Header Atas - Panjang

Sindrom Otak Buaya Penyebab Tumbuh Suburnya Hoax

 


Arti Hoax adalah kabar, informasi, atau berita palsu. Hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi yang sebenarnya.

Zaman dulu, istilah hoax tidak dikenal. Meskipun memiliki esensi yang sama, Hoax zaman dulu hanya bergelar “kebohongan”, titik.

Dengan demikian istilah ini tumbuh beserta perkembangan teknologi, khususnya penggunaan medsos oleh warga dunia maya yang disebut dengan Netizen.

Apa sih perbedaan kebohongan dengan hoax, selain masalah perkembangan teknologi? Yang paling jelas adalah kebohongan dilakukan oleh mulut, sementara hoax dilakukan melalui sentuhan jari.

Oleh sebab itu, istilah ‘Mulutmu harimaumu’ pun sekarang sudah berubah jargon menjadi ‘Jarimaumu’.

Pun halnya dengan nasehat orangtua ‘Jaga mulutmu’, sekarang sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Kebohongan sudah mereda, karena anak-anak sudah sukses menjaga mulutnya.

Namun sayangnya, eyang dan nenek tidak pernah memberikan nasehat ‘jaga jarimu’, sehingga hoax pun merajalela bagaikan jamur di musim gugur.

Hoax jelas lebih mudah menyebar dibandingkan dengan kebohongan. Bagaikan virus corona yang bermutasi dari pendahulunya, begitu pula dengan hoax.

Sebabnya, untuk menyebarkan kebohongan, seseorang harus melatih wajahnya, bahasa tubuhnya, hingga intonasi yang meyakinkan pendengar agar masuk ke dalam jerat.

Sementara Hoax hanya perlu dilakukan melalui dua gerakan jari. “copy-paste”. Titik!

Lebih parahnya lagi, meskipun kampanye ‘hentikan hoax’ sudah didengungkan, tetap saja manusia masih getol menyebarkan hoax.

Mengapa hal ini terjadi?

Ternyata para ahli dan peneliti sains kognitif telah menemukan hal yang disebut dengan Sindrom Otak Buaya (The Crocodile Brain Syndrome).

Otak buaya sendiri atau bisa juga disebut sebagai “mammalia brain” adalah bagian dari otak yang pertumbuhannya paling awal. Pada saat manusia lahir, sebelum seluruh bagian otak bertumbuh dengan baik, maka otak buayalah yang berperan dalam setiap proses kognitif dasar.

Bagian otak ini akan menerima seluruh pesan yang masuk kepadanya dan hanya dibedakan menjadi dua jenis informasi saja, yaitu: “biasa” (diabaikan) atau “bahaya” (lari!).

Yang dimaksud dengan kategori bahaya, bukan hanya informasi yang betul-betul mengancam jiwa, namun juga seluruh informasi yang memberikan perasaan emosi mendalam, seperti senang, khwatir, marah, lucu, atau takut.

Pada saat kita melihat reaksi bayi, maka proses kognitif ini akan kelihatan dengan sangat jelas. Bayi hanya memiliki dua ekspresi, yaitu “biasa-biasa” saja atau menangis. Disinilah peranan otak buaya ini.

Meskipun demikian, pada saat otak dewasa telah tumbuh segar, proses kognitif dasar ini masih saja tetap ada. Sensor pada otak buaya tetap memegang peranan penting dalam proses pertahanan diri.

Dalam keadaan terdesak, sensor ini akan menyala terlebih dahulu sebelum diproses lebih lanjut pada bagian otak yang disebut dengan Neocortex, atau bagian yang bertanggung jawab untuk proses kognitif yang lebih rumit.

Perhatikan jika anda mendapatkan sebuah informasi yang terasa sangat penting atau sangat menganggu perasaan, apakah yang terjadi? Panik adalah jawabannya.

Selanjutnya, sistem alarm pada otak buaya ini akan terus menyala dan mengirimkannya dalam bentuk perasaan yang tidak nyaman kepada kita hingga kita mampu memberikan reaksi yang dianggap aman oleh otak buaya ini.

