Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melihat Realitas Setahun Jokowi-KHMA

 

Melihat Realitas Setahun Jokowi-Ma’ruf Amin

Selamat  kepada Presiden Jokowi dan Wapres KH Ma’ruf Amin yang telah setahun mengemban amanat bangsa dan negara.  Di tengah pandemi yang mendera, siapa juga yang menyangka akan demikian. Nada optimisme ketika pidato pelantikan Presiden Jokowi, di tengah sepinya tepuk tangan akan optimisme capaian pada tahun 45 mendatang. Tahun ke-100 dengan harapan nomer empat dunia, namun sepi-sepi saja reaksi anggota dewan dan tamu undangan.

Di sana juga menyebutkan akan adanya penyederhanaan perundang-undangan dengan upaa Omnibus Law, lagi-lagi sepi. Ya iyalah sepi, mereka, para anggota dewan yang akan kerja keras namun akan menyiapkan jerat langkah ngaco mereka selama ini.

Di tengah pandemi, prestasi yang laik dicatat sangat banyak. Keberanian memilih tidak mengunci kota dan kawasan sebagaimana banyak politikus dengungkan, pada awal pandemi. Toh kini menemukan faktualisasi ketika WHO menyatakan hal yang sama. LD bisa memiskinkan rakyat yang miskin.

Pilihan sulit yang dipilih, sama dengan ketika memilih untuk membiarkan orang marah ketika kenaikan BBM dan taraf dasar listrik. Toh semua berjalan dengan sendirinya. Lock down dengan matinya ekonomi, wajar kala oposan mengatakan, jangan korbankan rakyat demi ekonomi. Ke mana caci maki itu kini? Sepi ketika badan dunia saja mengakui mereka “khilaf” kala itu.

Itulah pemimpin. Sama juga dengan keberanian menggeber Omnibus Law, padahal  tanpa melakukan itu, Jokowi tetap saja presiden, toh tidak ia pilih. Memilih jalan sunyi demi bangsa dan negara yang lebih bermartabat. Pilihan sulit yang lagi-lagi tidak mendapatkan apresiasi.

Jepang, perdana menterinya melakukan kunjungan termasuk paling awal. Janji relokasitujuh perusahaan, artinya ada harapan terbentang makin jelas ekonomi akan membaik. Selain itu kecerdikan membangun diplomasi di antara perang datang China dan USA dengan lihai. Prabowo tiba-tiba mendapatkan visa dan undangan dari Paman Sam, padahal hampir seperempat abad ia ditahan untuk masuk ke sana.

Toh Luhut juga datang ke China. Proposan Amerika tidak lagi menjadi harga mati yang harus diikuti. Kekuatan Amerika pada ujung senjakala, untuk apa ditakuti dan seolah menjadi kacung mereka lagi. Dunia bergeser ke arah China dengan kemampuan membangun di Afrika yang sangat progresif, dan minus banyak tuntutan sebagaimana Amrik dan Barat. Ini penting, keduanya mitra yang perlu dijaga.

Dekat dan berjarak dengan keduanya itu jauh lebih menguntungkan, bukan cenderung satu dan meninggalkan lainnya. Trik yang tidak mudah tentunya, toh selama ini telah sukses menjalankan itu semua.

Proyek infrastruktur sangat penting bagi rancang bangun bagi negeri ini dalam segala bidang. Peresmian dan penyelesaian proyek mangkrak, pembukaan jalan-jalan baik tol atau yang lainnya juga terus berlangsung. Kawasan regional ASEAN mulai panas dingin. Sama demamnya para koruptor dengan makin dekatnya UU penarikan dana dari Swiss.

Sayang, di tengah upaya keren itu, datang si wereng yang demikian mengganggu. Siapa saja mereka? Kelompok yang terganggu kepentingan, kenyamanan masa lalu, dan mafia demi mafia yang tergesur periuknya. Ada pula elit masa lalu yang malu tidak bisa melakukan apa yang sangat mudah ketika melihatnya.

Mereka-mereka ini nggrusuhi dengan menebarkan aroma busuk, racun, dan penyakit dengan hoax, fitnah, dan juga demo rusuh di mana-mana dengan dalih apa saja. Salawi menjadi slogan tak kenal ampun.  Ini penyakit yang susah untuk disembuhkan karena mereka akan dengan mudah menyerang balik ketika ada penegakan hukum.

Pengerahan massa dalam menyikapi isu dan kejadian faktual negeri. Kesuksesan dalam menekan dengan kisah Ahok, seolah menjadikan kelompok ini ketagihan. Minimal ada tiga kasus besar yang ditekan massa, UU KPK, RKUHP, dan UU Cipta Kerja. Energi, materi, dan juga waktu habis untuk menghadapi mereka ini.

Negara harus selalu nombok untuk nafsu dan hasrat politikus pecundang yang takut berkompetisi dalam pemilu. Kerusakan yang mereka timbulkan itu negara yang harus mengganti.

Penegakan hukum terhambat karena politik ngaco yang lebih mengemukan. Mencampuradukan dengan agama lagi.

Intoleransi juga masih demikian kuat dan makin masif. Tentu saja ini adalah perilaku dari para bandar dari poin di atas. Mereka terganggu kepentingannya menyulut soal sentisif anak bangsa ini. murah meriah menganimasi rusuh dengan dalih agama.  Mungkin bagi Jokowi hal ini hal yang tidak demikian signifikan, akan selesai ketika sudah sejahtera. Pandangan yang berbeda dengan penyuka rusuh, selalu nggriseni.

Catatan prihatin ini toh masih tidak sebanding dengan betapa gigih dan beraninya Jokowi di dalam memilih prioritas. Melaju ke depan di tengah aneka ancaman. Buah demokrasi yang sangat masam bisa dengan legawa dinikmati Jokowi yang mampu mengalahkan dirinya.

Salam Kasih

Susy Haryawan

8 komentar untuk "Melihat Realitas Setahun Jokowi-KHMA"