Header Atas - Panjang

Lukai DIY Dua Kali, Habislah Demokrat

 

Lukai DIY Dua Kali, Demokrat akan Habis?

Masih banyak berseliweran aneka bahasan mengenai SBY, Demokrat, dan penolakan UU Omnibus Law. Salah satu yang sangat menarik adalah masalah SBY dan Yogyakarta. Kerusuhan dengan pembakaran salah satu cafe di sana kuat diduga ada unsur Demokrat dan SBY terlibat. Potongan photo ketika kader bahkan elit Demokrat memimpin aksi, tentu saja bukan aksi rusuhnya.

Susah melepaskan keterkaitan antara pembakaran dan orasi yang melibatkan orang berbaju biru khas partai itu. Bagaimanapun, apalagi ditingkahi dengan gaungan media sosial dan teriakan demi teriakan SBY dan  kader partainya, malah membuat dugaan makin lekat. Hal yang susah payah mereka tolak, malah membuat orang makin curiga.

Parahnya lagi, SBY dan juga Demokrat malah seolah meradang dengan dengan pernyataan-pernyataan normatif. Lha tidak ada yang menyebut inisial, atau ciri-ciri tertentu secara spesifik, hanya mengatakan tahu siapa penyandang dana, kog SBY yang maju dan meminta dikatakan. Pak Beye, ingat, sampeyan sudah warga biasa. Biar pemerintah, intelijen, dan kepolisian yang mengurus itu.

Rusuh di Jogya ini, sangat mungkin pelakunya justru orang atau pihak di luar Demokrat yang sedang menyalib di tikungan. Politik Kebo Ijo yang tanpa sadar SBY terjebak di dalamnya. Ini sangat mungkin, tetapi mungkin juga perilaku sendiri, yang hendak dipakai sebagai alasan klasik, kuno, basi, politisasi korban. Menjual diri dan menglaim diri sebagai korban, sebagai sasaran fitnah dan seterusnya. Basi.

Perlu  diingat, SBY pernah menjadi sasaran kejengkelan, bahkan kemarahan warga DIY, ketika pemerintahannya mengutak-atik posisi Istimewanya. Hal yang menjadikan pembicaraan menjadi panas. Posisi keraton dan keberadaan DIY itu bagian utuh karena kesediaan almarhum Sri Sultan Hamengkubowo IX mengikuti Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Padahal sangat mungkin Yogyakarta berdiri sebagai sebuah kerajaan di era modern. Toh lebih banyak kesulitan pastinya dan akhirnya memilih menjadi provinsi dari NKRI. Aneh dan lucu, SBY yang sok-sokan seolah warga kraton. Cek saja kalau sedang mantu, atau lebaran, bagaimana aksi keluarga ini. Entahlah ada luka batin apa.

Kini, dengan rusuh dan pembakaran, serta lekatnya sumber dan agitasi rusuh itu dari polah Demokrat, apakah masih akan memberikan sisa-sisa kursi untuk mereka di periode mendatang. Makin sulit jika melihat rekam jejak mereka selama ini.

Demokrat tidak bisa melakukan klarifikasi apapun terhadap dua hal itu. Mau mengatakan ini dan itu jauh lebih menjadi blunder dari pada memperbaiki keadaan. Sama juga dengan permintaan data penyandang dana rusuh. Upaya menggarami lautan ala SBY.

Noda yang melekat lebih dulu dari kasus korupsi saja belepotan, apalagi ditambah kasus rusuh dan ada baju dengan lambang mereka. Sangat mungkin mengatakan itu bisa beli, lha wajah dan orang yang sudah masuk jajaran elit? Mosok juga hanya beli.

Hal yang sama sekali tidak mereka lakukan, selain hanya mempertahankan diri dengan kata-kata yang balik menuding pihak lain. Khas politik kepiting, menjatuhkan pihak lain demi bisa mendapatkan panggung dan kesempatan.

Era sudah  berubah dan modern. Buatlah prasasti, prestasi, bukan semata-mata sensasi, apalagi kontroversi. Zaman sudah berubah. Citra itu mengikuti capaian, bukan buatan yang akhirnya akan terkuak dan malu.

Sosok, wajah, tampilan itu sekarang sudah bukan jaminan untuk bisa menjadi alat. Zaman SBY mungkin bisa, namun dengan kemunculan pribadi-pribadi muda, berkarakter, dan menjanjikan dengan capaian, bukan bualan, AHY tidak akan mampu mencapai sebagaimana SBY.

Pemilu 2024 masih cukup jauh. Demokrat dan AHY jangan membuang-buang energi dengan menjadi oposan picisan pada Jokowi. Berilah bukti gagasan, kinerja, dan capaian yang lebih dari sekadar memukuli beton Jokowi. Tidak dalam pemerintahan mana bisa? Siapa bilang, lihat Mahfud MD, Moeldoko, banyak tokoh-tokoh yang tidak dalam pantauan kamera toh kini juga bisa berkiprah.

Politik  cemar asal tenar sudah tidak laku. Oposan dari yang oposan tidak menjual karena malah antipati massa makin kuat. Manfaatkan jaringan, link, dan juga kapasitas SBY sebagai presiden untuk banyak berbuat, bukan banyak menghujat.

Waton sulaya yang tidak juga berdaya guna, bagaimana menjadi oposan yang cengeng menghadapi kopignya Jokowi. Mencela tanpa dasar, mengajari bebek berenang, semua sia-sia. Tidak berdampak apa-apa baik bagi Jokowi apalagi bagi AHY.

Mosok lulusan terbaik Akmil tidak punya kreasi. Padahal dengan menjadi bupati atau wali kota dulu, justru kiprahnya akan terbaca dengan gamblang, semua terlihat, mana kualitas, mana klaim, dan mana polesan. Atau tidak berani karena memang tidak mampu? Lha dalah, sama saja boong jika demikian.

Melalui dan menapaki dari bawah padahal pernah dijalani Jokowi, dan bisa karena memang capaiannya itu jelas terbaca. Pemilih tahu apa yang sudah dilakukan. Pilihan anak beranak itu memang demikian, ya sudah, masa depan akan makin suram.

Salam Kasih

Susy Haryawan

Posting Komentar

6 Komentar

  1. Saya juga seperti itu, punya perasaan yang sama
    Tapi bagaimana lagi, mungkin saya hanya punya kekuatan dan punya suara saat pemilu nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. suarakan dalam tulisan, tetap akan terdengar, dari pada hanya dalam pemilu, tertutup oleh parpol malah

      Hapus