Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penulis Kacangan (Bagian Satu)

(Ilustrasi: Pixabay.com)


Sudah sejak lama Bawegi curiga bahwa cerpen yang berjudul Kelap-kelip Kolaps adalah tulisan Muntho Charlo. Alur, latar dan penokohan bahkan tulisan parodi  yang jadi ciri khasnya sudah sejak lama Bawegi kenali.

“Ah, kini si Muntho naik daun rupanya. Macam harga Janda Bolong saja, melejit,” batin Bawegi sembari berusaha mengingat kembali perkenalan pertama dengan pemuda berwajah tirus bertampang polos, berkacamata bulat dan berambut ikal sebahu.

“Kang Baw, saya penggemar tulisan-tulisan Akang di Facebook,” sapa Muntho menyalami Bawegi di sebuah pertemuan off air antar penulis di Kota Bandung. Wajahnya cerah penuh rasa kagum.

Muntho menanyakan soal cara mengambil sudut pandang yang paling ideal, menentukan alur dan tetek-bengek yang berkaitan dengan cerpen Muntho. Kala itu Bawegi memang menanggapi Muntho seperlunya akan tetapi pertanyaan tak ada habisnya itu justru semakin menjadi hingga satu waktu ia terpaksa memblock nomor whatsapp Muntho.

Bagaimana mungkin tetap berteman dengan penulis cerewet macam Muntho, Bawegi benar-benar kehilangan privasinya. Beberapa waktu lamanya Bawegi tersiksa oleh permintaannya mereview cerpen hasil tulisan Muntho yang super aneh, tak jelas ujung pangkalnya. Jauh berbeda dengan yang kini ia baca dalam Surat Kabar Pelita Pagi. 

Nama tokoh Dameng dan Geulisna itu pernah diceritakan padanya dulu namun, semuanya berubah. 

Bawegi membaca cerpen itu perlahan-lahan paragraf demi paragraf. Ia penasaran Muntho telah bertransformasi sedemikian rupa dari penulis kacangan menjadi kawakan.

Di satu senja yang lupa pada warna jingga karena tiba-tiba kelam, Geulisne bergegas menuju rumah Dameng Jankibar. Ia bertekad untuk meminta pertanggungjawaban lelaki yang sudah menghamili ibunya dan mempermalukan seluruh keluarga.

Geulisne heran kenapa Jankibar lebih menyukai sang ibu yang sudah renta? Apa dirinya kurang menarik buat Dameng? Padahal Dameng tinggal meminta untuk menikah dengannya ia tak akan menolak.

Sosok Dameng yang perkasa dan kaya raya itu rasanya lebih cocok dengan perempuan muda dan cantik. Entah apa yang menarik dari sosok ibunya, tahun depan usianya limapuluh tahun.

Geulisne akui ibundanya memang masih langsing dan nampak awet muda tetapi sepertinya Dameng punya alasan lain hingga menjatuhkan pilihan pada sang ibu.

Di depan rumah Dameng, Geulisna berteriak memanggilnya. Lelaki tinggi tegap itu membuka pintu dan berdiri berhadap-hadapan. Ia tak terlihat panik atapun terganggu.

“Dameng, kau seharusnya bertindak sebagai lelaki terhormat,” bentak Geulisna menggelegar.

“Mengakulah manusia busuk, kaulah yang menghamili ibuku,” tuding Geulisne tandas.

“Tak perlu berteriak padaku, aku belum lagi tuli,” timpal Dameng tenang.

Ia heran mengapa Geulisne langsung menudingnya dengan berapi-api. Padahal Dameng merasa tak ada perbuatannya yang melanggar susila. Tak percaya rasanya kalau hanya saling memandang dan mendaratkan sebuah kecupan mesra bisa membuat seorang wanita hamil. Ini dunia nyata bukan sinetron ataupun lelucon stand up comedy.

Sejenak Bawegi mengalihkan pandang ke arah jam dinding sudah pukul dua malam lewat enam menit. 

Cerpen Muntho belum selesai dibaca rasa penasarannya belum tuntas, tetapi sekarang pukul dua, sudah saatnya ia meninggalkan segala hal yang berbau dunia. Bawegi mematikan rokoknya lalu mengambil air wudu. Ia harus salat. 

Dingin menyapa wajahnya yang terkena air dan diterpa angin malam. Di atas sajadah biru laut, Bawegi tegak sempurna dan mengangkat kedua tangannya sebatas telinga. 

Keheningan benar-benar mendapatkan tempat. Hati Bawegi jauh dari keramaian. Hanya ada satu dalam pikirannya, esok atau lusa kematian bisa saja datang.

Dokter Zeptian tetangga sebelah Bawegi masih jauh lebih muda darinya, tapi umurnya pendek. Baru saja genap berumur tigapuluh tahun, Virus Corona merenggut nyawanya, kemarin.

“Allahu akbar!”

Bersambung.



Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

13 komentar untuk "Penulis Kacangan (Bagian Satu)"

  1. Selalu keren, memikat dan bikin penasaran dengan lanjutan ceritanya☺️πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan bisa meluncur mulus ya... Idenya masih belum klik ini... Hehehe... Terima kasih atas dukungannya Pak War1919...

      Hapus
    2. Semoga ide mya mengalir deras☺️πŸ™

      Hapus
  2. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Terima kasih Mbak Adiyana... Saya tadi berusaha cari tahu dulu mudah-mudahan benar panggilannya ya...

      Hapus
  3. Kepingin menimba ilmu dari Bu Desi...πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Saya yang malah belum permisi menimba ilmu dari cerpen-cerpen Mbak Ayra yang apik dan detil loh... Terima kasih Mbak...

      Hapus
    2. Alhamdulillah...semoga demikian yaa Bu😊

      Tanpa sebuah komentar, penulis tidak mengenali identitasnya sendiriπŸ™

      Terima kasih utk semuanya.

      Hapus
  4. Keren ada cerpen didalam cerpen πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Mudah-mudahan sambungannya makin greget ya... Terima kasih Bu Dinni...

      Hapus
  5. Wah, beneran cerpen dalam cerpen. Keren mbak :-)

    BalasHapus
  6. Wah, Pak Ozy... Terima kasih banyak atas kehadirannya... Saya sempat pinjam namanya di Kata-kata Elandre 3 ya... Hehehe...

    BalasHapus

Berlangganan via Email