Header Atas - Panjang

Pintu yang Tertutup

Gambar pinterest


Seperti terkucil

Sendiri,  tak ada yang mengajak berbincang

Atau sekedar bercerita tentang acara televisi atau bumbu-bumbu masak

Kemana mereka yang dulu ramai

Bertengkar,  bergurau, menangis dan meminta perlindunganku?

Kini terbiar begitu saja? 

Busakah mereka menemani ketika aku harus menghitung waktu

Pintu-pintu yang selalu tertutup

Taktahukah di sini aku masih ada

Walau telah keriput kulitku,  rapuh tulang belulangku

Tapi tidak dengan ingatanku

Mengapa pintu selalu tertutup

Seolah takpernah ada diriku

Teleponpun tak berdering setiap waktu

Padahal selalu kutunggu selarik kabar itu

Ketika langit ingin memintaku,  mengapa kamu bersedih? 

Untuk apa menangis

Sedang kemarin, pintu-pintu tertutup untukku

Haruskah aku tertawa,  atau ikut bersedih jua? 

Aku menyayangi kalian semua,  dengan caraku yang takpernah kalian pahami

Usah risau

Bila aku telah diam, simpan ajaran kesabaran

Tundukkan kepala, bila titik hening makin mendekat




Teras malam,  September 2020









Posting Komentar

12 Komentar

  1. Syahdu puisinya ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿค— sini peluk๐Ÿค—

    BalasHapus
  2. keren banget!!! kalau berkenan, mungkin bisa mampir ke anaksenja.com buat baca2 puisi atau cerpenku ๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Link boleh seret kemari, aku tengok

      Makasih kawan

      Hapus
  3. Sendu...

    Semoga mbak Aliz baik-baik aja disana ya☺️๐Ÿ‘

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Yakin? ๐Ÿ˜Š terima kasih,
      Masih dangkal aku kira diksinya

      Hapus
  5. Mbak Aliizzz .. peyuukk ❤️

    BalasHapus