Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sumpah Pemuda, Teguran Megawati, dan Kecemburuan Sosial

 

Sumpah Pemuda, Teguran Megawati, dan  Kecemburuan Sosial

Selamat Merayakan Hari Sumpah Pemuda, bukan ampasnya atau abunya, namun api itu yang layak dijaga nyalanya. Eh dalam waktu yang bersamaan ada sebuah teguran bagi pemerintah, presiden, dari ketua umum partai pemenang pemilu. Malah berkaitan dengan pemuda pula, kaum milenial.

Hal yang akan selalu demikian, yang muda iri, orang atau generasi tua, jalan saja tidak tegap, apalagi melangkah untuk membawa negeri lebih baik. Yang generasi old, atau sepuh mengatakan anak-anak muda, masih hijau, mereka belum punya jasa, buat apa diberi kepercayaan atau kemanjaan, malah membuat mereka nantinya kolokan, perlu kerja keras biar tahu rasanya berjuang.

Generasi menengah bisa kacau kalau tidak memiliki sikap, ketegasan, atau pemikiran progresif untuk menjembatani kedua generasi yang susah untuk bertemu. Sama juga antara generasi simbah dengan cucu. Jembatan antara itu orang tua, atau anak dari si simbah. Mereka bisa mengerti kedua belah pihak. Pas Jokowi memang ada di antara mereka berdua.

Jangan salah, generasi tua itu sudah saatnya untuk menuju pensiun, meninggalkan glanggang untuk mandita dan menjadi negarawan. Mereka benar pernah berjasa, tapi jangan lupa, generasi muda  itu perlu juga diberi kesemptan. Selama ini generasi tua sangat nyaman dan lama menguasai negeri, jadi mereka enggan untuk mau memberikan kesempatan.

Benar bahwa generasi muda jangan dimanjakan, tapi jangan lupa, siapa yang akan menguasai dunia ini untuk dua tiga dasa warsa ke depan. Jika terlambat sedikit saja, sudah habis, seperti era 50-an yag tidak sempat memimpin negeri ini karena enggannya generasi 30-40-an untuk tahu diri. Lha sekarang pun masih inginnya ada di tangan mereka.

Keluhan generasi milenial itu generasi texsbook,  susah ketika diajak aplikatif, iya benar, dan itu makannya perlu banyak waktu, sejak awal dibina, diajari, untuk mampu bekerja dengan sistem yang semestinya. Jokowi memiliki visi bagus karena memang usianya pas bersama-sama dengan generasi milenial ini.

Pemahaman dan penerimaan itu menjadi penting. Syukur bahwa generasi 60-an yang memimpin ketika masa transisi, dengan kemajuan teknologi informasi yang ada seperti ini. Dengan segala hormat bukan soal menghina, ini faktual, angkatan 40-an tentu kesulitan dengan segala aplikasi dan kemajuan dunia teknologi dan informasi yang demikian cepat dan progresif ini.

Apa yang Megawati sampaikan memang baik adanya, namun toh tidak harus menjadi perhatian dan sepenuhnya menjadi persoalan yang berlebihan. Nasihat yang wajar, bukan memanjakan itu baik. Memberikan kesempatan itu juga lebih baik dan penting. Tentu ini beda konteks dan maksud.

Generasi milenial berbeda dengan generasi lampau dan masa lalu, jelas, pola kerja mereka juga lain sama sekali. Perlu kejelian dan kecerdasan untuk mengelola energi mereka ini. kemampuan jauh berkembang lebih maju dan cepat dari generasi lampau. Nah ini adalah kekuatan yang mengimbangi keluhan mereka terlalu asyik dengan dunia media sosial.

Beri mereka kesempatan bukan kekangan untuk menghasilkan sesuai dengan apa yang diharapkan. Mereka memiliki pola dan sistem yang jelas saja berbeda. Basis mereka data dan teknologi, dan itu tidak dimiliki kalangan lampau. Intuisi mungkin lemah karena tidak lagi diasah atau bahkan digunakan. Kolaborasi ini bisa dilakukan oleh generasi menengah dan selama ini bisa berjalan dengan relatif baik.

Sistem feodal, merasa paling berjasa, paling benar, suka atau tidak tetap kuat. Termasuk PPS dan merasa tersingkir itu hal yang normal bagi generasi yang sudah lewat. Merasa ditinggalkan dan tidak mendapatkan penghargaan atau penghormatan. Hal yang sering terjadi dalam hidup di tengah keluarga sekalipun.

Cucu kepada simbah mereka sering salah paham, karena memang generasi, dan itu tidak ada yang salah sebenarnya. Si cucu berpikir dengan paradigma mereka, si simbah pun demikian. Ketika sama-sama ngotot, keras kepala ya berujung pada masalah. Tidak ketemu karena memang kedua generasi itu terlalu jauh untuk bisa saling memahami.

Komunikasi. Nah ini  menjadi penting. Antargenerasi itu ketemu dan sharing atas apa yang mereka lakukan dan impikan, belajar dari sesepuh dengan pengalaman mereka. Generasi muda rendah hati untuk kadang dicomeli.

Toh generasi tua juga pasti akan dengan sangat terpaksa mau belajar untuk bertanya mengenai  hal yang kekinian, ini bukan hal yang mudah bagi para pinisepuh. Susah bagi mereka untuk mengakui keterbatasan mereka.

Kecemburuan semata yang tidak perlu dianggap serius. Masa depan bangsa dan dunia memang akan ada di tangan generasi milenial kog. Itu alamiah, bahkan kodrati. Tidak dipersiapkan sejak sekarang mereka bisa kaget dan malah bisa berabe.

Pini sepuh waktunya untuk melihat, menyaksikan, dan menjadi penasihat, jika melenceng terlalu jauh ya dijewer, tidak perlu teriak-teriak seperti kakek ketlingsut gigi palsunya.

Salam Kasih

Susy Haryawan

10 komentar untuk "Sumpah Pemuda, Teguran Megawati, dan Kecemburuan Sosial"

Berlangganan via Email