Header Atas - Panjang

Munafiknya Pemimpin KAMI

 

Munafiknya Pemimpin KAMI

Miris, melihat sepak terjang KAMI, terutama elitnya, usai rekan atau bawahan mereka satu demi satu tertangkap aparat penegak hukum. Seolah antiklimaks, usai deklarasi hingar bingar di tengah pandemi. Ngeyel mau masuk TMP Kalibata tanpa pemberitahuan, di tengah pandemi lagi. Pun super hero mereka dengan merekomendasikan menonton secara ramai-ramai film G-30 S.

Isu UU Cipta Kerja yang membuat para buruh, serikat buruh tepatnya bak kebakaran jenggot mereka ikut di dalamnya, usai komunis dan PKI tidak laku. Oktober bergeser dengan menyatakan dukungannya pada penolakan UU Omnibus Law. Mereka mengatakan mendukung demonstrasi, lagi-lagi abai soal keselamatan dan kesehatan.

Beberapa perilaku yang inkonsisten, munafik bahkan dari elit mereka. Posisi yang mengatakan itu bukan orang sembarangan. Mantan ketua ormas terbesar, mantan panglima TNI, mantan anggota komisi hukum DPR RI juga. Kapasitas mereka bukan sembarangan, minimal mereka memiliki pengikut yang akan mendengarkan cukup banyak.

Gatot Nurmantyo

Pangliman TNI itu pasti ingat sebuah slogan dalam diri prajurit, tidak ada anak buah yang salah, pemimpin, komandanlah yang salah. Apa yang terjadi? Usai anak buahnya ditangkap, bukannya dibantu apalagi diganti, malah mengatakan jangan kasihani mereka sebagai pejuang. Ini bukan soal kasihan atau tidak, mana pertanggungjawaban pemimpin??

Dia juga mengatakan mendukung pendemo yang menolak UU Cipta Kerja, lha mengapa tiba-tiba mengatakan, kalau UU OL katanya mulia. Apakah takut karena mulai banyak koleganya yang ditangkapi oleh penegak hukum?

Din Syamsudin.

Ia sebagai admin grup perbincangan mengaku tidak pernah tahu isi percakapan  di dalam kelompok itu. Sangat mungkin demikian, karena usia lanjut sangat mungkin tidak paham dengan perkembangan media sosial dan media percakapan.

Pun kesibukannya juga bisa membuat tidak punya waktu untuk bisa mengikuti arus informasi dan percakapan yang ada. Namun, jangan lupa, peran dan keberadaan admin bisa dituntut di muka hukum, jadi bukan malah  ngeles dengan mengatakan tidak tahu apa-apa. Sebagai sebuah upaya sih wajar demikian.

Lagi dan lagi, melemparkan tanggung jawab dan merasa baik-baik saja dengan cara menghindar yang demikian. Mirip  anak-anak yang tidak atau belum memiliki pendirian dan kepribadian masak.

Mengaku sudah menyiapkan koper jika dicokok, sudah selesai dengan dunia. Lha mau jadi presiden, berteriak-teriak mau menyelamatkan Indonesia, kog mengaku sudah selesai dengan dunia.

Selesai dengan hidup ini, hanya berbuat kebaikan, Tuhan dan sesama menjadi fokus. Lihat dan contoh tuh Buya Syafii, bagaimana beliau bersikap dan bertindak itu benar-benar menunjukkan sudah selesai dengan dunia. Hanya kebaikan dan  kalimatnya selalu menyejukan, bukan provokasi dan menebar permusuhan.

Ahmad Yani

Mantan anggota dewan yang gagal ke Senayan usai pindah partai, menantang polisi untuk mengungkan isi percakapan yang ada di dalam media percakapan. Di sana ternyata ada porvokasi dan ajakan untuk rusuh, rasis, dan provokasi yang dikehendaki demi keadaan buruk. Dua hal sekaligus yang ditunjukan oleh Ahmad Yani, yaitu adanya Din sebagai admin yang sudah mau dipatahkan dengan tidak tahu apa-apa.

Kedua, adanya provokasi dan kengerian yang faktual dalam media percakapan. Polisi tidak gegabah tentunya. Ini era modern, masanya teknologi informasi, bukan zaman batu yang bisa seenaknya menciptakan atau menghilangkan bukti.

Apa yang mereka lakukan itu, jika bukan tokoh, elit, berseliweran di media elektronik terutama, atau media sosial, tidak menjadi soal, tidak akan ada orang yang mendengar. Mereka ini sedang mendapatkan sorotan kamera, media sosial pun gegap gempita dengan pernyataan mereka. Pro dan kontra ya sama saja membuat suara mereka  berdengung dan semakin tenar.

Mereka tahu kog kalau ngaco, masalahnya adalah ketika kebohongan dan kemunafikan diulang-ulang, orang bisa terkacaukan. Apa iya model pemimpin yang mengacaukan pemikiran masyarakat seperti  ini benar-benar memiliki solusi atas keberadaan negeri ini.

Mau menyelamatkan negara katanya, malah menyelamatkan diri kog yang jelas-jelas ditampilkan di muka publik. Tidak salah sih mengritik negara dan pemerintahan itu dijamin sepenuhnya oleh konstitusi, namun jika menganjurkan kerusuhan, apalagi sampai menjadikan etnis tertentu target penjarahan, namanya kriminal kurang ajar.

Mengaku mau menyelamatkan negara, namun korupsi malah tidak menjadi fokus bahasan. Ada pandemi saja protokol kesehatan dilanggar, padahal  itu sangat sederhana dan di depan mata. Tidak usah jauh-jauh. Intoleransi mengemuka lagi, lha jangan-jangan mereka adalah pelaku atau di balik pelaku korup dan intoleran?

Bangsa ini bangsa besar, janganlah diperdayai oleh tampilan agamis, manis, dan fisik  baik lainnya, rekam jejak mereka perlu dilihat, sehingga akan jelas seperti apa kualitas dan keberadaan mereka. Bagaimana bisa mengaku alim dan tokoh, ketika belum juga sebulan sudah berbalik arah. Jika itu tulus adalah kualitas, menyadari kesalahan itu baik. Namun, melihat lagi-lagi rekam jejak mereka sudah menilai mereka benar-benar berubah. Menyelamatkan diri jauh lebih pas dan tepat.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Posting Komentar

12 Komentar