Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penulis Kacangan (Bagian Dua)

 Ilustrasi (pixabay.com)

 << Sebelumnya

Dingin menyapa wajahnya yang terkena air, diterpa angin malam. Di atas sajadah biru laut, Bawegi tegak sempurna dan mengangkat kedua tangannya sebatas telinga. 

Keheningan benar-benar mendapatkan tempat. Hati Bawegi jauh dari keramaian. Hanya ada satu dalam pikirannya, esok atau lusa kematian bisa saja datang.

Dokter Zeptian tetangga sebelah Bawegi masih jauh lebih muda darinya, tapi umurnya pendek. Baru saja genap berumur tigapuluh tahun, Virus Corona merenggut nyawanya, kemarin.

“Allahu akbar!”

Sejam kemudian Bawegi sudah terlelap, sebelum subuh ia harus bergegas menuju mesjid terdekat. Semenjak larangan berjamaah di mesjid berlaku, Bawegi justru rajin mengunjungi rumah Tuhan yang kerap diabaikannya selama ini.

Saat fajar menyingsing Bawegi masih berada di mesjid dan melipat kakinya seperti sedang melaksanakan tahyat akhir. Ia berdoa sembari mengangkat tangan dan menundukkan kepala. Doa Bawegi pada Tuhan agar menunjukkan jalan lempang sebelum kematian menghadang. 

Selesai salat, pikirannya melayang pada tulisan Muntho tadi malam. Masih mengambang di benaknya sosok penulis yang teramat bersemangat. Selama tiga tahun saja Bawegi menyaksikan perubahan drastis.

Bawegi masih ingat percakapan konyol pada awal perjumpaan antara Muntho dan dirinya.

“Kang Baw hebat, saya membaca seluruh karya Akang dan tulisannya begitu renyah,” puji Muntho.

Ia tak tertarik pujian macam ini yang  diharapkannya justru kritikan pedas agar mendorongnya untuk melakukan perbaikan berarti.

“Terima kasih,” jawab Bawegi datar.

“Saya ingin nulis cerpen sebagus Kang Bawegi Daim, apa punya kiatnya?” tanya Muntho sungguh-sungguh.

“Baca ini sampai paham,” tukas Bawegi sambil menyodorkan sebuah buku.

“Ah, ini sudah pernah saya baca,Kang!” 

“Isinya mah biasa aja,” sela Muntho kecewa.

“Itu artinya Kang Muntho belum paham apa yang dibaca,” timpal Bawegi mulai kesal.

Buku yang berisi teknik dasar menulis cerpen itu dibaca olehnya hampir lima kali balikan. Memang isinya hanya persoalan tema, sudut pandang, alur, latar, penokohan, konflik, pemberian judul dan hal yang berkaitan dengan kegiatan seorang pengarang.

Bila ada yang menganggap remeh tulisan model ini itu salah satu pertanda penulis kelas teri yang berpikiran sempit.

“Seorang penulis yang baik akan menghargai banyak hal, Kang Muntho”. Bawegi mulai berteori.

“Tapi, saya ingin yang lebih menantang, bisa menulis cerpen yang mewujud dalam pikiran pembaca,” potong Muntho tak sabar.

Sebenarnya Bawegi letih menghadapi pemula model ini akan tetapi semangat membara dalam dada mereka adalah bara yang sangat berarti. Bila sampai padam, pupus sudah sebuah sinar terang jiwa kepenulisan.

“Jadi maksud Kang Muntho langsung lompat saja? Tanpa mengikuti tahap-tahapan yang benar?” tanya Bawegi memastikan di tahapan mana Muntho sebenarnya.

“Iya, bosan juga mendengar perbaiki ejaan, lihat PUEBI,” sahut Muntho sembari mengganti rokoknya yang hampir habis. 

Bibirnya tertekuk, mukanya nampak kian tirus. Ia juga mengelap kacamata minusnya yang berbentuk bulat. Bawegi malah jadi iba pada raut wajah letih dihadapannya. Ada yang salah dengan jalan pikiran pemuda ini.

Bawegi memang jarang berdiskusi. Sebuah perdebatan kadangkala banyak memakan energi. Muntho masih sangat muda, panggilan akang adalah caranya menghormati orang lain. 

Penghormatan memang ia tunjukkan kepada siapapun yang mau belajar. Menulis adalah pekerjaan yang selalu membutuhkan masukan bahan bacaan dan daya telaah. 

Semakin banyak membaca maka menulis menjadi semakin bernas. Jiwa penulis harus lapang. Prinsip dasar Bawegi bukan lompatan ujug-ujug seperti viralnya video skandal di YouTube

“Saya ingin tulisannya berisi dan memukau semua orang. Nama saya bisa tenar dan tentunya meraup uang banyak,” khayal Muntho makin melambung.

“Begitukah sebenarnya cita-cita menjadi seorang penulis?” Bawegi membatin.

Ia kadang ingin mentertawakan dirinya sendiri, rupanya seperti Muntho dirinya dulu bahkan bisa jadi lebih oportunis.  

Hampir setengah abad dirinya membuang waktu untuk menjadi seorang pengarang yang hebat. Ia menjadikan siang jadi malam dan sebaliknya. 