Sebagai contoh, Jika seseorang tiba-tiba mengagetkan anda, maka apapun tindakan yang diambil, entah berteriak, berlari, atau memukul, semua adalah reaksi yang dibutuhkan untuk mematikan alarm pada otak buaya ini.

Nah, ternyata dalam hal menerima informasi yang menganggu, sistem kerja pada otak buaya juga sama, namun dengan tahapan yang lebih “halus”. Merasa “terganggu” dengan informasi yang diterima, manusia cenderung untuk mencari kawan, layaknya bayi yang membutuhkan sentuhan orang tuanya pada saat menangis.

Hal ini menjelaskan, mengapa pada saat kita mendapatkan informasi yang menyentuh emosi kita, maka kita akan cenderung untuk mencari kawan tempat berbagi.

Disinilah saat tersubur bagi manusia untuk menyebarkan hoax, karena ternyata, meneruskan hoax diperlukan untuk mematikan sensor pada otak buaya kita.

Nah bagaimana caranya, agar otak buaya tidak terlalu memengaruhi kita, berikut tipsnya:

Melakukan filter, agar informasi yang kurang akurat tidak termasuk dalam tipe “bahaya”. Usahakan agar tetap tenang dan mempersepsikan setiap informasi yang masuk sebagai kategori “biasa” dulu, sebelum memutuskan apakah layak untuk ditindak lanjuti atau tidak.

Sebuah studi yang dilakukan oleh National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine bahwa rata-rata span of attention (jangkauan atensi) adalah 1 hingga 8 detik.

Masa span of attention ini merupakan waktu terbaik bagi sang otak buaya untuk menunjukkan taringnya. Dengan demikian, jika kita menerima sebuah informasi yang dianggap penting, janganlah melakukan apa-apa hingga hitungan ke 8. Cara ini dapat membantu anda terjebak dengan jari yang ber-KUHP.

Dengan demikian, maka anda akan memberikan waktu bagi otak anda, mengirim informasi kepada Neocortex, atau bagian dari otak yang kerjanya lebih kompleks (analisis, proses logika, berpikir rasional, dan lain sebagainya).

Seluruh informasi yang telah sampai ke Neocortex, akan diproses dengan berbagai macam informasi lainnya yang telah dimiliki sebelumnya. Dengan demikian informasi tidak akan diproses sesederhana apa yang terjadi pada bagian otak buaya.

Pada Neocortex, informasi tidak akan diam menjadi memori, namun pada saat yang sama, bagian ini akan memikirkan solusi-solusi yang terbaik dari berbagai kemungkinan yang masuk akal.

Nah, cukup sederhana bukan. Ternyata cara yang terbaik untuk menghindari penyebaran Hoax adalah menghitung sampai 8, sebelum anda melakukan apa-apa.

Jangan biarkan otak buaya menguasai anda, karena pada dasarnya, kita bukanlah buaya.


SalamAngka

Rudy Gunawan, B.A., CPS®

Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI

 

Post a Comment

10 Comments

  1. Wah.. menarik! Saya lahir tanggal 8 mas Rudy .. berarti yang saya tulis ataukatakan darihoax yaa... 😁

    ReplyDelete
  2. Dengan menghitung sampai 8, ketenangan yang didapat.

    Keren pak Rudy

    ReplyDelete
  3. Mantap nih, bermanfaat☺️👍

    ReplyDelete
  4. Hmmm ini ya ternyata tidak hoax

    ReplyDelete
  5. Kalau saya bilang artikel ini keren, itu bukan hoaks

    ReplyDelete
  6. Berita hoaks tetap disukai dan kayaknya yang punya nilai jual
    Mudah sekali jemari untuk menyebarkan berita yang belum tentu kebenaran
    Ya kayaknya memang seperti itu, jemari ingin mencari teman yang sepemikiran atau senasib

    ReplyDelete
  7. Hehehe... Memang otak buaya tidak menguasai otak ini tapi mulut buaya menguasainya.... Keren banget artikel ini. Top!

    ReplyDelete