Header Atas - Panjang

Masih Perlukah Pancasila?

Ilustrasi gambar_pinterest.com

 

Masih Perlukah Pancasila?

Dalam sebuah komentar untuk tulisan mengenai Pancasila ada yang mengatakan, itu pasti orang minoritas, yang perlu Pancasila hanya minoritas. He..he...yo biar saja, namanya juga pendapat, soal benar atau salah, patut atau tidak, belakangan. Berani komentar  atau kendel alok, delok dalam bahasa Jawa, beraninya hanya komentar, soal menuliskan gagasan untuk bisa dipahami pembaca nanti dulu.

Biasanya orang demikian sangat banyak dan rata-rata tulisannya minim. Komentator semata. Apa benar Pancasila hanya untuk minoritas semata? Atau cara pandang mayoritas yang sedang ia diami?

Cukup menarik, mayoritas minoritas itu sejatinya hanya separasi penjajah yang digaungkan lagi ala Soeharto. Ciri orang minder dengan menutupi kelemahan diri bersembunyi pada ketiak dominan kelompok. Ini juga menandakan orang yang dolane kurang adoh, mainnya terlalu dekat.

Seumur hidup menjadi orang  Katolik sendirian di desa, sekampung yang lebih dari 5000 orang hanya keluarga kami. Pernah di Kalimantan, di Sumatera.  Jadi, kalau bicara soal mayoritas dan minoritas, sebenarnya harus jalan-jalan, jadi tahu persis kondisi berbangsa kita.

Dikotomis mayoritas-minoritas, apa sih urgensinya di dalam hidup bersama, hanya memperbesar jurang perbedaan. Mengapa tidak membangun persamaan sekecil apapun persamaan itu?

Pancasila itu simbol, lambang, dan  tanda ikatan kebersamaan sebagai sebuah bangsa. Keanekaragaman itu kekuatan untuk membangun. Bayangkan saja, mau tidak makan garam, atau lapar diberi gula, daging, dan juga asam, jahe, kunyit, masing-masing, berdiri sendiri? Tentu tidak mau bukan, namun ketika garam, gula, daging, jahe, kunyit, dan asam itu masuk dalam kuali dengan takaran yang pas, nikmat bukan?

Itulah Pancasila, dan itulah Indonesia. Jahe tidak perlu banyak untuk bumbu gulai, pun garam. Daging yang perlu banyak. Atau mau menggigit begitu saja kunyit? Ketika berdiri masing-masing, daya rusak sangat mungkin. Nah ketika di dalam kebersamaan, kolaborasi, sinergi, semua menjadi nikmat.

Kopi itu perlu air, perlu gula, kreamer, atau susu mungkin. Mau tidak nguntuti kopi? Tidak ada kenikmatan, pahit, dan sama sekali tidak enak. Perlu tambahan lain agar bisa dinikmati.  Apakah kopi merasa paling unggul dan berjasa? Tidak akan demikian.

Pancasila sebagai pemersatu, karena para pendiri bangsa ini tahu, bagaimana keanekaragaman itu saling memberi bukan saling menguasai dan meminta dianakemaskan. Perilaku kanak-kanak, ketika merasa diri aling hebat, paling pinter, dan meminta pengakuan, tepuk tangan, atau hadiah, wajar kalau anak TK, miris ketika itu adalah kakek dan nenek renta yang sudah mendekati ajal.

Belum tentu bagi yang mayoritas di hari ini dan sekarang ini akan demikian adanya. Siapa tahu ketika mendapatkan kesempatan karir, promosi eh ada di tempat lain yang berkebalikan. Tetangga kampung, dulu ketika melihat anjing akan dikejar sampai dapat dan dibunuh, eh ketika kerja proyek, di luar pulau, lebih agamis namun sikapnya menghadapi hewan itu berbeda. Cara pandang dan sikapnya bisa berubah.

Ada lain lagi, ketika ada tetangga juga, saat diminta mengundang keluarga kami untuk acara-acara hidup bertetangga, tidak pernah sampai. Padahal teman sekolah juga, masih relatif muda. Eh suatu hari ia menjadi korban calo TKI  illegal, dan perubahan drastis terjadi, kami, keluarga kami kalau orang ini yang mendapat tugas mengundang, malah pertama kali yang diundang.

Mau besar atau kecil, itu semua membutuhkan Pancasila. Pancasila itu bukan tameng atau malah pedng bagi kelompok lain dan membela pihak yang berbeda. Ini cara pandang ngaco dan memang kurang jauh dolannya. Dolan ini bukan soal pendidikan, namun soal  pengalaman.

Mengalami hal yang berbeda, perjumpaan pada pihak yang berlainan, akan membuat pengalaman dan pengetahuannya bertambah. Di atas langit masih ada langit, tidak akan menjadi katak dalam tempurung, yang melompat seolah menyundul langit, padahal itu hanyalah atap batok atau tempurung kepala.

Kesaktian Pancasila sih bahasa provokasi dan propaganda. Ketakutan yang hendak diciptakan dengan acara hari sebelumnya. Tentu tak hendak meremehkan Pancasila. Hanya saja, istilah dan seremoninya itu yang perlu dijernihkan maknanya. Pancasila itu penting dan mendasar, sehingga sebagai anak negeri merasa terlindungi, bukan ketakutan karena berbeda.

Pola pikir kalau banyak pasti benar dan menang, ini namanya akal-akalan demokrasi. Tidak demikian, banyak bisa menjadi benar, ketika itu adalah demokrasi kanak-kanak. Proses menuju ke sana memang masih perlu perjuangan.

Ribetnya rezim otoriter tiga dasa warsa lebih, masih ditambah tanpa sikap tegas menindak perilaku masa lalu yang kembali menggeliat dan merusak sendi-sendi demokrasi yang sedang dibangun, dengan cara-cara mengakali demokrasi itu sendiri.

Ppla pendekatan makelar abai etis merusak sendi hidup bersama. Calo agama, politik, ekonomi, hanya pencari rente yang menguasai elit negeri ini. Agama pun dimakelari, merasa tidak pas dengan istilah pengasong, mereka lebih terhormat dari pada calo  yang kadang tidak bekerja, hanya membual. Itu semua persis yang terjadi di negeri ini. Tanpa kerja mau enaknya.

Pancasila itu penting, bukan karena kelompok kecil, namun bisa menjembatani banyaknya potensi perbedaan dan potensi perpecahan yang ada. Bersyukur mempunyai Pancasila.

Salam penuh  kasih.

Susy Haryawan

Post a Comment

5 Comments

  1. Pancasila sangat berjasa bagi bangsa Indonesia
    Mantap Pak Haryawan

    ReplyDelete
  2. Mayoritas minoritas itu digaungkan oleh mereka yang ingin memecah belah. Ya seperti di jaman penjajahan.
    Makanya kalau ada Pancasila pemersatu, mereka kegerahan.

    Siapa mereka? Yang merasa kepanasan kalau Pancasila kuat

    ReplyDelete
  3. Diambil pikiran positifnya aja. Dengan adanya orang berpendapat demikian, seperti diingatkan untuk menghangatkan kembali pemahaman Pancasila di dalam diri sendiri. Masih perlukah?
    Jawabannya sangatlah subyektif, meski lahirnya Pancasila dimaksudkan obyektif, didukung oleh seluruh element rakyat Indonesia.
    Terima kasih sudah mengulik, anget lagi Pancasila yang nyaris membeku dalam lupa.

    ReplyDelete