Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sukses Starbucks yang Fenomenal

Dokpri

Nama kedai kopi Starbucks begitu menjulang di industri minuman berkafein di dunia. Kedai kopinya telah tersebar di seluruh pelosok dunia dalam jumlah yang fantastis. Bahkan varian kopinya telah melampaui racikan kopi barista Italiano, negeri asal muasal sajian kopi seperti espresso, cappuccino, dan lain-lain.

 

Kisah suksesnya telah begitu sering ditulis dan didiskusikan. Bahkan menjadi 'case study' menarik di kelas manajemen di mana-mana. Buku tentang Starbucks pun sudah beberapa kali ditulis. Dan salah satu di antaranya yang sangat menarik dibaca adalah”The Starbucks Experience”, sebuah buku best seller yang isinya tetap relevan untuk diaplikasikan dalam bisnis jasa apapun.

 

Buku yang ditulis Joseph Michelli, seorang psychologist dan pengarang asal AS ini, memang sangat menarik perhatian. Daya tarik utama buku ini sudah bisa ditebak. Bukan karena nama penulisnya semata yang terkenal, tapi lebih karena nama “Starbucks”!

 

Nama kedai kopi asal Seattle - AS ini memang sudah cukup akrab dengan kita, khususnya sejak kedai kopi ini mulai membuka kedai kopi pertamanya di Jakarta pada tahun 2002. Dan selanjutnya terus ekspansi ke berbagai kota besar di Indonesia.

 

Perkembangan Starbucks Indonesia termasuk sangat impresif. Sejak peresmian gerai pertama di Plaza Indonesia pada 17 Mei 2002, jaringannya dengan cepat merambah ke sekitar 32 kota di 430 lokasi.

 

Bagi pecinta kopi pasti pernah menyeruput kopi di salah satu outlet Starbucks atau setidaknya mengenal kedai kopi asal negeri Paman Sam ini. Brand Starbucks dianggap sebagai salah satu merek dengan nilai tertinggi di dunia. Situs "Statista.com" memperkirakan nilai pasar merek Starbucks sekitar 11.8 milyar dolar AS.

 

Negara-negara Asia yang dulu memiliki tradisi minum teh yang kuat pun tidak luput dari kolonialisasi ala Starbucks ini. Di negeri Panda yang tradisi warung kopi ala Hainan-nya ikut mempengaruhi gaya warung kopi di Indonesia, ikut diinvasi Starbucks.

 

Per tahun 2019, China mencatat rekor kedai Starbucks terbanyak di dunia di luar AS. Tercatat sekitar 4,123 kedai Starbucks di negeri Panda ini. Angka ini di atas Japan yang memiliki 1,286 kedai.

 

Sedangkan di negara asalnya AS, Starbucks mengoperasikan kedai sendiri sebanyak 8,791 dan kedai berlisensi sejumlah 6,250. Tentunya, jumlah kedai kopinya, termasuk di Indonesia, bisa saja bergeser di masa pandemi seperti ini.

 

Lalu apa yang menjadi rahasia suksesnya? Apa jurus-jurus saktinya yang mampu menaklukkan pasukan Romawi Italia dan juga mampu menginvasi negeri para jagoan Kungfu China serta Samurai Jepang.

 

Judul lengkap buku ini,”The Starbucks Experience” dengan sub-judul “5 Prinsip untuk Mengubah Hal Biasa menjadi Luar Biasa”. Buku ‘hard cover’ setebal 232 halaman ini memang banyak mengupas berbagai pengalaman spesial yang diciptakan para barista untuk pelanggan-pelanggan setianya.

 

Menurut Michelli, kesuksesan Starbucks didorong oleh orang-orang yang bekerja di kedai kopi ini – para Mitra Starbucks, demikianlah sebutan untuk karyawannya. Ada suatu budaya kerja yang unik, di mana Starbucks mampu mendorong mitra pada semua tingkatan untuk menuangkan energi kreatif dan dedikasi mereka ke dalam semua yang mereka lakukan.

 

Bab pendahuluan lebih banyak menceritakan ‘Success Story’ Starbucks. Dari sebuah kedai Kopi, Teh dan Rempah di Seattle (1971), perusahaan ini kini telah mengoperasikan lebih dari 30,000 kedai kopi di 70 negara. Seperti yang penulis jelaskan di atas, sebagian besar kedai kopi berada di AS, China dan Jepang.

 

Bab-bab selanjutnya merupakan penjabaran dari ‘5 Prinsip Dasar’ tadi, yang dipercaya bisa dijadikan kunci kepemimpinan yang dapat mengubah sebuah gagasan biasa menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa.

