Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melawan Garis Takdir

 

Dokpri


MELAWAN GARIS TAKDIR

______________________

Kita terlalu berharap kebahagian, tapi arah dan langkah sering terpalang oleh kemalasan. Kita selalu saling percaya, namun curiga lebih berkuasa memberi keputusan. Kiranya, ada titik temu yang menuai kejelasan. Biar garis takdir pengharapan tiba dengan rintihan doa dan ketulusan bahasa-bahasa indah.

______________________

Liang peradaban mana pun, akan selalu berpijak pada kebenaran. Suara-suara ketulusan akan tetap tumbuh bersama edaran darah yang terus menagi. Dan, darahmu masih terus tumbuh berteman sepi di sebuah jarak yang begitu jauh. Riak-raga tersulam dalam lekuk tubuh yang masih menghamba pada kasih-sayang.


Pada sebuah rentetan jeda menikmati keadaan, hati dilanda duka. Jiwa ditumbuhi oleh sebuah keputusan takdir tentang kehilangan. Tapi, mencoba untuk tetap kuat adalah sebuah keseharusan. Menjadi raga yang merdeka adalah prinsip yang tak bisa ditawar dengan rayuan. Karena pergimu demi melihat generasi tetap bahagia. Dan, pulangmu adalah ajakan yang dilontarkan dengan bahasa-kata bermakna, tapi tak bisa dilukiskan.


Adalah tentang ibu rahim purba yang melahirkan anak-anak peradaban dengan timangan ketulusan. Adalah air mata dan keriput wajah tetap menjadi titik semangat yang terus mendampingi diri setiap hembusan nafas menikmati jalan takdir. Dan, pesan petuah akan terpatri dalam lubuk hati yang tak harus dilukai. Aku, tak mau menambah lagi deretan beban dan siraman pilu.


Tak ada satu pun orang yang mengiyakan kehilangan berlabu dengan cepat, kalau pelukan hangat masih sangat dibutuhkan. Apalagi, kasih-sayang masih diperlukan untuk menghangatkan tubuh. Sayangnya, harapan tak berpihak dengan rintihan hati yang sedang menangis. Malah, air mata turun dengan deras mengalir hingga membanjiri tanah sejarah di bulan Juli tahun ganjil hitungan angka-angka yang terpajang pada setiap tembok dan bunga.


Jika, pergimu adalah sebuah tekanan menanggung kehidupan. Maka, kuasaku tak bisa memberi batasan. Sebab, akulah anak-anak peradaban yang telah kau lahirkan dengan perlawanan berdarah-darah. Aku tak mau menambah kesakitan yang belum juga pulih sembuh. Walau, sebenaranya hatiku pun tak tega menerima sebuah pukulan telak yang masih kutanggung sampai kini.


Untukmu, yang pergi dan suatu saat akan kembali. Aku masih tetap menunggu pulangmu. Jalan takdir dan bendungan gelombang zaman tak membuatku hanyut terbawa arus. Aku masih memegang komitmen sebagai generasi berbudaya.


 Tak ada sejengkal niat yang coba mengotori kesucian harapan. Tak ada sehelai debu yang tertiup angin menghampiri raga.

Yang benar akan menjadi pondasi. Jalan takdir dan benturan zaman harus disikapi dengan dewasa. Sebab, aku didik tetap menjadi diri yang mandiri.


 Bukan sebagai penerus darah yang mudah pasrah. Hidup adalah soal pertarungan dan resiko. Kekurangan yang menimpa, tetap dicari titik terangnya. Kelebihan yang berlabu akan selalu disyukuri.

Lantaran kolong langit begitu gelap, kakimu melangkah melewati lautan menggapai benua persinggahan sementara. Terik matahari suram menghalangi jalan, maka matamu mulai rabun menatap segala yang di depan mata. Karena, yang berada di sekitar tak bisa diharapkan.


Tetaplah dengan tenang membangun tali-temali yang terus mengikat. Aku di sini pun ikut berusaha menambah sodoran demi meringankan beban yang masih menumpuk. Biar, kita kembali lagi berkumpul dalam rumah yang selama ini memberi cahaya. Ialah cahaya harmoni yang sekarang menunggu rindu dalam temu. Tangan terus menunggu berjabat. Ruang waktu terus berputar ikuti catatan perintah. Dan, hanya mengingat kembali dari segala yang telah lewat.


#

Kisah yang tak pernah dibaca

Ketika badai getir datang melanda

Aku memilih bahasa teduh merangkul raga

Memeluk yang sedang jauh di benua tua.


Kediri, 29 Oktober 2020

7 komentar untuk "Melawan Garis Takdir"

Berlangganan via Email