Header Atas - Panjang

Pasar Malam dan Odong-odong: Rekreasi Sambil Belanja

  Selasa sore, secara kebetulan aku lewat sini. Sudah beberapa selasa. Sulit jadinya menahan letupan dalam dada. Tentang kenangan beberapa tahun silam, setiap selasa sore.

Kukatakan kenangan, karena sekarang tak mungkin terulang lagi. Tak mungkin dijalani sama seperti dulu. Saat kami masih tinggal tak jauh dari sini, di rumah kecil kontrakan murah. Anak-anak kami belum tiga orang, belum pula usia masuk sekolah. Aku pun belum se-dewasa sekarang. Masih suka menuntut, masih suka marah. Aku masih muda waktu itu, dan merasa sok dalam banyak hal.

Tentang sifat seperti ini, aku merabanya sendiri. Mengingat perangaiku sendiri di waktu dulu, saat belum paham cara bersabar. Terkadang aku merasa menyesal dan menganggap bodoh diri sendiri. Terkadang amat sangat menyayangkan mengapa dulu aku begitu? Nyatanya sekarang aku bisa berubah, bisa lebih baik. Sekarang aku paham apa itu menahan diri, dan paham aku butuh abah, suami yang sering kuperlakukan seenaknya.

Sebenarnya aku bukan tidak sayang pada abah. Bukan pula semacam tidak hormat. Tapi aku sering marah tak jelas dan mencemburuinya. Aku sering menganggap abah tak sayang padaku, lalu marah-marah sendiri.

Sebenarnya setiap kali lewat sini pada selasa sore, sumringah yang dulu terpancar dari gerak-gerikku, seakan muncul di pelupuk mata. Aku seperti melihat diriku tersenyum-senyum sendiri sambil berjalan keliling menggandeng dua anak kecil yang tentunya sudah rapi. Sejak pagi aku sudah menjanjikan kami akan pergi ke pasar malam. Disambut perasaan gembira khas anak kecil. Dan mereka pun lancar tidur siang alias boci.

Sekarang mereka sudah besar. Sudah sekolah, dan si kakak hampir pula masuk sekolah lanjutan. Tak terasa waktu berjalan tahun demi tahun.

Sekarang pun aku sudah tak seperti dulu, yang kemana-mana berjalan kaki untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari dari warung satu ke warung lainnya. Apalagi saat itu jaraknya lumayan juga. Pegel pastinya.








Foto: Kompas.com

Saat itu selama seminggu sudah bisa membuatku merasa bosan.

Senantiasa sibuk mengurus dua anak yang masih kecil sambil menyelesaikan pekerjaan sehari-hari khas ibu rumah tangga. Memasak, mencuci, beres-beres, memandikan si bungsu, menyuapi, dan mengajak mereka boci. 

Saat keduanya larut dalam tidur masing-masing, aku bukannya ikut tidur. Masih ada tugas mengangkat jemuran dan melipatnya dengan rapi. Kata orang pekerjaan ibu rumah tangga tak habis-habis, kelihatannya memang iya.

Setelahnya aku masih ada waktu sekitar satu jam sebelum waktunya mandi sore. Terkadang aku nguprek lagi di dapur membuat cemilan yang gampang dan praktis. Tak butuh waktu lama ataupun bahan terlalu banyak. Tujuannya saat anak-anak bangun, mereka bisa nyemil manja sambil leyeh-leyeh depan tv. Dan saat abah pulang kerja, bisa istirahat sambil ngopi dan nyemil juga. 

Bahwa aku akan kelelahan saat malam hari, saat itu aku tak terlalu mempertimbangkan. Kalau meminjam bahasa abah, aku ini katanya mempunyai dua kepribadian: siang begitu aktif, malam capek sendiri dan marah-marah. Aduh abah, itu bukan dua kepribadian, namanya...

Sepintas masalah ini anggap sepele.

Kalau bicara capek, semua orang juga merasakannya. Kalau merasa bosan, orang lain pun mengalaminya. Sama saja. Tapi aku perlu satu solusi, yaitu hiburan.

Nah, jawabannya adalah pergi ke pasar malam setiap selasa sore bersama abah dan anak-anak. 

Di sini perputaran uang mudah, kata orang. Kalimantan terkenal sebagai negeri pemburu dollar. Maksudnya banyak orang berbondong-bondong datang mencari kerja dan mengirimkan gajinya kepada keluarga mereka di kampung asal. Berbagai bisnis dikelola dan dikembangkan termasuk pasar malam. 

