingin kujatuhkan air mata kesedihan. 

Setiap hari engkau harus meninggalkanku. Dengan sedikit uang bensin di saku jaket kain hijau tua yang kusam, serta beberapa tembakau gulung di bagian yang lain.

Aku tak ingin berpisah. Apakah engkau tau?

Aku memandangimu tidur, semalam. Menyaksikan kelelahan menjadi selimutmu. Sampai pagi engkau bahkan tak membuka mata.

Sudah kukatakan pada anak-anak kita. Pada cuaca cerah seperti ini, abahmu dibakar matahari yang panas, sampai peluh membasahi punggungnya.

Anak-anak kita harus tau, seribu cara untuk menghormati engkau. Mungkin dengan nilai di sekolah yang terbaik, mungkin dengan sopan santun bicara kepadamu saat engkau di rumah, atau dengan menghabiskan setiap isi piring makannya.

Aku tak ingin berpisah dengan lelaki sebaik engkau, walau sehari saja. Apalagi di hari yang dingin seperti saat ini, saat aku seharusnya bisa membuatkan segelas kopi panas untukmu.

"Saya harus kerja," katamu biasanya saat aku mulai merengek. 

Sebuah kecupan yang terlalu lama dan hangat untuk menghiburku, saat engkau pamit. Aku selalu melambai dengan sedih.

"Saya laki-laki, saya tidak bisa tinggal di rumah..."

Aku masih terngiang. 

Aku menikmati kalimatmu yang pendek dan setengah berbisik. 

Tak ada waktu yang tepat untuk berpisah. 

Aku selalu gagal melepasmu dengan senyuman rela. Engkau lelaki terbaik untukku.



Posting Komentar

12 Komentar

  1. Selalu gagal melepasmu dengan senyuman rela. Duh!

    Detail seperti kerap gagal saya buat Bu Ayra, butuh kesabaran mengolah imaji menjadi cuplikan-cuplikan kecil yang runut satu sama lain. Keren. Wah bahasanya mesra dan lembut mengalir... Konflik yang sederhana nampak mewah jadinya. Mengubak perasaan seorang perempuan dengan detail yang menawan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...komen yg sangat berarti untuk saya, mbak Desi...

      Terima kasih banyak untuk perhatiannya...

      Salam😊

      Hapus
  2. Lelaki kata orang Sunda, panjang lengkah.. wah keren ya.. jadi ingin berinteraksi dengan penulis nih

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah...saya pun belajar dari tulisan orang lain...

    Guru tak dikenal.

    Thanks mas Indra...

    BalasHapus
  4. Romantis dan keren ceritanya☺️👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...senang dehh kalau terasa sisi romantisnya😊

      Hapus
  5. Balasan
    1. Cerita suami yang sangat dicintai karena kebaikan-kebaikannya, hehehe...

      Terima kasih sdh membaca...

      Hapus
  6. Mantap mbak bisa moment sederhana yang dibungkus secara apik. 👍🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...aamiin...semoga bisa membuat cerita yang apik

      Terima kasih mbak...

      Hapus