Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penulis Kacangan (Bagian Tiga)

pixabay.com

Sebelumnya

Dameng adalah lelaki dengan gambaran penderitaan oedipus complex. Sosok wanita yang dicintai jauh lebih tua karena kasih dari ibu yang masih belum bisa ia lepaskan. Tidak ada yang salah dengan mencintai wanita yang lebih tua sebenarnya, begitu pesan dari cerpen Muncha meski akhirnya segala sesuatu kadang tiada pernah sesuai dengan yang diinginkan.

Ending cerpen Muncha yang cukup unik memang menarik perhatian Bawegi. Menyematkan kata penulis kacangan pada Muntho tak sesuai lagi dengan kenyataannya.

Bel berdenting, seperti biasanya sahabat karib Bawegi sebulan sekali sengaja berkunjung di hari Sabtu. Bi Sumin tergopoh membukakan pintu pagar, ia sudah hafal bahwa yang datang harus segera masuk menemui tuan rumah. 

Romiy, satpam yang biasa membuka  pagar sudah dua hari izin untuk keperluan keluarga, Pak Sumin yang bergantian bertugas menjaga rumah juga sedang sakit. Bi Sumin merawat suaminya dengan seksama, menurut dokter pribadi Tuan Bawegi, penyakitnya hanya flu biasa meskipun demikian tetap saja Bi Sumin cemas, pandemi akibat Virus Corona memang memaksa semua orang bertambah waspada saat sakit. 

Dalam pandangan Bi Sumin suaminya harus lekas sembuh sebelum tetangga mencurigai dan menudingnya terkena Covid-19. Bahaya. 

Bagi Bi Sumin mati dan dikubur menggunakan plastik tanpa urutan pemakaman yang benar adalah azab. Lebih baik menurutnya bertahan di rumah dan berusaha sembuh daripada pergi ke rumah sakit dan harus menjalani Swab test, akhirnya divonis positif. Mengerikan.

Bawegi menghampiri ruang tamu, Hazlan sudah lebih dulu duduk dan menikmati kopi panas buatan Bi Sumin. Sudah sejak kemarin Bawegi mengharapkan kedatangan sahabatnya. Ia ingin mendiskusikan cerpen Muncha dengan Hazlan secara mendalam. 

“Jadi Kang Baw yakin itu cerpen karya si Muntho?” tanya Hazlan langsung tanpa basa-basi.

“Iya, soalnya pernah Muntho menyebut nama Dameng dan Geulisne akan dijadikan para tokoh dalam tulisannya,” jawab Bawegi yakin.

“Hem, nampaknya Akang sudah tertipu,” imbuh Hazlan mengambang.

“Apa maksudmu?” sergah Bawegi heran.

“Ya, Muncha itu bisa saja Munif Chatib, Munaroh Chantik atau bahkan Munawir Chaniago pengarang baru melejit, ia memang jebolan Sastra UI,” tukas Hazlan.

Sesaat Bawegi ragu, apakah sebuah kebetulan bila nama para tokoh yang unik tertulis di cerpen Kelap Kelip Kolaps sama persis dengan pikiran pengarang lainnya?

“Kenapa, Kang?”

“Kok, tiba-tiba Akang sangat peduli dengan si Muntho? Bukannya Akang sudah mau berhenti berkecimpung di dunia sastra?” 

Hazlan heran mengapa Muntho yang bukan siapa-siapa bisa mempengaruhi ruang pikir Bawegi penulis top yang sejajar dengan sastrawan mancanegara.

“Bukan begitu, yang kuherankan metamorfosa Muntho jika benar ia yang mengarang cerpen itu,” jawab Bawegi sembari mengerutkan kening laiknya sedang berpikir mendalam.

Bila teorinya benar, seorang penulis hebat bisa lahir dari mantra Sim salabim abrakadabra, artinya peluang menciptakan penulis hebat tanpa godokan berat bisa semakin terbuka, itu artinya zaman sudah mulai bergeser. 

“Jadi menurut Akang demikian? Lalu sebaiknya kita melakukan investigasi dari mana?” 

“Coba nanti kau tanya teman-teman penulis lainnya adakah yang mengenali kronologis pembuatan cerpen Kelap-Kelip Kolaps dan cari tahu siapa Muncha sebenarnya,” titah Bawegi.

Hazlan tahu kalau sudah begitu akan ada banyak komunikasi yang harus dibutuhkan. Kadangkala memerlukan biaya untuk sekadar menyediakan sebungkus rokok dan kopi.

