Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seikat Bunga yang Tak Pernah Kau Berikan

Laki-laki itu masih muda. Sekitar dua puluh delapan tahun. Lumayanlah, belum terlalu tua untuk disebut jomblo.

Yang menarik darinya bukan ootd ber-merk dan mahal, ataupun roda dua dengan harga selangit dan masih kinclong. Bukan.

Umar hanyalah seorang laki-laki sederhana, yang kerjanya sehari-hari hanyalah membuat gambar sketsa dan ilustrasi di sebuah kantor penerbit. 

Bayarannya dalam sebulan, tentu tak seberapa. Hanya cukup membayar untuk bayar kost, rokok, makan, dan beli kuota. Untuk membeli parfum wangi, membayar loundry, apalagi untuk membeli seikat bunga segar, tentu saja tak mungkin. Sebuah mimpi di siang bolong.

Tapi Umar bagiku sangatlah menarik. 

Hanya dengan memandangnya dari kejauhan, melihat posturnya yang tinggi tegap, serta wajah tenangnya, aku sudah senang. Beberapa teman sampai meledekku. Lebih tepatnya, mengecilkan. Tapi aku tak perduli.

Apa yang kucari dari seorang laki-laki baik sepertinya?

Pertanyaan ini pernah kucari jawabannya sebelum mataku tertidur. Dari atas bantal dan kasur yang empuk, mataku menerawang ke langit-langit kamar. Lima menit, sepuluh menit, aku tetap tak menemukan jawaban yang logis. Sampai akhirnya aku terbenam ke alam mimpi.

Empat belas tahun berlalu.

Sekarang Umar adalah bapak dari tiga anak kami. Ya, aku menerima lamaran laki-laki berpostur tinggi dan berwajah tenang itu. 

Rasanya luar biasa. Seperti memenangkan sebuah kompetisi. 

Saat itu aku takut gadis lain lah yang memikat hatinya. Aku takut laki-laki yang dianggap remeh-temeh oleh sebagian temanku, justru tidak pula menyukaiku. Apalah aku ini dibandingkan teman-teman di kantor tempat Umar bekerja. Kalah segalanya.

Syukurlah sekarang anak-anak kami mulai tumbuh besar. Seluruh waktuku tak habis untuk mengurus keperluan bayi saja. Mereka tumbuh menjadi anak perempuan yang mandiri dan mudah diatur. Punya jam belajar, jam tidur siang, dan cepat pula berangkat tidur malam.

Tinggallah aku dan Umar pada jam sepuluh malam lebih sedikit. Saat dimana aku bisa menemaninya membuka-buka layar handphone, sambil bersandar-sandar manja.  Aku sering mengajaknya kembali ke masa lalu, mengingatkannya pada cerita tentang seikat bunga.

"Aku tidak pernah beli bunga," aku-nya dengan wajah yang kusukai. Wajah yang tenang dan suara yang tenang pula. 

Aku tak suka laki-laki yang kasar. Dan sering gemetaran bila menemukan nada yang mulai meninggi. Agaknya aku mempunyai trauma di masa kecil. Lalu aku merasa nyaman dengan pembawaan Umar yang tenang.

"Tapi temanmu bilang, engkau pernah membeli seikat bunga untukku?"

"Abdul yang bilang?"

Aku cepat mengangguk. Tapi ia malah tersenyum.

"Untuk apa mendengarkan dia..." 

Kudengar nada bicaranya sedikit menggantung. 

Telunjuknya lalu menyentuh tanda home pada ponsel. Sedikit menekan tombol power lalu meraih tanganku dan menggenggamnya.

"Ada yang belum tuntas yaa, tanya itu teruuus..." sebuah kecupan mendarat di keningku.

Ya, alasan inilah yang tak pernah kutemukan, dulu saat aku mulai menyukainya. Saat banyak orang meragukan kebahagiaanku bila harus memilihnya. Umar adalah laki-laki lembut dan romantis. Itu lebih dari cukup untukku.

"Masih penting yaa, seikat bunga di masa lalu, harus dibahas sekarang-sekarang ini..."

Lamunanku buyar. Dan agak tergagap menjawab pertanyaan orang yang kucintai.

"Apa salahnya aku tau?" 

"Apakah benar engkau pernah membeli seikat bunga segar dan cantik, tapi urung memberikannya."

"Aku perlu tahu, sejak kapan engkau mencintaiku," aku semakin menuntutnya.

"Sejak lama..."

"Sebelum aku curi-curi pandang di ambang jendela dan menatap ke teras kost-mu?"

Kulihat engkau menghembuskan nafas. Seperti berusaha membuang beban yang selama ini memberatimu. Tapi apa itu?

"Sebelum kutemukan laki-laki lain juga menjengukmu di rumah sakit..."

Haa?? 

Jantungku serasa lompat dari tempatnya. Aku tercekat.

Selama hidupku baru sekali itu aku dirawat di rumkit. Sesudah aku mengalami kecelakaan mobil dan salah satu kakiku patah. 

Rio adalah lelaki yang dijodohkan untukku saat itu. Pertemuan di rumah sakit adalah yang kedua. 

Pertemuan pertama aku masih bisa berdiri dan berjalan sempurna seperti orang lain. 

Tapi sejak pertemuan kedua dan mendengar aku akan cacad seumur hidup, Rio dan keluarganya tak pernah lagi terdengar kabarnya.

"Jadi engkau cemburu yaa?" tanyaku sembari tertawa. Rasanya puas sekali mendengarnya pernah mencemburuiku.

"Aku kan tidak mau mengganggu..."

"Aku kan cuma tetangga..."

"Tetangga tapi suka, yaa" ledekku masih sambil tertawa senang.

Kurasakan dekapan laki-laki baik ini begitu erat dan hangat. Seolah mengatakan tak ingin berpisah dariku. 

Sebuah kecupan begitu lembut, membuatku memejam dan merekamnya entah berapa lama. Aku ingin menyimpan setiap tanda sayang suamiku, meski hanya dengan memejam mata.

Foto: d.wattpad.com


Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

6 komentar untuk "Seikat Bunga yang Tak Pernah Kau Berikan"

  1. Selalu keren ceritanya☺️👍☕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...waktu nulis baper soalnya hihih

      Inspirasi-nya ngga jauh hehe...

      Terima kasih yaa, sudah membantu saya dari awal...

      Hapus
  2. Balasan
    1. Bagian mana, mbak Dinni, yang perlu aku perbaiki dan terasa janggal?

      Boleh minta pendapat-nya...

      Hapus
  3. Balasan
    1. Alhamdulillah...masih pemula...

      Terima kasih banyak

      Hapus