Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seorang Ibu yang Ingin Membunuh Anak-anaknya

Ilustrasi. Sumber: Pixabay. 

"Profesor Joko?"

Profesor Joko mengangguk. 

"Saya ingin minta bantuan Anda."

"Ya...?"

"Saya berharap Anda dapat menolong saya, mencegah kelahiran anak-anak saya."

Raut muka Profesor Joko tampak sekali tak senang. Ibu ini buang-buang waktu saja. 

"Ibu keliru menghadap saya. Seharusnya Ibu menemui bidan atau dokter ahli kandungan."

"Tidak, saya tidak keliru. Anda ahli fisika, bukan?"

"Ya."

"Dokter ahli kandungan siapa pun tak ada yang sanggup menolong saya. Cuma Anda harapan saya."

"Kenapa?"

"Karena anak-anak saya telah lahir, sudah besar, sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak pula."

"Saya tak mengerti."

"Bapak pasti mengerti, karena Anda ahli fisika."

"Maksud Ibu?"

"Saya ingin kembali ke masa silam, mencegah anak-anak saya lahir."

"Ibu terpengaruh dengan cerita-cerita dalam novel, atau film-film Hollywood."

"Tidak. Bila benda bergerak melebihi kecepatan cahaya, maka ruang dan waktu menjadi relatif, tak berfungsi lagi. Bila benda bergerak hari ini, dan diperkirakan memakan waktu 24 jam, maka benda akan sampai kemarin. Bukan besok."

"Itu teori relativitas. Ibu tahu?"

"Saya mengerti sedikit tentang Einstein. Itu pun dari membaca artikel Anda."

"Apa yang Ibu inginkan?"

"Saya harap Anda mau membuatkan pesawat, atau alat, atau terserah apa pun namanya, yang dapat mengantarkan saya ke masa silam. Saya akan mencegah kelahiran anak-anak saya."

"Itu tidak mungkin. Kalaupun ada, sebelum sampai pesawat itu akan terbakar karena gesekan udara."

"Tapi saya pernah membaca artikel Anda, bahwa pesawat seperti itu dimungkinkan dapat dibuat."

"Gara-gara tulisan itu saya dianggap tidak waras oleh para kolega saya."

"Tidak, Anda tidak gila. Saya percaya Anda dapat membuat pesawat atau semacam alat yang bergerak dengan kecepatan melebihi cahaya."

"Ibu begitu yakin?"

"Kalau tidak yakin saya tidak akan menemui Anda."

***

Si Ibu bercerita:

Saya mempunyai lima orang anak. Semuanya saya yang membesarkan, karena suami saya meninggal saat anak-anak masih kecil. 

Saya melakukan apa saja, bekerja apa saja, agar dapat memenuhi kebutuhan anak-anak saya. Tak jarang saya harus pulang larut malam. 

Pernah suatu ketika saat saya pulang malam, saya terkejut, anak-anak belum tidur. Berlima mereka duduk di muka pintu, menunggu dengan cemas kedatangan saya. Begitu melihat saya, mereka berhamburan menyambut, memeluk, menangis,  "Ibu jangan pergi, Ibu jangan pergi...!" 

Saya terharu. 

Tapi kemudian setelah mereka dewasa dan berkeluarga, saya merasa tersisihkan. Saya seperti benda antik, antara berguna dan tak berguna. 

Saya sedih sekali. 

Apakah saya salah bila menginginkan mereka seperti dulu lagi? Ingin anak saya yang nomer dua mengajuk minta dibuatkan makanan kesukaannya, ingin si bungsu mendengarkan dongeng, atau mereka berlima duduk mendengarkan cerita tentang ayah mereka. "Bosan. Cerita Ibu dari dulu itu-itu saja." Pernah secara tak sengaja anak saya nomer empat berkata begitu. 

Rasanya saya tak diperlukan lagi oleh mereka. Saya merasa menyesal telah melahirkan mereka. Makanya apakah salah kalau saya tak menginginkan kehadiran mereka di dunia? 

***

"Sebenarnya proyek saya sudah berjalan lebih lima tahun, dan sekarang mendekati tahap akhir. Datanglah tiga bulan lagi," ujar Profesor Joko. 

***

Ibu itu datang. 

"Saya tidak tahu, apakah alat ini cukup efektif atau tidak. Kalau nanti ada sesuatu yang terjadi pada Ibu, saya tak bertanggung jawab," Profesor Joko mengingatkan. 

"Saya mengerti."

Kemudian si Ibu disuruh masuk ke sebuah alat berbentuk tabung. Tak lama terdengar suara gemuruh, cahaya yang menyilaukan. Si Ibu merasakan tubuhnya seperti terlontar dengan kecepatan sangat tinggi. Juga rasa sakit. 

Si Ibu terhenyak. Tubuhnya berkeringat. Ia mendapati dirinya sedang berbaring di sebuah ranjang, menunggu proses kelahiran anaknya yang pertama. Apakah ini mimpi? Dan si Ibu melihat tubuhnya jauh lebih muda. 

Ia merasakan ruangan seperti berputar. Kesibukan bidan, bau obat-obatan, dan, tangis bayi?

Ada bayi di sampingnya. Jadi benar ini anaknya, yang setelah dewasa nanti tak memperdulikan dirinya? Si Ibu memegang leher bayi itu. Sekali tekan...! 

"Wajahnya mirip denganmu," satu suara, serasa dikenalnya. Suaminya? "Hampir sepuluh tahun kita mendambakan anak, baru kini dikabulkan Tuhan. Apa nama anak kita nanti?" 

Si Ibu terkejut. Sepuluh tahun? Ya, kini ia baru ingat, hampir sepuluh setahun ia berusaha berbagai macam pengobatan, agar ia mempunyai anak. Setelah dapat kini ia akan membunuhnya?

Si Ibu gemetar, menangis, menciumi bayinya. Bagaimana kalau kalau tadi benar-benar terjadi. Tubuhnya basah dengan keringat. 

***

Si Ibu mengelap keringat di wajahnya. Ia kembali ke waktu kini. 

"Bagaimana? Dapatkah Ibu mencegah kelahiran anak-anak Ibu?" tanya Profesor Joko. 

Si Ibu menggeleng. "Sejarah tidak bisa diputar ulang dan diganti," katanya. 

"Ibu mau ke mana?"

"Pulang. Anak dan cucu-cucu saya tentu telah menunggu. Saya mencintai mereka, dan mereka mencintai saya."

Si Ibu sudah malam sampai di rumahnya. Ia terkejut, mendapati anak-anak dan cucu-cucunya duduk di muka pintu menunggu dengan cemas. Ketika melihat dirinya datang, anak-anaknya berhamburan lari menyambut, memeluk, menangis. 

"Ibu jangan pergi...! Ibu jangan pergi....!"

***

Lebakwana, Oktober 2020. 



14 komentar untuk "Seorang Ibu yang Ingin Membunuh Anak-anaknya "

  1. Balasan
    1. I'll be back
      Niru film Terminator πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
  2. Sejarah memang tidak bisa diulang, jalani saja

    Salam πŸ™ sehat Ayah Tuah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, jalani saja.
      Salam hangat, Bung Katedra.

      Hapus
  3. Mari...mencintai dan memperhatikan orang tua kita, selagi mereka ada.

    BalasHapus
  4. Cerita-cerita Ayah memang selalu apik.

    BalasHapus
  5. Wuiih.. keren, vote HL dehπŸ˜‚πŸ™☕

    BalasHapus

Berlangganan via Email