Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Luka Hati

 

Foto: cdn-image.hipwee.com

Menikmati pagi itu adalah soal jiwa, soal batin. Dan mungkin orang tidak bisa melakukannya setiap hari. Karena setelah bangun tidur, Anda akan buru-buru mempersiapkan diri berangkat ke tempat kerja. Bahkan sarapan  yang katanya harus pun, seringkali Anda beralasan tidak sempat. Karena tempat kerja jauh, atau karena akan menemui macet.

Suatu hari di jalan...

Aku nelangsa, dan mungkin sedikit nyinyir. 

Waktu itu aku sedang menaiki motor, bertemu dengan sepasang suami istri yang berseragam kantor daerah. Bukan bertemu. Tepatnya motor mereka berjalan di depanku. Saat itu masih pagi benar. Sekitar jam enam pagi. Sementara jam kantor di sini dimulai setengah delapan, kalau tidak salah.

Seperti yang kukatakan tadi. Aku nyinyir. Sesuatu bergelayut di hatiku. Seakan menyalahkan mereka. Suami istri sepagi ini sudah keluar rumah untuk bekerja. Jam berapa mereka bangun dan mandi? Mungkin saja saat azan subuh. Tapi mandi pada jam lima, aku tidak bisa membayangkan. Udara di sini hanya 23 derajad. Apalagi saat musim hujan, cuaca benar-benar tak bersahabat.

Astagfirullahal adzim

Bukankah mereka melakukan ini semua untuk mencari nafkah? Mungkin untuk anak-anak mereka, atau untuk orang tua mereka. Karena tidak jarang yang namanya orang tua, sudah tidak berdaya di usia senjanya, dan anak-anak berkewajiban menafkahi mereka lillaahi ta' ala.

Aku terus menjalankan motorku pelan di belakang mereka. Sudah ada setan dalam hatiku. Berbisik dan mengajarkan hal-hal yang bodoh. Berusaha menjerumuskan aku dalam prasangka. Astagfirullahal adziim...

Mungkin aku iri. Karena aku tak mempunyai pekerjaan seperti mereka. Aku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Dan aku mulai jenuh dengan rutinitasku. Apalagi saat aku merasa tak dihargai, walaupun anak-anakku tumbuh sehat dan cerdas. Mereka jarang sakit, mereka tidak sulit diatur, bahkan juara di kelasnya masing-masing.

Nah nah nah... Ini tipu daya setan lagi. Bukankah aku hanya manusia lemah, dan apapun yang bisa kulakukan semata-mata atas izin Allah. Aku bisa begini dan begitu, karena Allah yang memberi jalan, dan Allah yang memberi kemudahan. Astagfirullahal adziim ya Rabb...

Memang akhir-akhir ini batinku bermasalah. Mungkin ini adalah gejala penyakit hati. Aku mulai bosan bangun pagi lalu memasak dan mencuci. Tepatnya sudah tiga belas tahun sejak aku mendapatkan pendamping hidup. Mungkin Anda juga pernah berada dalam posisi sepertiku. 

Dan akupun melayangkan protes. Aku tegas-tegas meminta suamiku tak menuntutku menyiapkan bekal makan siang untuk dibawanya kerja. Beli saja di warung-warung dengan lauk ayam. Itu lebih manusiawi. Dengan uang lima belas ribu, aku tak susah-susah dan tak terburu-buru. Suami pun bisa makan enak. Berbeda dengan isi bekal seadanya yang biasa kusiapkan.

Mungkin suami merasa setengah hati dengan keputusan sepihak kali ini. Aku tak perduli. 

Tiba-tiba aku merasa merdeka. Merasa lepas dari beban yang setiap pagi melarangku melakukan hal-hal lain selain memasak. 

Akhirnya aku bisa keluar dari dapur kesayangan. Aku berjemur diri bersama kucing-kucing peliharaan. Melihat-lihat tanaman kencur yang mulai tumbuh. Daun akasia berserakan menunggu disapu. Bunga putih mekar seiring munculnya matahari pagi. 

Aku sangat merasa nikmat. Kulitku yang dingin seketika terasa hangat dan nyaman. Semakin lama semakin luar biasa. 

Bodohnya. 

Aku melewatkan hal-hal seperti ini hanya demi memasak dan menghemat budget. Mengikuti keinginan suami. Tapi lihatlah setelah sekian lama, batinku luka. 

Aku merasa tidak adil. Setiap bangun tidur, satu saja yang harus kulakukan. MEMASAK. 

Kemudian setelah suamiku berangkat kerja, aku harus mencuci. Belum lagi menyiapkan makan siang untuk anak-anak, karena menu yang kubuat pagi-pagi pastinya menu untuk suami, pedas das das!

Aku ingin pagi-pagi bisa nonton tv, atau menulis, atau sekedar membalas pesan whatsapp. Pokoknya jangan memasak. 

