Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Penis di Patung Yunani Kuno Ukurannya Kecil?

 

Patung David karya Micheleangelo (sumber: nationalgeographic.grid.id)

Patung bergaya Yunani Kuno, lengkap tanpa baju dan hanya berbalut selembar kain yang terbuat dari semen. Sebuah karya seni yang tidak hanya nyaman dipandang, namun juga merupakan warisan budaya masa lalu.

Sayangnya, patung replika yang berada di Indonesia itu kemudian ditutup dengan kain sungguhan. Alasannya tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang mengumbar aurat. Padahal, karya seni sebenarnya malah lebih vulgar lagi. Buah dada wanita tanpa pengalas, dan penis lelaki ditonjolkan dengan sengaja.

Bagi yang sudah pernah melihat secara langsung atau melalui gambar di dunia maya, tidak usah terlalu malu untuk mengungkapkan bahwa mata pasti menjadi obyek pendaratan pertama pandangan.

Lantas apakah ada yang pernah bertanya, “kok penis manusia zaman dulu kecil-kecil?”

Bukannya tanpa alasan, setiap obyek seni pasti memiliki makna filosofisnya sendiri. Ternyata hal ini ada hubungannya dengan konsep lelaki ideal tentang pria pada zaman Yunani Kuno.

Menurut mereka, penis besar ala Mak Erot adalah berlebihan dan bodoh. Penis kecil merupakan simbol moderasi atau sifat yang tidak berlebihan. Seorang lelaki seharusnya dipuji karena kecerdasan dan kearifan, bukanlah kejantanan.

Penis kecil yang tidak berereksi juga representase dari bagaimana seorang lelaki dapat mengontrol hawa nafsu mereka. Hal ini dapat dilihat pada seluruh karya seni yang menggambarkan lelaki dengan sifat luhur, termasuk para raja dan dewa.

Nah, sebaliknya, lukisan atau patung yang menggambarkan keburukan justru dibuat dengan penis besar yang sedang ereksi. Satyr, tokoh mitologi Yunani yang berwujud setengah manusia dan setengah kambing contohnya.

Ia adalah mahluk siluman yang gemar mabuk-mabukkan dan penuh nafsu liar. Oleh sebab itu, kehadirannya selalu digambarkan dengan penis tegang berukuran besar. Satyr mewakili lelaki yang tidak terhormat dalam pandangan bangsa Yunani Kuno. Hidupnya tiada lain hanya mengenai seks melulu.

Lantas mengapa bangsa Yunani Kuno harus menonjolkan aurat dari karya seninya? Bukannya jelas unsur maskulin lainnya sudah terpampang di sana? Ternyata ukuran kehormatan bukan hanya milik patung saja. Para pencipta seni “menantang” para penikmatnya. Seandainya ada perasaan malu, jijik, atau marah, maka sesungguhnya ia bukanlah manusia yang berbudi luhur, karena pikirannya sudah terkontaminasi oleh nafsu.

Akan tetapi ukuran penis tidak ada hubungannya dengan kemampuan seksual. Bahkan disebutkan bahwa penis kecil justru melambangkan kesuburan. Mau tahu alasannya? Karena jarak yang lebih pendek membuat tingkat keberhasilan sperma membuahi indung telur lebih bagus.

Nah, bagi para lelaki, masih berpikir bagaimana membesarkan alat kelaminmu?

 

Referensi: 1 2


SalamAngka

Rudy Gunawan, B.A., CPS®

Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI

 

8 komentar untuk "Mengapa Penis di Patung Yunani Kuno Ukurannya Kecil?"

  1. Ha..ha.. mak Erot, masih hidup gak yaa?

    BalasHapus
  2. Sayangnya, patung replika yang berada di Indonesia itu kemudian ditutup dengan kain sungguhan. Alasannya tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang mengumbar aurat. Padahal, karya seni sebenarnya malah lebih vulgar lagi. Buah dada wanita tanpa pengalas, dan penis lelaki ditonjolkan dengan sengaja.

    Hehehe.. patungpun harus ikut aturan ya?😂👍

    BalasHapus
  3. 😁😀😀 ga berani Komen ah

    BalasHapus
  4. 😁😀😀😀 ga berani Komen ah

    BalasHapus
  5. 😀😁😁 ga berani Komen ah

    BalasHapus