Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Revolusi Akhlak dan Penggulingan Pemerintah

 

Revolusi Akhlak itu Penggulingan Pemerintah

Menarik apa yang dinyatakan Tenaga Ahli Utama  KSP, bahwa seruan revolusi akhlak adalah seruan untuk penggulingan pemerintah. Apa yang ia katakan melihat sepak terjang yang berbicara dan yang dinyatakan akan memimpin.

Selama ini bagaiamana perilaku mereka. Kekerasan seolah menjadi jalan dan cara di dalam menyelesaikan masalah atau mengawal agenda mereka. Tenaga Ahli Utama itu juga menyatakan, jika itu adalah gerakan moral dan dilakukan dengan baik dan benar tentu akan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah.

Aksi dan gerakan politis dari pada gerakan moral, melihat rekam jejak tentunya. Itu yang membuat dugaan jika itu adalah upaya aksi penggulingan pemerintah. Layak jika sebelumnya, tanpa embel-embel akhlak sudah diserahkan kepada kepolisian untuk  menindaklanjuti.

Penyeru gerakan revolusi akhlak Munarman mengatakan jika revolusi ini sejalan apa yang Presiden Jokowi nyatakan enam tahun lalu, revolusi mental. Ada dua hal yang dikatakannya, jika orang biasa berbohong atau berkhianat dengan gerakan revolusi mental ini tidak lagi. Yang biasanya malas sholat menjadi rajin.

Menarik, jika demikian targetnya, dua hal yang sangat mendasar, namun maaf sekaligus ecek-ecek. Siapa sih yang bisa menakar bohong dan tidak? Atau sholat itu berdampak dalam hidup atau tidak. Hal yang masih termasuk kepada tataran abstrak.

Padahal demikian banyak keprihatinan negeri ini, namun malah mereka abaikan. Bagaimana munafik, bagaimana sekaligus religius namun juga mencaci maki, bahkan korupsi terus berjalan. Tampaknya hal ini masih harus dikaji lagi, bagaimana mereka sendiri tidak paham dengan apa yang mau mereka lakukan. Ingat,  apapun agamanya, jika religiusitas tinggi, maka penghormatan kepada pihak lain juga akan makin baik.

Korupsi, lihat saja bagaimana religiusnya para koruptor itu. Apalagi jika hanya  bicara pakaian. Tidak ada yang tidak beragama, apapun keyakinannya, toh sama saja masuk bui karena korupsi. Ini faktatual, toh tidak mereka nyatakan. Miris, mau mengubah, dirinya sendiri masalah.

Pemaksaan kehendak. Hal yang selalu saja terulang, bagaimana bisa orang atau ormas yang biasa  memaksakan kehendak, merasa diri paling benar tiba-tiba mau membawa perubahan. Lihat saja mana izin ormas mereka? Toh merasa tidak bersalah bukan ketika tidak tertib hukum, kog merasa tidak khianat.

Ini prinsip hidup bersama. Apalagi jika berbicara mengganggu ketertiban umum. Maaf shalat  di jalan, padahal masih banyak tempat di masjid. Ingat ini bukan bicara shalat hari raya, kala demo. Artinya mereka ngaco di dalam memperjuangkan hal yang mereka ternyata tidak paham.

Sikap bertanggung jawab, sama dengan point di atas, karena merasa paling benar, mereka abai akan tertib hidup bersama. Selain aturan perundangan izin ormas, mereka biasa memaksakan kehendak di jalanan, melihat yang berbeda sebagai musuh. Lihat saja aksi mereka terhadap Ahmadiyah, sweeping ketika Ramadhan, atau terakhir adanya acara midodareni. Itu pada yang seagama, lha bagaimana dengan yang berbeda agama?

Sederhana kog, revolusi akhlak itu tidak gembar-gembor, atau harus si A memimpin atau si B yang turun gelanggang, setiap pribadi masing-masing taat pada hukum dan norma yang ada. Semua terjadi kog.

Apalagi jika hanya jujur, antara tidak lagi bohong dan khianat. Sumpah di bawah Kitab Suci saja biasa saja. Hoax merajalela kog. Hayo berani menjamin tidak hal-hal demikian tidak mereka lakukan? itu sederhana lho, bukan menuduh, namun lihat bagaimana aksi penolakan Omnibus Law kemarin, di mana mereka juga terlibat. Apa yang ada di balik itu semua? Tidak jujur, khianat, terjadi kog.

Memfitnah itu bagian dari khianat lho, mosok lupa baru saja terjadi, ketika mereka mengutuk Duta Besar RI di Arab yang mengatakan pemimpin mereka tidak bisa pulang. Ini berkali ulang terjadi. pergi sendiri namun menuding Jokowi dan pemerintah yang menjadi penghalang dan penyebab. Apa yang mereka lakukan jauh dari akhlak yang semestinya.

Menkambing hitamkan pihak lain. Hal yang  paling sering terjadi. Hanya satu  Peristiwa, soal kepulangan Rizieq, berapa yang sudah dituding, dikutuk, dan dicaci maki. Presiden, duta besar, dan mirisnya mereka lupa, mengapa pemimpinnya pergi.

Apa yang mereka nyatakan, seolah membenarkan kata pepatah, main air didulang, terpecik muka sendiri. Mereka terlalu banyak omong namun miskin evaluasi. Terlalu cepat bicara namun lamban di dalam memaknai apa yang terjadi.

Lihat saja belum lama mengatakan akan memimpi revolusi. Lupa atau tidak tahu bahwa itu kata-kata makar dan melanggar hukum. Cepat-cepat rekannya meralat dan mengganti dengan revolusi akhlak. Apakah berani jujur mengakui kalau mereka salah? Pasti dan yakin tidak akan.

Yakin, orang, lembaga, yang bisanya mencaci maki, menuduh, dan mengambing hitamkan pihak lain mau jadi pengubah akhlak? Buktikan dulu perubahan itu. Keteladanan sangat penting jika bicara akhlak.

Salam kasih

Susy Haryawan

 

8 komentar untuk "Revolusi Akhlak dan Penggulingan Pemerintah"

Berlangganan via Email