Header Atas - Panjang

Kecanduan Merajut

Setiap kali melihat orang merajut, selalu muncul dalam pikiranku suatu pertanyaan mengapa mereka bisa duduk berlama-lama hanya untuk melakukan sesuatu yang kurang menantang seperti itu? Jika aku di suruh memilih maka lebih baik aku melakukan aktifitas yang membutuhkan gerakan tubuh dan berpindah ke sana ke sini daripada duduk dengan menghadap satu benda saja sepanjang waktu. Sungguh membosankan.

Namun apa yang aku pikirkan tadi berubah semenjak aku melihat seorang teman sedang memakai tas rajutan yang terlihat cantik di mataku ketika itu. Dasar perempuan, mulailah rasa keingintahuanku menggelitik dan aku bertanya, 

"Kok, bagus tasnya, beli di mana, Mbak ?" 

Jawab  temanku itu seraya tersenyum,

 "Tidak beli, ini buatan sendiri kok." 

Setengah berseloroh aku berkata, 

"Boleh dong lain kali aku diajarin?" 

Niat awalku hanya penasaran saja. 

"Jika temanku itu bisa merajut maka aku seharusnya bisa juga melakukan", gumamku. Dengan tersenyum temanku, sebut saja namanya Indah, berkata, " 

Sampeyan beli bahan nanti aku ajari." Tak ingin ribet dan bingung mencari toko dimana harus membelinya, aku membalas, 

"Sekalian aku dibelikan hakpen dan benangnya saja ya mbak, nanti aku ganti."

Keesokan harinya, temanku datang ke rumah dengan membawa pesananku dan akupun siap belajar. 

Dengan memperhatikan gerakan tangannya, aku mengikuti langkah-langkah yang dia lakukan. Aku membuat dompet dengan menggunakan benang warna kuning dan hijau. 

Mbak Indah mengajariku cara membuat motif kerang. Seharian aku menyelesaikan dompet tadi. Semakin aku terlarut dalam kegiatan merajut, semakin aku temukan suatu keasyikan tersendiri. 

Di awal aku tidak mau dipusingkan dengan tusuk tunggal (single crochet) atau tusuk ganda (double crochet) dan sejenisnya. 

Aku hanya menggunakan visual saja untuk belajar via YouTube untuk pengembangan diri dan tidak mau dipusingkan dengan teori dan gambar macam-macam tusukan dalam merajut. 

Hari berikutnya temanku terkejut ketika melihat dompetku sudah jadi.

"Mudahkan ?" tanyanya padaku sembari tertawa yang sedikit melebar. 

Secara pribadi, bukan itu poin terpenting dalam kegiatan merajutku. Memadukan konsentrasi pikiran, jiwa seni, dan ketelatenan hingga berhasil membuat suatu karya merupakan tantangan tersendiri bagiku. 

Jangan mengatakan anda termasuk orang yang sabar dan telaten jika belum bisa menghasilkan karya rajut. 

Mungkin itu yang memotivasi diriku hingga ingin merajut dan merajut lagi.

Proyek dompet telah selesai, kali ini aku membeli benang warna ungu muda dan pink untuk aku jadikan sebuah tas. Dengan melihat berbagai referensi melalui YouTube, aku memilih motif batubata. 

Aku mengikuti setiap langkah tutorial dengan cermat. Ada sebuah kebanggaan ketika aku melihat dasaran tas tersebut menunjukkan tanda-tanda mulai meninggi. 

"Aku berhasil." 

Rasa girang melingkupi semua aliran darahku. 

"Ibu, aku berhasil!" teriakku senang. Sekali lagi, bukan karena tasku berhasil. Poin utama bahwa aku bisa bertahan dan fokus terhadap sesuatu dengan sabar dan tidak menyerah.

Ingin rasanya aku tersenyum apabila mengenang masa-masa itu. Merajut, kegiatan yang semula aku benci, kini menjadi sebuah hobi yang aku lakukan pada saat luang. 
Berbekal handphone dan aplikasi foto, aku membuat desain yang akan aku jadikan papertag untuk hasil rajutanku. 

Dari sini, aku benar-benar telah belajar tentang makna hidup melalui seni merajut. Bahwa sebuah kesulitan dalam hidup akan bisa berubah menjadi keberkahan apabila kita dapat menikmati dan menjalaninya dengan sabar dan tidak mudah patah arang. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Aamiin...

Penulis Heni P. (181020)




 

Post a Comment

6 Comments

  1. Bagus mbak☺️πŸ‘ terima kasih untuk artikelnya☺️πŸ™

    ReplyDelete
  2. Wuiiih mantap, aku kurang telaten😁 diajarin mental terus πŸ˜‚

    ReplyDelete