Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemuda yang Kucintai

pixabay.com


Pemuda yang kucintai telah lama mati
terkubur bersama gunungan idealisme 
Pemuda yang kucintai telah lama pergi
meninggalkan cerita tentang nasionalisme

Adakah kelak kan kutemui
sosokmu bereinkarnasi
di wajah anak zaman 
yang kehilangan cinta pada peradaban

yang menjadikan keluhuran budi hanyalah bahan olok-olok yang disertai sumpah serapah

yang menjadikan hura-hura adalah penghujung kenikmatan

yang menghargai pertemuan
sebatas percakapan maya 
kumpulan gambar tanpa nyawa
kumpulan ikon pengganti renyahnya sebuah tawa 

Adakah kelak akan kudapati
Pemuda yang rela mati
demi bumi Pertiwi
Kekasihku yang telah lama menangis lara

Pertiwi melemparkan pandangan sengsara
dalam tubuh penuh derita

Duapuluh delapan adalah tanda kebangkitan
Kedigdayaan bermukim dalam tubuh-tubuh perkasa 

Kala pemuda dalam sinar paling terang memudarkan warna hitam penjajahan
menyambut kata merdeka 
hadir di segenap perkara

esok atau lusa kekasihku Pertiwi harus berharap pada siapa

Adakah?

28-10-1928 ~ 28-10-2020


Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

11 komentar untuk "Pemuda yang Kucintai"

  1. Sipp..oke bgt.terus berkarya sobat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Terima kasih Bu Eem... Insyaallah... Karya Ibu Eem juga semakin berkibar.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Eh iya.... Masih pemuda ya Pak War1919... Bukankah sekarang 2020? Artinya sudah sangat sepuh... Hehehe...

      Hapus
  3. Wih... Nyimak punya Bu Dinni juga ah...

    BalasHapus
  4. Puisi patriotis ya, Teh Desi 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Paradoksalnya ya? Mencari jiwa patriotis 😁

      Hapus

Berlangganan via Email