Malam waktunya menuangkan inspirasi menulis puisi atau cerpen, sementara saat siang dirinya tidur lelap hingga melewatkan banyak hal yang biasa orang lakukan di siang hari. 

Sebenarnya pengakuan kepiawaiannya dalam menulis sudah lebih dari cukup, selangkah lagi dirinya bakal mendapat Nobel Prize, tinggal menunggu waktu yang tepat. Ia sudah masuk nominasi penerima hadiah bergengsi itu bersama enam penulis bidang sastra lainnya.

Hingga kemudian batin Bawegi seakan berteriak. Ada yang salah dengan hidupnya selama ini. Ia mulai meninggalkan hingar-bingar dunia pengarang. Kepopuleran yang diterimanya memakan banyak hal yang berharga dari dirinya. 

Kisah-kasihnya kandas, mantan istri Bawegi lebih memilih menikah lagi dengan seorang lelaki penjaja buah-buahan dengan wajah pas-pasan.

Di dalam cerpen saja Bawegi bisa menggambarkan kehidupan asmara yang sungguh menggelora. Hubungan mereka nampak agung tanpa cela.

Padahal sang isteri tak pernah mau lagi dijamah sejak Bawegi sering berjalan mesra dengan wanita lain yang menggoda jiwanya. 

Keira Ayu, perempuan cerdas berhati cadas berparas indah. Wajahnya seperti pahatan patung Dewi Kwan Im. Bawegi mencintainya akan tetapi wanita itu tak peduli pada ikatan. Ia ingin bebas memanjakan imajinasinya bahkan dalam percintaan. Selama lima tahun ia berjuang melawan virus yang memakan daya tahan tubuhnya. Kematian mengerikan menjadi jalan dirinya menemui Tuhan.

Lintang Sentina, perempuan cantik pemilik butik yang tergila-gila pada tulisan-tulisannya meskipun sudah bersuami tetap saja mengejar Bawegi dengan segenap kekuatannya. Harta, puja-puji bahkan jebakan bujuk rayu telah dicobanya untuk melubangi benteng hati Bawegi. Ia sempat memberi harapan hingga akhirnya surat kecil suami Lintang menyadarkannya bahwa yang tersakiti bukan saja dirinya melainkan ketiga anak mereka.

Anak semata wayangnya yang kini sudah punya calon suami pun tak mau berkunjung. Ia lebih memilih dekat dengan ibunya. Bianglala Kasih merasa jijik akan kehidupan yang dijalani ayahnya.

Ah, seandainya waktu bisa diputar kembali ia akan memilih menjadi seorang tukang kayu atau petani.

Alarm telepon genggam Bawegi berdering. Itu tandanya ia harus memberi makan Dursasana, kucing kesayangannya. Tubuhnya bagai raksasa dan wajahnya pun jauh dari kata menggemaskan.

“Pus… waktunya makan,” panggil Bawegi penuh kasih. Dielusnya tubuh montok Dursasana. Kucing itu menjawab dengan menggerak-gerak ekornya manja.

Dursasana mengeong, bulu-bulunya yang tebal bergerak indah. Langkahnya gontai menghampiri makanan biskuit kecil kesukaannya.

Cerpen Muntho baru selesai dibaca. Bawegi yakin itu cerpen buatan Muntho Charlo memang hanya tertera nama Muncha sebagai penulisnya.

Muncha menunjukkan kematangan pikir dalam cerpen Kelap-Kelip Kolaps. Pengambilan nama tokoh yang bakal lolos dari plagiasi ditambah konflik yang mengundang rasa penasaran bagaimana sang pengarang menyelesaikannya.

Muncha memilih judul cukup eye catching bukan itu saja caranya ia mengakhiri cerita menyisakan banyak rasa. Pantas Surat Kabar Pelita Pagi memberikan ruangnya untuk cerpen itu. 

Dameng adalah lelaki dengan gambaran penderitaan oedipus complex. Sosok wanita yang dicintai jauh lebih tua karena kasih dari ibu yang masih belum bisa ia lepaskan. Tidak ada yang salah dengan mencintai wanita yang lebih tua sebenarnya, begitu pesan dari cerpen Muncha meski akhirnya segala sesuatu kadang tiada pernah sesuai dengan yang diinginkan.

Ending cerpen yang cukup unik memang menarik perhatian Bawegi. Menyematkan kata penulis kacangan pada Muntho tak sesuai lagi dengan kenyataannya.

Bersambung.









Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

7 komentar untuk "Penulis Kacangan (Bagian Dua)"

  1. Balasan
    1. Aih... Bu Eem memang top rajin berkunjung ya... Terima kasih Bu ๐Ÿ™

      Hapus
  2. Huff...bagian kedua kaya akan simbol.

    Mulai mencitrakan Bawegi sosok yang merana dan dingin.

    Hmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar-benar pribadi yang kesepian ya? Pilihan yang patut dipertimbangkan kembali untuk terjun sebagai seorang penulis... Terima kasih Bu Ayra...

      Hapus
  3. Sudah ada yg baru ternyata๐Ÿ˜‚๐Ÿ‘ baru sempat megang hp, makanya baru tau☺️๐Ÿ™

    BalasHapus
  4. Ditunggu sambungan ceritanya ya mbak.

    BalasHapus

Berlangganan via Email