Dari lima prinsip dasar itu, mari kita menukil sebagian di antaranya.

 

*Lakukan dengan Cara Anda

Di bagian ini, ada "Lima Kiat Sukses" yang dibagikan, yakni: Ramah, Tulus, Perhatian, Berwawasan dan Peduli.

 

Kelima kiat tentu saja sangat penting. Tapi penulis ingin menyoroti salah satu di antaranya. Kiat 'ramah, misalnya, didefinisikan sebagai "menawarkan rasa memiliki pada semua orang". Para barista diharapkan menciptakan sebuah tempat di mana orang-orang (pelanggan) merasa bahwa mereka adalah prioritas.


Sebuah kedai di mana pelanggan merasakan kegembiraan, setidaknya untuk sesaat. Dan kegembiraan itu bisa di mulai dengan menyambut pelanggan dengan menyebut namanya (mencatatnya) dan mengingatnya dari kunjungan ke kunjungan. Kebiasaan kecil, termasuk jenis kopi yang rutin dipesan, sangat penting diingat.

 

*Semuanya Penting

Sukses Starbucks tidak semata karena kualitas kopinya. Namun semua detail terkecil yang sangat penting bagi pelanggan. Lingkungan fisik yang nyaman, mutu produk yang terjaga, pentingnya reputasi perusahaan di dunia luar, dan bahkan budaya yang menyenangkan.


Anda tentu masih ingat beberapa kasus korporasi yang terlibat kasus negatif akan segera menuai gelombang kecaman yang menderu, apalagi di era sosmed seperti sekarang.

 

*Terbuka terhadap kritik

Ada salah satu gagasan yang menarik di bagian ini, yaitu sudut pandang para pemimpin di Starbucks. Ketika masalah para pengkritik teratasi, para pengkritik tersebut bisa menjadi pendukung paling bersemangat.

 

Starbucks, misalnya, masuk ke Italia dengan pendekatan berbeda. Menyadari begitu banyaknya kritik maupun resistensi yang mereka hadapi, Starbucks berusaha menyesuaikan kultur hingga menunya khusus untuk pasar Italia.

 

Banyak tips-tips menarik yang tersebar di antara kelima prinsip tadi. Buku ini juga dipenuhi banyak kisah-kisah nyata para mitra (pegawai) Starbucks, ketika mereka berinteraksi dengan pelanggan-pelanggannya.

 

Starbucks memang sangat fenomenal. Bahkan kata ”Starbucks” seolah identik dengan kata ”kopi” itu sendiri. Minum kopi sudah bukan lagi sekedar ”minum kopi”, tapi sudah merupakan bagian dari gaya hidup modern.

 

Di kota-kota besar di Indonesia, kalau mau jujur, tidak semua yang mampir ke Starbucks adalah penikmat kopi. Dalam berbagai kesempatan ke Starbucks, ada saja pelanggan yang memesan minuman yang tidak mengandung kopi di Starbucks.

 

Kalau demikian, kenapa tetap ke Starbucks yang identik dengan kopi? Jawabannya cuma satu. Starbucks telah lama menjadi simbol gaya hidup modern. Maka sah-sah saja banyak yang ingin masuk ke situ.

 

Banyak hal-hal menarik lainnya yang bisa dibaca dari buku ini. Sang penulis, Joseph Michelli, sungguh sukses menembus sumber daya dan personel kunci di Starbucks. Dia berhasil mengumpulkan prinsip-prinsip kunci yang dianggap menjadi rahasia keberhasilan Starbucks.

 

Jika Anda bergerak di bisnis seputar jasa, apalagi yang beraroma kopi, tidak ada salahnya belajar dari yang terbaik di bidangnya. Belajar dari sang juara di bidangnya!

 

Ayo ngopi dulu!

 

Jakarta, 23 Oktober 2020

Oleh: Tonny Syiariel 

 

Catatan: Foto koleksi pribadi

 

Referensi:

https://www.statista.com/statistics/1033406/starbucks-brand-value-worldwide/

https://www.statista.com/statistics/277795/number-of-starbucks-stores-in-china/

 

9 komentar untuk "Kisah Sukses Starbucks yang Fenomenal"

  1. Terima kasih untuk artikelnya Mas, bermanfaat☺️👍☕

    BalasHapus
  2. Mengutamakan pelanggan adalah kunci.
    Keren Pak Tonny

    BalasHapus
  3. Malam Mbak Widz,
    Makasih yaa. Masih blm terbiasa dgn format di SKB.Mudah2an nanti lbh lancar. Salam

    BalasHapus
  4. Ahsiyyap, Pak. Aku masih berbisnis emas nih. hehehe :-)

    BalasHapus

Berlangganan via Email