Header Atas - Panjang

Sonya dan Bubuk Kopi

 


id.depositphotos.com


Namanya Sonya, ia malu-malu menyebut namanya, setiap sore berdiri depan rumah, rambut terurai tak peraturan, hanya pakai kutang dan kain pendek.


Namanya Sonya, setiap hari ia selalu meminta bubuk kopi. Ya bubuk kopi tanpa air, gula apalagi susu. Bubuk Kopi ia kunyah seperti memakan kue yang lezat.


Namanya Sonya, bila tertawa giginya hitam penuh bubuk kopi, meski berumur hidupnya tanpa beban. Bahagianya sederhana bila ia dapat mengunyah bubuk kopi di mulutnya. 


Namanya Sonya, ia mau membantu menyapu halaman  meski bayarannya  bubuk kopi. Dimatanya bubuk kopi lebih berharga dibanding uang apalagi perhiasan. 


Namanya Sonya, ia lebih memilih bubuk  kopi dibanding sepiring nasi dengan lauk pauknya. Ia tak pernah meminta cuma-cuma bubuk kopi, ia keluarkan keringat dan tenaganya untuk mendapat bubuk kopi.


Namanya Sonya, entah dimana ia kini setelah puluhan tahun tak melihatnya. Setelah aku tinggalkan kampung halamannya.


Namanya Sonya, perempuan Desa dengan mata polos meski telah berumur, entah kenapa hati ini merindu tatapan polos mata itu.


Namaku Dinni, meski saat itu masih kecil ia dapat merasakan tatapan tulus seorang perempuan kumal yang  dianggap tak waras. Perempuan kumal itu selalu menerima bubuk kopi dari tangan mungil perempuan kecil di masa itu.


ADSN1919

Posting Komentar

15 Komentar

  1. Ouh.. kereen.
    Cita-citaku hanya sederhana, menyeruput kopi pagi setiap hari, berbaristakan atas namamu.

    BalasHapus
  2. Namanya di desa sudah berbau korea ya mbak Dinni 😁 Son Ya Hye.. Korban drakor emaknya kayaknya heheh

    Salam πŸ™ sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ€£πŸ˜‚πŸ˜‚ ternyata mas Katedra penggemar drakor Korea 😊😁

      Hapus
  3. Enak bacanya, setiap penggambaran terdengar masuk akal dan natural. Itulah fiksi.

    BalasHapus
  4. Sonya...oh sonya...

    Ttd
    Peri gigi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peri gigi ohhhh peri gigi πŸ˜πŸ˜‚

      Hapus