Selama ini aku terikat dengan satu menu untuk suami yang itu-itu saja. Aku pun tak bisa menjadikannya menu sarapanku. Aku kesal. Aku ingin duduk manis minum teh sambil menikmati pisang goreng, tapi tak bisa. 

Setiap hari aku harus mengantar suami ke tempat kerja, lalu pulang lagi dengan membawa motor kami satu-satunya untuk kupakai mengantar anak-anak sekolah. Siangnya aku menjemput mereka lagi, sorenya aku menjemput suami dari tempatnya bekerja. Antar jemput seperti ini sudah berlangsung lima tahun. Wajar kalau sekarang aku merasa bosan. Belum lagi aku merasa bersalah karena jadi sering meninggalkan si kecil yang baru tiga tahun. Penyakit hati yang sekarang menghinggapiku, ibarat bom waktu yang siap meledak. Tapi benarkah seperti itu, atau sekali lagi ini hanyalah tipu daya setan?

Kira-kira ini yang membuatku nyinyir kepada suami istri bekerja tadi. 

Aku membayangkan alangkah membosankan menjadi mereka. Berjuang sepagi ini. Terkadang harus memakai jas hujan dan melewati banjir sebelum akhirnya sampai di tempat bekerja. Tidakkah akan menyenangkan kalau udara 23 derajad ini dinikmati di rumah saja sambil menunggu sinar matahari nan hangat? Sambil mencium wangi bunga, menikmati mereka bermekaran warna-warni. Teringat akan Allah yang sudah memberikan nikmat yang begitu banyak. Membiarkan kita terlelap semalaman, lalu membangunkan kita lagi. Semua begitu sempurna. Secangkir teh manis, nasi goreng dengan telur ceplok dan kerupuk, sambil nonton berita tv. Ya kan?

Nun di belahan dunia lain, kadang bencana terjadi. Gempa bumi, sunami, ledakan bom, kebakaran dan lain-lain yang membuat orang-orang di sana bangun pagi dengan ngenes. Wilayah mereka hancur, rumah mereka hancur, hidup mereka apalagi. Tidak adil kalau kita di sini, bangun pagi hanya untuk sibuk-sibuk dan bekerja. Bekerja dan bekerja. Iya kalau sempat sholat subuh dan mengaji dulu.

Aku mencoba berpikir lagi, dengan jernih. 

Untuk apa sih aku iri? 

Berjuta orang memang pergi bekerja setiap hari kecuali hari libur. Setelah sebulan mereka akan menerima gaji. Dengan gaji itu mereka bukan hanya bisa bertahan hidup. Lebih dari itu mereka bisa meraih masa depan. Membangun rumah, membiayai anak-anak kuliah, pergi umroh, entah apa lagi. Lalu aku apa?

Sebagai istri aku dapat apa, sebagai ibu aku bisa apa? 

Memang aku tak sendiri. Banyak sekali perempuan-perempuan yang hanya bisa jadi ibu, tak berkesempatan mempunyai pekerjaan dan karir. 

Pasti saat ini batinku sedang bermasalah. Kemarin dan dulu aku baik-baik saja. Aku melewati semuanya dengan baik-baik saja. Sampai aku melahirkan tiga anak dan telaten mengurus detail mereka. Menyusui, mengganti popok, membuat bubur saring, membantu mereka belajar, mengajarkan mereka nilai-nilai positip, sampai sejauh ini.

Sekarang aku butuh menikmati pagi tanpa terikat dengan dapur kesayangan. Aku butuh menikmati matahari pagi yang keluar dari celah hutan. Kulitku yang dingin akan merasakan sensasi hangat dan nyaman. 

Aku tau kesibukanku tak bisa kuhindari. Setidak-tidaknya sekarang aku ingin begini. Aku ingin memiliki diriku lagi. Aku ingin berleha-leha sesuka hati. Sampai aku siap kembali menjadi istri dan ibu yang sibuk. 
Ayra Amirah
Ayra Amirah Menulis adalah rekreasi tuk hati kita

7 komentar untuk "Luka Hati"

  1. Rasa iri akan merongrong.
    Capek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar...jadi luka hati...hehe

      Terima kasih Pak Budi Susilo๐Ÿ™

      Hapus
  2. Tetap menjadi diri sendiri, itu oke banget☺️๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, semangat-nya...

      Semoga si 'aku' ngga iri lagi dg keadaan orang lain๐Ÿ˜Š

      Hapus
  3. Kadang... kita butuh me time ya mbak.
    Semangat...dan sehat ya...

    Ttd.
    Peri gigi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, hehe...

      Akibat kurang me time, timbul beebagai perasaan negatip.

      Terima kasih dukungan dan doanya, mbak PERI GIGI...๐Ÿ™

      Hapus

Berlangganan via Email