Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kata-kata Elandre (Bagian Tiga-Tamat)

Ilusrtrasi (Dokpri)


Bukan Elandre namanya kalau ia juga tak meramalkan tentang hubunganku dengan seorang lelaki yang kelak akan kunikahi. Katanya lelaki itu nama depannya berhuruf vokal seperti namanya juga Elandre Andromeda. Ah, tapi itu tak mungkin.

Tak ada yang setara denganmu.  Lelaki yang bernama Ozzie Alandycz memang berusaha mendekatiku tapi bagaimana caranya dirinya bisa merengkuh hati ini?

Elandre memang tak berujar panjang lebar soal sosok pasangannya kelak.  Vanitha bisa merasakan setiap kali Elandre bisa melihat ke masa yang akan datang, energi dalam tubuhnya seakan banyak sekali terbuang. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. 

“Di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan, Van,” terang Elandre tegas.

Vanitha menatap Elandre dalam-dalam, lelaki ini begitu menderita atas pengetahuan yang dimilikinya. 

“Tidak, aku sama sekali tak tersiksa,” timpal Elandre berusaha menjawab kekhawatiran Vanita.

“Sungguh, tidak ada kata kebetulan. Semua hal telah tercatat dengan baik semenjak ribuan tahun lamanya dalam kitab-Nya, aku hanya mendapatkan sedikit pengetahuan-Nya atas izin-Nya,” imbuh Elandre pada Vanita dengan penuh keyakinan.

“Jadi, bila semua ditakdirkan apa artinya usaha kita?” tanya Vanitha penasaran.

“Penjelasannya akan panjang lebar Vanitha. Satu hal saja yang harus kamu ingat bukalah hatimu untuk menerima segalanya dengan tenang.”

“Meskipun dalam penderitaan?” tanya Vanitha kembali.

Elandre mengangguk, ia menuliskan sesuatu di buku kecil milik Vanitha dan menunjukkan bait-bait puisi yang ia buat dalam waktu tak lebih dari sepuluh menit.

Relakan hatimu
menerima setiap detik perjalanan hidupmu
karena hati yang rela adalah cara menepis sengsara

Relakan jiwamu
menerima takdir yang menetap atasmu
karena jiwa yang rela menjadi jalan takdir yang indah

Lihatlah gunung
perutnya rela menampung 
magma yang membara
bumi mendapatkan tenaga 
manusia pun bisa berjaya

Lihatlah matahari
tubuhnya rela mendentumkan api 
agar hangatnya sampai ke bumi
tanaman pun bersemi

Vanitha menitikkan air mata, betapa dirinya selama ini begitu egois tiada pernah berpikir bahwa kehidupan ini ada karena kerelaan dari banyak makhluk-Nya.

Bahkan  Vanitha kini mengingat ayam goreng yang disajikan ibunda tadi pagi adalah karena ayam itu rela disembelih kemarin siang. 

“Arti rela akan takdir itu sebenarnya seperti apa?” tanya Vanitha lebih mirip sebuah tanya penuh kebingungan. Bukankah ia rela untuk mengenang Elandre selamanya. Wanita yang akan menjadikan seorang Elandre hadir dalam doanya.

“Seperti rel kereta dalam track yang tepat. Kereta itu sampai pada tujuan tanpa memberontak. Karena tahu ada yang harus diantarkan, beban seberat apapun ia terima.”

Ah, tetap saja untuk menggantikanmu Elandre dengan siapa pun ia takkan pernah rela.

Gawai Vanitha bergetar. Ada beberapa pesan masuk yang membuatnya terpaksa menghentikan lamunan tentang Elandre.

Vanitha meraih gawai tipis berwarna hitam mengkilat dan membuka whatsapp chat dari Ozzie Alandycz. 

[Salam]

[Semoga kabar Vanitha Sand baik dan pesan ini tak mengganggu.]

[Bolehkah bila saya menelpon?]

Vanitha sebenarnya ragu, tapi demi kata-kata Elandre ia akan coba merelakan untuk menerima takdirnya.

Vanitha segera menjawab setuju. 

Tak lama kemudian telpon dari Ozzie masuk. Vanitha berpikir itu akan jadi percakapan yang singkat. Nyatanya tidak, Ozzie menceritakan mimpinya tentang lelaki yang sering datang dalam mimpinya. Lelaki itu menitipkan pesan agar dirinya mendekati Vanitha.

Vanita tak menduga hal seperti ini. Mereka baru bertemu dalam sebuah acara seminar di kampus tempat Vanitha mengajar ternyata Ozzie memang bisa membuatnya, agak membuka diri. 

Usia Ozzie memang lebih muda tiga tahun tapi Vanitha bisa merasakan kedalaman jiwa serta pengetahuannya yang luas. Baru kali ini Vanitha menemukan seseorang yang mendekatinya dengan kepribadian yang matang.

Vanitha bahkan dengan santai bisa mendengar celoteh Ozzie yang baru membeli rumah di Bandung karena ia akan mengajar di SMK Negeri, artinya makin banyak waktu untuk berdekatan dengannya.

Anehnya Vanitha tidak keberatan mendengar pendapat Ozzie tentang dirinya secara blak-blakan.

“Kamu itu orangnya susah move on,” ujar Ozzie sembari tersenyum simpul.

Vanitha menggangguk dan menjawab, “Itu benar, saya hanya berusaha untuk setia.”

“Setia dan susah move on itu jauh berbeda, Nona!” seru Ozzie makin melebarkan senyumnya. Kumis tipis di atas bibirnya pun bergerak sesuai irama. 

Vanitha tidak tersinggung. Ujaran Ozzie memang mengandung kebenaran. Sebagai seorang dosen Vanitha sudah terbiasa dengan perdebatan. Adu argument tidak mungkin membuatnya naik pitam atau dongkol.

“Maafkan bila aku berterus-terang, kamu itu dosen tercantik yang pernah aku temui,” ujar Ozzie sembari mengatupkan kedua tanggannya tanda perhormatan takzim.

Wajah Vanitha memerah hatinya pun merekah. Ia merasakan ada benang-benang ajaib yang menautkan mereka berdua hingga terasa begitu dekat dan terikat.

Tamat.

Bagian Satu

https://www.secangkirkopibersama.com/2020/10/kata-kata-elandre.html


Bagian Dua

https://www.secangkirkopibersama.com/2020/10/kata-kata-elandre-bagian-dua.html




Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

2 komentar untuk "Kata-kata Elandre (Bagian Tiga-Tamat)"

  1. Terima kasih untuk ceritanya mbak Desi☺️keren, inspiratif dan apalagi ya🙄 pokoknya mantap☺️👍

    Sayang udah tamat ya☺️ ditunggu cerita2 lainnya☺️

    BalasHapus
  2. Wahhh dah tamat 😁 bikin lagi dong 😂

    BalasHapus

Berlangganan via Email