Kelompok para pedagang yang jumlahnya kadang mencapai puluhan orang ini, mulai membuka lapaknya sekitar jam lima sore sampai sembilan malam saja. Selanjutnya mereka akan bubar ke rumah masing-masing. Esok harinya rute berlanjut ke daerah lain secara terurut. Terkadang sampai juga mereka ke desa pelosok agak jauh.

Aku dan anak-anak sama saja dengan warga masyarakat lainnya. Senyam-senyum sambil absen satu per satu penjual apa saja yang ada di sana. Mulai dari penjual telur, sayur mayur, sembako, pakaian anak, sandal sepatu, peralatan rumah tangga, tidak lupa aneka camilan pastinya. Yang terakhir ini magnet bagi remaja-remaja yang ingin mejeng mencari teman, bertemu teman, sambil ketawa-ketiwi cekikikan. Tak heran kalau pasar malam dianggap sebagai rekreasi alias hiburan warga.

Biasanya aku memulai rekreasi belanja ini dengan mampir ke stand odong-odong. Dua bocil-ku akan kebagian jatah beberapa lagu dengan tarif sekian ribu rupiah. Tak mahal sih, tapi cukuplah membuat hati anak-anak senang. Tanganku tak lupa foto-foto seperti ibu-ibu lainnya juga.

Foto: disk.mediaindonesia.com

Anak-anak pastinya juga butuh hiburan. Dan naik odong-odong adalah salah satu jawaban mudah. Mereka merasa senang karena bermain sambil belajar bersosial dengan anak-anak lain. Melihat lampu-lampu menyala serta aneka gantungan penghias kereta odong-odong.

Bagaimana dengan ibunya? 

Khas wanita untuk menghilangkan bad mood atau semacamnya adalah belanja. Aktifitas tak mesti butuh banyak uang ini, layaknya booster penyeimbang hormon bahagia kaum hawa. Tak terkecuali diriku, sekalipun belanja yang dimaksud tak jauh-jauh dari kebutuhan dapur dan jajanan pasar.

Pulang ke rumah menenteng beberapa kantong plaatik, membuat selasa malam terasa pendek. Apalagi melihat dua bocil tampak happy dan abah juga tampak senyum-senyum. Bahagia bisa membawa keluarga kecilnya ke tempat rekreasi belanja dekat rumah bernama pasar malam.

Ah... aku telah terbawa jauh dalam kenangan itu. Aku harus fokus lagi ke jalan supaya motor yang kubawa berjalan aman. Aku sedang menuju rumah, jauh dari lapangan stand pasar malam yang masih ada juga sampai sekarang. Dengar-dengar kondisinya sudah tidak seramai dulu karena adanya pandemi. Masyarakat dilarang berkumpul-kumpul dan wajib menjaga jarak atau sosial distance. 

Aku sendiri sekarang sudah tak berjalan kaki dari warung ke warung membeli berbagai keperluan. Aku langsung cuss dengan motor biruku ke pasar yang agak jauh sekalipun. Lebih mudah karena aku tak kelelahan lagi. 

Tetapi ada yang memang terasa hilang, yaitu jjs bersama abah dan anak-anak setiap selasa sore.

Aneka bahan seperti ikan, sayur-mayur, kue-kue memang masih bisa kutemukan di pasar-pasar yang kudatangi. 

Tapi kebahgiaan rekreasi belanja itu tak bisa kudapatkan. 

Anak-anak yang sekarang menjadi tiga orang, semuanya menunggu di rumah sambil bermain-main atau menonton tv. 

Tak ada lagi senyum sumringahku, atau kegembiraan khas anak-anak selepas bermain odong-odong. Waktu telah merubah semuanya. Dan aku hanya bisa menjalaninya dengan lebih dewasa dari sebelumnya.

Post a Comment

10 Comments

  1. Replies
    1. Alhamdulillah...semoga kedepannya lebih baik lagi.

      Terima kasih untuk semuanya...

      Delete
    2. Aamiin

      Sama-sama Mbak☺️🙏

      Delete
  2. Replies
    1. Aamiin...

      Kisah rakyat yang mencari sisi bahagianya...

      Delete
  3. Odong odong di mata emak emak...
    Mantab mbak....

    Ttd.
    Peri.Gigi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Odong-odong di mata emak-emak adalah rekreasi sekaligus belanja.

      Terima kasih sudah mwmbaca, semoga cukup terhibur...

      Delete