Header Atas - Panjang

Tanpamu Aku Rindu

  

Foto: blog.shopback.co.id


Suatu hari aku merasa rindu padamu. Terutama saat kau belum pulang dari bekerja seharian. 

Kukenang dirimu dengan sengaja, atau teringat begitu saja, sulit diterjemahkan. 

Ingat tentang dirimu di masa lalu saat kita belum satu perahu mengarungi bahtera. Yang paling kuingat adalah kau teramat romantis. 

Bukan itu saja. Kau seperti atap yang melindungiku dari basahnya hujan. Seperti dekapan paling hangat yang menenangkan setiap saat. Rasanya kau adalah pilihan terbaik dan paling tepat. Demikian bisik hati kecilku.

Aku masih menunggumu pulang, dari bekerja seharian. 

Aku masih berjaga-jaga dan mengintip dari tirai jendela. Aku begitu rindu. 

Rasanya seharian ini ada begitu banyak peristiwa yang ingin kuceritakan. Walau aku tau kau tak terlalu ingin tau. Perasaan lelah telah menenggelamkanmu dalam duduk diam. Menatap kosong pada televisi kecil kita sambil sesekali seruput kopi.

Oya, bicara tentang kopi, aku pernah mengatakan padamu aku bosan membuat secangkir kopi terutama saat pagi hari. Rasanya tak enak, bangun pagi dan terburu memanaskan satu mug air dan menunggunya sebentar.

Saat bangun pagi yang kuinginkan adalah melalap udara pagi yang segar. Mencari-cari apakah matahari sudah muncul dari sela akasia tua. Menatapi apakah ada tanda sebesar apa hujan yang jatuh semalam.

Aku bosan memasuki dapur saat badanku masih lesu dan tulang sendi terasa berat.

Aku lelah menjaga anak-anak kita seharian sebelumnya. Aku merawat mereka sejak bayi dari hari ke hari. Semua itu seperti deretan hari-hari yang panjang yang membuatku lupa me time. Aku juga lelah mencuci pakaian kotormu dan anak-anak, apalagi saat ujung jariku terasa perih dan bengkak karena alergi sabun. Belum lagi aku harus pula memasak makan siang secara lengkap.

Jadi bolehkah aku membuat secangkir kopi hanya saat kau pulang?

Harus kuakui terkadang aku benci dirimu. Kau adalah lelaki yang tak bisa mengabulkan inginku yang mudah saja. Kau memperlakukan aku seperti seorang wanita kuat yang tak akan merengek padamu. Padahal dulu kau selalu pasang badan untukku, sebelum kita satu perahu mengarungi bahtera ini.

Ingat menit-menit pertama kau duduk tergugu sepulang kerja. Berapa banyak kata yang bisa kau berikan untuk wanita yang dulu kau sebut sakura karena keindahannya? Untukku?

Aku begitu tersinggung karena tak kau hiraukan. Berita apapun, pertanyaan apapun, kau sering tak mendengarkan, sementara aku sudah seharian menunggumu sejak kau pergi tadi pagi.

Sampai akhirnya aku tahu lelaki tak punya banyak "memori" untuk menampung keluh kesah pasangannya. Paling lama hanya lima belas menit. Ohh.

Mungkin inilah yang disebut taktik. 

Seorang wanita harus pintar-pintar tarik ulur benang layang-layang. Wanita tak boleh cengeng dan membesar-besarkan masalah. Sekalipun wanita ahli menangis di belakang punggung suaminya.

Tak terasa gelap mulai merayap. Engkau belum juga pulang. 

Malam yang hitam mulai memburamkan pandangan. Tak kulihat jaket lusuhmu memasuki halaman. Hatiku ikut terasa gelap.

Kupandangi ceret pemanas air di atas kompor. Apinya sudah sejak tadi tak menyala. Uap yang terbuang sejak lama, menurunkan suhu cukup banyak. Seandainya kau tak terlambat pulang, saat peluit ceret berbunyi, waktu yang tepat untuk membuat secangkir kopi nikmat. Tak terlalu manis, dan cenderung kental, katamu.

Bukan. Bukan masalah air ceret yang sudah menjadi suam kuku jika kau pulang terlambat. Tetapi aku yang tersiksa oleh rasa rindu.

Aku bohong saat marah-marah dan bilang benci padamu. Aku seperti bunga yang layu tanpa canda jenakamu menggodaku. Aku ingin kau segera pulang dan melihat betapa sedap masakanku hari ini. Semua adalah menu kesukaanmu, bukan? Aku akan sumringah begitu kau memuji dengan kata: "enak nihh..." Lalu kau akan menghabiskan semuanya tanpa sisa.

Tapi sudahlah, aku tak ingin terlalu berharap. Aku juga kesal setiap kau lupa mencium keningku sebelum tidur. 

Bukan hanya itu. 

Kau tak pernah membantu anak-anak kita belajar, kan? Kau menyerahkan banyak urusan pada wanita sepertiku. Kau tak lagi seperti dulu yang menjadi atap pelindungku dari basahnya hujan. 

Perlu engkau tau aku tak sekuat itu. Tanpamu aku rindu. Ingin engkau romantis seperti dulu. 

Tetapi gelap di hatiku berubah ceria, saat tiba-tiba terbaca whatapps mu di layar:

Assalamu alaikum dek. Saya disuruh lembur sama bos. Kalau adek ngantuk, tidurlah dulu. Jam sepuluh saya pulang. Pesan apa, mi ayam langganan? Ekstra telur kan?

Terima kasih suamiku tercinta. Maaf aku terlalu rindu untukmu.


#kudedikasikanuntuksuamiku

Posting Komentar

19 Komentar

  1. Mantap😊

    Maaf mba keterangan foto dicantumkan dari mana πŸ™πŸ™ biar pas di share di medsos, kami tidak kena tegur

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

      Hapus
    2. Maaf...lain kali saya akan berusaha cantumkan

      Belakangan ikon penulisan, susah...saya buat dari hp saja bukan paptop

      Mohon maaf

      https://blog.shopback.co.id/wp-content/uploads/2017/03/ed7f4db847052191b31e8912e10eea98.jpg

      Hapus
    3. Siiip πŸ˜πŸ‘πŸ‘πŸ‘

      Hapus
  2. Rindu teramat sangat ...

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Alhamdulillah...kelas pemula, mbak Apriani...

      Hapus
  4. Cerita yg indah mbak...
    Wanita memang harus kuat ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...semoga menyemangati wanita yang ldr dari pasangannya...

      Hapus
  5. Balasan
    1. Suami yang tulus, membuat istrinya rindu menggunung yaa, mas Budi Susilo..

      Hapus
  6. Akhirnya berhasil masuk ke warung kopi ya☺️πŸ˜‚πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya...Ternyata hanya perlu menunggu...
      Alhamdulillah

      Hapus