Header Atas - Panjang

Manusia Hanya Ingin Mendengarkan Apa yang Ingin Didengarkan

 

Sumber: colemaninsghts.com


“Gw sdh blg ke dia ttg apa yg lo dgr kmrn. Dia mah cuek prg bgt aja.”

Tulisan diatas seringkali kita dapatkan pada pesan melalui gawai. Tidak lengkap, namun dipahami artinya.

Alasan klasik, menghemat waktu, sehingga menyingkat beberapa tulisan, sudah pasti dipahami artinya lah. Padahal 12 tahun mengenyam Pendidikan Bahasa Indonesia, menyingkat kata tidak pernah diajarkan resmi.

Bagaimana kita dapat memastikan bahwa singkatan tulisan memiliki makna yang dimaksudkan? Semisalnya “blg”, secara umum dipahami sebagai kata “bilang”, namun bisa saja berupa kata “bolong” atau “baling” kan?

Bukan Cuma singkatan, penulisan kata yang salah ketik atau istilah kerennya “typo”, juga dipahami artinya dengan baik. Misalnya “says” langsung dipahami sebagai “saya,” atau kata “bagainama” yang langsung dapat diartikan sebagai “bagaimana.”

Menurut seorang peneliti dari Universitas Cambridge yang tidak disebutkan namanya, fenomena ini disebut dengan Typoglycaemia.

Penelitian ini menyebutkan bahwa otak manusia tidak hanya tergantung pada apa yang tertulis, namun juga kepada apa yang diharapkan terlihat, selama huruf pertama dan terakhirnya berada pada posisi yang tepat.

Ternyata pola yang sama juga terjadi pada obyek yang tidak jelas. Sebuah penelitian lainnya di Universitas Glasgow menemukan bahwa otak akan menebak apa yang seharusnya mereka lihat untuk mengisi ketidakjelasan sebuah gambar.

"Secara efektif, otak kita membangun teka-teki yang sangat kompleks dengan menggunakan data atau informasi apa pun yang diperoleh," ujar Fraser Smith salah satu anggota peneliti.

"Hal ini dipengaruhi juga oleh konteks di mana kita melihat mereka, ingatan kita, dan indera kita yang lain," tambahnya, dikutip dari Sciencalert, Sabtu (31/3/2018).

Dengan demikian maka kita dapat menyimpulkan bahwa otak akan membentuk sesuatu yang sesuai dengan apa yang berlaku secara umum, berdasarkan memori yang berisikan pengalaman masa lalu. 

Secara psikologi, bisa juga disebutkan bahwa manusia ingin mendengarkan apa yang ingin mereka dengarkan. Penilaian berdasarkan standar umum yang berlaku, membuat manusia sering berpikir bahwa kewarasan adalah sebuah sikap yang umum dilakukan.

Dengan demikian, apa yang dianggap tidak umum, seringkali akan dilabeli dengan ‘Tidak Waras.’ Seseorang yang antri ditengah perebutan makanan, dianggap tidak waras. Sementara tidak mengantri pada restoran capat saji, akan mendapatkan label, ‘orang tidak tahu aturan.’

Manusia tidak suka mendengarkan “kabar buruk.” Tapi apakah kabar buruk berlaku di pikiran? Tidak sebuah kata atau kalimat mengandung arti yang pasti, tidak ada yang baik atau buruk.

Yang menentukan baik atau buruk adalah perasaan manusia. Manusia menilai kualitas dari kabar berdasarkan pengalaman hidupnya.

 

SalamAngka

Rudy Gunawan, B.A., CPS®

Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI

 

Posting Komentar

11 Komentar

  1. Semoga perasaannya dijaga baik2 selalu sehingga semua kabar menjadi baik atau minimal netral...

    BalasHapus
  2. Walau terkadang tidak waras itu indah tetap tidak ada yg mau dibilang tidak waras ya

    Dan kenyataan demikian hanya kabar baik yang diharapkan

    Bagaimana dengan kabar angka hari ink?

    BalasHapus
  3. Baru sekarang saya baca tentang typoglicaemia... biasanya yang sering saya temui : hypoglikemia.
    Kosakata baru pak...����terima kasih.

    Ttd. Kakak peri gigi
    Hehehehe

    BalasHapus
  4. Terima kasih untuk artikelnya pak Rudy. Bermanfaat,☺️👍

    BalasHapus
  5. Wah dapat ilmu baru tentang typology .. 😃

    BalasHapus
  6. Nyimak dan nyuri ilmu 😂😁

    BalasHapus
  7. Betul lah, saya jg kalau lg ga mood ga mau trm kritikan 😂🙏✌️

    BalasHapus