Hazlan memang teman dekat Bawegi, tapi talentanya di bidang kepenulisan tak bisa terasah, selain jalur pendidikan yang berbeda, dirinya tak punya banyak waktu untuk bermenung ria menulis cerpen. Anaknya sudah empat, masih kecil-kecil. Nafiira membutuhkan bantuannya untuk mengurus mereka.

Usaha Hazlan kini sedang lumpuh total, biasanya ia memandu turis asing di kota ini untuk berkeliling menikmati keindahan alam Parahiayangan. Sekarang ia harus banting setir menjadi pengemudi ojek online

“Ini, untukmu”. Bawegi menyodorkan duapuluh lembar uang seratus ribuan ke tangan Hazlan.

Hazlan tahu, Kang Bawegi hanya berusaha membantunya, uang itu sangat berarti baginya. Sebulan sekali mendapatkan bantuan tetap dari sahabatnya membuat semua permintaan Bawegi bagai melaksanakan tugas negara.

Hazlan terharu, bantuan Bawegi sangatlah berarti, setidaknya untuk dua minggu anak-anaknya bisa makan-makanan yang cukup bergizi. Hazlan menduga rezeki Bawegi mengalir karena kemurahan hati penulis nyentrik berwajah tampan. Untuk orang yang belum mengenal Bawegi, pasti tak menduga kalau hati sahabatnya sedemikian pemurah dan penuh perhatian pada sekelilingnya.

Pemberitaan di media massa hanya memblow up kisah percintaan Bawegi dan kehancuran rumah tanggannya. Memang, diam-diam Bawegi sudah menikah dengan gadis desa dimana investasi tanah dan perkebunannya digarap.

Perkebunan miliknya memang semakin besar karena ekspor Gadung ke Jepang sangat lancar. Orang Jepang dan negara lain kekurangan bahan makanan saat ini. Gadung diolah menjadi tepung beras super yang sangat dibutuhkan untuk bahan makanan mereka.

Namanya Sarinah, gadis itu memang cantik, polos dan pemalu. Jauh dari model kekasih Bawegi selama ini. Ia sangat penurut. Hazlan juga menduga bahwa Bawegi butuh wanita yang bisa menemaninya hingga menua. 

Pastinya kebutuhan seksual Bawegi masih tinggi namun, ia sudah bertobat dari bergonta-ganti pasangan. Makanya Sarinah dipilih agar jiwanya tentram.

“Baiklah Kang, Saya usahakan secepatnya mendapatkan informasi yang akurat,” ujar Hazlan.

“Terima kasih,” sahut Bawegi bahagia, sebenarnya meminta tolong pada Hazlan hanyalah caranya agar masih bisa bertatap muka dengan sahabatnya. Selama ini Hazlan dan yang lainnya kadang merasa enggan, malu atau sungkan bila berkunjung tanpa alasan.

Pelukan penuh kehangatan sebelum berpisah membuat dada mereka dipenuhi rasa bahagia yang membuncah. Biarlah pandemi bercokol, Bawegi yakin Tuhan masih melindungi mereka yang berjalan dalam relnya. Saling menolong dan membukakan pintu kebahagiaan semoga menolak kesengsaraan.

Berkat Muntho penulis kacangan yang membawa rasa penasaran Bawegi. Hubungan dua sahabat semakin erat.

Bersambung

Bagian 4


Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

11 komentar untuk "Penulis Kacangan (Bagian Tiga)"

  1. Ibuuu...nama-nama tokohnya kerennnn..good idea πŸ₯°πŸ˜˜

    BalasHapus
  2. Wah... Sudah ada blognya kah Bu Winni? Nanti saya intip ya...

    BalasHapus
  3. Asyiiik... kisahnya, tapi bersambung yak.
    Bikin penisirin

    BalasHapus
  4. Ditunggu sambungannyaπŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah ada, semoga hari ini bisa tayang ya... Terima kasih Bu Dinni atas asupan semangatnya.

      Hapus
  5. Balasan
    1. Wah... Terima kasih ya Pak Indra sudah membacanya...

      Hapus
  6. Cerbungnya selalu bikin penasaran☺️πŸ‘☕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Insyaallah Hari ini tayang sudah bagian akhir jadi lunas penasarannya ya...

      Hapus
  7. Bagian tiga paling merebut hati saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Asyik! Semoga bagian empat, paling akhir tidak membuat hati Bu Ayra pecah ya...

      Hapus

Berlangganan via Email