Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi TOXIC Bagi Orang Lain

  Untuk gampangnya, toxic sering diartikan sebagai racun. Dan personifikasi kata ini kerap dilekatkan pada orang yang bersikap mengganggu dan merugikan bagi orang lain. Egois dan ingin menang sendiri.

Suatu hari, seorang suami berkunjung pada istri pertamanya. Di antara mereka ada semacam kesepakatan tentang hari-hari yang harus dibagi dengan adil. Belum terlalu lama keadaan seperti ini, karena ini masih tahun-tahun pertama.

Suasana rumah yang bersih dan nyaman seperti biasa, dengan semilir sore di teras rumah. Semangkuk puding tersaji. Sang istri memang tak pernah lupa kegemaran suaminya. Dan sang suami juga tak lupa tabiat istrinya.

Benar saja. Sebelum puding mangga nan lezat itu habis, sebut saja Nenek Rara, sudah mengungkit-ungkit berapa jumlah uang yang diberikan untuk ibunya Rara, sang istri muda.

Dengan sabar ayah Rara menjawab, "Untuk beli susu dan popoknya Rara bu...Ngga beli apa-apa kok..."

Usia wanita yang dipanggil nenek Rara memang lewat sedikit dari angka lima puluh tahun. Mungkin itu sebabnya ia dipanggil nenek Rara, dan bukannya mamak Rara. 

Rara sendiri sebenarnya anak dari istri kedua. Tapi sering diajak bermalam di rumah istri pertama.

Nenek Rara mempunyai look sedikit nyentrik.

Dengan rambut tipis dipuntel di bagian atas, bedak dingin putih, dan daster sobek yang dipake terus, bergantian dengan daster sobek yang satu lagi.

"Nanti kalau bapak gajian, bapak beliin daster ya bu..." pancing ayah Rara melihat istri pertamanya manyun.

"Daster sih banyak Pak...saya sukanya pake yang ini..."

"Sengaja...adem..." celetuk Nenek Rara.

"Jadi benar... ngga mau dibeliin apa-apa?"

Sebenarnya sang suami tidak ingin melanjutkan pernikahan dengan nenek Rara. Tapi untuk memilih bercerai dengannya, ia lebih tak tega. 

Istri pertamanya alias nenek Rara adalah seorang yatim piatu yang juga sebatang kara saat dia nikahi tiga puluh tiga tahun yang lalu. Selama itu pula mereka hanya berdua-dua saja tanpa dikaruniai keturunan.

"Saya mau gelang emas, Pak..." sang istri mulai klepek-klepek.

Sejak ayah Rara menikah sembunyi-sembunyi, nenek Rara seakan dimanja dengan barang-barang yang dulu tak pernah berani dimintanya. Ia tahu gaji suaminya tak banyak. Bisa membeli beras merk mahal dan cukup untuk keperluan sebulan saja, dia sudah senang.

Tapi sejak ia memergoki suaminya diam-diam nikah lagi, nenek Rara memanfaatkan situasi di atas angin. 

Jalan-jalan santai dan makan di luar yang dulunya ngga bakal, sekarang dilakoninya. Belanja tas dan sandal online, cek list. Mengganti tv lama dengan tv model plat, cek list. Mengganti kullkas biasa menjadi yang berteknologi, cek list. Semua demi mencegah gaji suami mengalir ke istri kedua.

Terkadang saat jatah waktu suaminya menginap habis, ia sengaja mencelup lagi pakaian dinas yang sudah kering, ke dalam ember. Tujuannya agar suaminya memperpanjang satu hari lagi untuk tinggal bersamanya. 

Tetapi saat Rara dibawa bermalam di rumahnya, ia sangat suka. Nenek Rara ingin berlama-lama bermain dengan balita cantik itu. Memandikannya, mengusapkan bedak bayi dan minyak telon, mendorongnya dengan stroller, rasanya ia adalah ibu paling bahagia sedunia. 

Tapi kenapa ia tak ditakdirkan menjadi ibu dari anak-anak yang manis-manis? bisiknya suatu malam.

Di rumahnya, sejak ia mempunyai madu dan bayi cantik bernama Rara kemudian lahir, tersedia berbagai mainan anak perempuan. 

Baju-baju yang lucu dan sepatu-sepatu mungil yang cantik. Karena alasan ini pula ia melarang suaminya buru-buru pulang. Nenek Rara tak rela kebahagiaan ini dimiliki wanita lain.

"Rara diajak kesini besok ya Pak..." sang suami yang sibuk mengkhayal, sedikit agak terkejut. Diangguknya kepalanya lalu pamit mandi dulu.

Para tetangga tahu benar seluk-beluk pasangan ini. 

Nenek Rara sudah egois sejak dulu. Nenek Rara sendiri yang bercerita kesana kemari tentang penyakitnya. Ia tak bisa hamil meskipun sudah operasi pengangkatan tumor kecil di rahimnya. Sekarang ia ingin mempunyai anak, tetapi tak ingin mempunyai madu.

Pernah saat Rara masih di dalam perut ibunya, disuruhnya seorang laki-laki muda datang dan membujuknya agar mau berkencan. Toh mereka punya waktu beberapa hari sebelum suaminya pulang. 

Permainan ini lambat laun terungkap. Yang bisa diakuinya sambil menangis adalah perasaan tak rela suaminya menikah lagi. Ia tak ingin ada pernikahan kedua, walau dia tau mempunyai seorang anak dari rahim wanita lain pun sangatlah membahagiakan. Apalagi bagi seorang suami seperti suaminya.

"Selama bapak belum kembali, ibu pikir lagi yaa, ibu harus belajar memaafkan bapak dan bundanya Rara..." pesan suaminya di ujung teras.

"Ibu sayang Rara kan..." tanya sang suami lagi, diambut anggukan kepala Nenek Rara.

"Rara ngga mungkin ada bu, kalau bundanya Rara ngga ada. Dan kalau Rara ngga ada...ibu ngga akan sebahagia sekarang kan?"

Sekali lagi Nenek Rara mengangguk tanda menurut. Selalu seperti itu.

Lalu bayangan suaminya pergi bersama datangnya senja. Tinggallah ia terpaku sendiri.

Foto: steemitimages.com

Malam-malam yang sepi akan dilaluinya lagi. Selalu seperti itu.


Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

6 komentar untuk "Menjadi TOXIC Bagi Orang Lain"

  1. Balasan
    1. Bagian mana yang menjadikannya KEREN mas Budi?

      Hapus
  2. Selalu keren ceritanya☺️๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...

      Semoga kekurangannya bisa diperbaiki๐Ÿ™

      Hapus
  3. Siip, mba Ika di IG namanya apa mba ๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi..ngga punya IG mbak Dinni...

      Fokus sama yg ada aja๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

      Hapus

Berlangganan via Email